Yang Layak Dipatuhi

Hai orang-orang yang beriman jika kamu menaati orang-orang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Yang Layak Dipatuhi

Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah pelindung mu dan Dialah, sebaik-baik penolong. Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu, tempat kembali mereka ialah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim (QS.Ali Imran: 149-151)

Salah satu dari bahaya yang mengancam orang-orang yang beriman dan masyarakat Muslim adalah berpaling dari dasar dan nilai agama untuk mencapai tujuan duniawi. Banyak masyarakat yang pada awal mulanya berada di jalan keimanan akhirnya memilih bergabung bersama masyarakat non muslim. Semua itu disebabkan kebebasan dan kemewahan material yang ada pada mereka.

Alquran mengesankan kepada mereka bahwa jika mereka lebih mengikuti jalan orang-orang Kafir daripada perintah Tuhan, maka mereka tidak akan pernah mengalami kesuksesan dalam hidup sebagai fans dan follower saja. Justru apa yang mereka lakukan tersebut akan menjadikan mereka semakin mundur.

Lawan jelas tidak ingin melihat mereka  maju dan kerugiannya justeru terletak pada masalah ini. Mereka akan kehilangan agamanya dan juga tidak mendapatkan kesuksesan di dunia. Karena itu Tuhan menyatakan kepada Orang yang beriman untuk berusaha meraih kemuliaan dan kekuasaan. Mereka tidak  boleh bergantung kepada orang-orang Kafir. Karena pertolongan dan kemenangan hanya ada di tangan Tuhan.

Menurut al-Thabari, ayat ini mengandung larangan menaati orang kafir. Yang dilarang oleh ayat ini mencakup mengikuti nasihat, menerima saran atau menerima jalan pikiran orang kafir.

Tegasnya, mengikuti keinginan orang kafir, akan berdampak buruk terhadap keagamaannya. Demikian pula orang kafir yang tidak boleh ditaati itu mencakup keseluruhan, bukan hanya musyrikin dan munafiqin tapi juga ahl al-Kitab sebagaimana ditegaskan pada ayat sebelumnya: Jika orang yang beriman mengikuti keinginan kafir, berarti mundur ke belakang.

Kekukufuran merupakan lambang kemunduran. Iman dan Islam merupakan bukti kemajuan, karena syari’ahnya mendorong umat untuk meraih kemajuan dalam berbagai hal. Itulah sebabnya orang yang ke luar dari Islam disebut murtad, alias mengalami kemunduran.

Setiap kafir merusaha menarik mu`min dari kemajuan Iman ke kemunduran. Jika orang beriman mengikuti keinginan mereka, maka sama-sama mundur pada kukufuran.:

Jika orang beriman menjadi followers terhadap orang kafir, kerugian yang akan menimpa mereka adalah kehinaan di Dunia Akhirat. Kehinaan Dunia berwujud dominasi orang kafir. Sedangkan kehinaan di Akhirat, karena terhapus amal yang disebabkan murtad.

Karena itu jika mereka ingin meraih sukses Dunia Akhirat, mereka wajib memiliki kekuatan di Dunia, mempunyai gagasan cemerlang hingga diikuti orang kafir. Jika mereka memiliki ide atau pemikiran yang cemerlang, maka orang kafir akan tunduk dan mengikuti.

Tegasnya secara tersurat ayat ini melarang mengikuti keinginan orang kafir, maka secara tersirat memerintah kaum beriman harus memiliki gagasan cemerlang, strategi yang canggih, ilmu yang luas, penemuan yang terbaru agar kaum kafir bisa tunduk.

Kalau hanya menjadi fans dan followers maka orang yang mengaku beriman itu tidak akan memiliki kekuatan. Sebab apabila mereka memiliki keungulan, barulah Allah akan memberikan pertolongan di dunia, maupun keselamatan di Akhirat kelak, sebagaimana jaminan ayat berikutnya.

Menurut al-Alusi, kalimat ini mengandung penegasan bahwa yang pantas diikuti dan dimintai adalah Allah SWT sebagai pelindung bukan sistem kafir. Kalau orang yang mengaku beriman ingin meraih kemenangan, janganlah merujuk kepada pendapat orang kafir apalagi mengikuti keinginan mereka, tapi taatilah petunjuk Allah sebagai penolong dan pelindung mutlak. Dengan kata lain, seharusnya orang beriman memiliki kemampuan meneliti situasi, kondisi serta alam jagad raya ini atas dasar gagasan Alquran.

Kajian Alquran mesti memunculkan teori yang dapat diterapkan dalam segala aspek kehidupan, sehingga terasa benar kemu’jizatannya. Persoalannya bagaimana mungkin orang yang mengaku beriman bisa memunculkan teori baru dari Alquran dan kalau mereka lebih banyak kagum kepada pemikiran yang lain.

Bagaimana mungkin kaum non Muslim bisa mengikuti gagasan mereka, kalau Alquran hanya dijadikan dalil penguat pendapat mereka. Larangan mengikuti kafir mestinya dipahami sebagai perintah menundukkan mereka terhadap keimanan. Allah SWT akan menolong orang beriman asalkan mereka tidak mengikuti keinginan kafirin.

Pengunci ayat ini, di samping mengungkap asma Allah yang Mahapenolong, juga merupakan jaminan bagi Mukmin yang hanya bergantung pada Allah, mengikuti petunjuk-Nya bakal mendapat pertolongan utama dari-Nya.

Secara historis, ayat ini masih berkaitan dengan perang uhud yang mengalami kegagalan kaum muslimin, lalu untuk apa Allah SWT tidak memberikan pertolongan langsung supaya menang ? Bukankah pada pengunci ayat ini ditegaskan Allah itu penolong paling baik ? Alah SWT bisa dan berkuasa menolong mereka kapan pun di mana pun. Namun dengan kejadian perang uhud itu harus sadar dan mesti befikir dan berikhtiar serta disiplin jangan sampai masuk ke jebakan orang orang kafir tersebut.

 

Pertolongan Allah SWT yang dianugerahkan pada Nabi pun tetrap harus menggunakan jalannya yang disebut Sunnatullah.. Dengan kata lain, Allah SWT tidak memberikan pertolongan secara instant dengan kejadian tiba-tiba musyrikin itu langsung mati tanpa sebab.

Sejatinya yang menyebabkan mereka dilanda perasaan takut adalah karena mempertuhankan selain Allah maka ketika mereka berhadapan dengan orang yang  betul betul beriman kepada Allah membuat mereka bertambah gemetar karena mereka seperti berhadapan langsung dengan Allah yang Maha Kuat melalui lawan yang mereka hadapi.

Ayat ini memberikan pencerahan aplikatif terhadap orang orang beriman bahwa pemikiran yang original yang berasal dari Alquran sebagai kalamullah akan mampu mengatasi semua pemikiran yang tidak  bersumber dari Alquran meskipun terlihat pragmatis tapi pemikiran yang tidak bersandarkan kepada Allah tidak akan mampu bertahan lama dan harus selalu mengalami update yang tetap saja menunjukkan kerapuhannya.

Orang beriman baru bisa meraih kesuksesan di Dunia apabila mampu mengartikulasikan pesan pesan moral Alquran dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan duniawi.

Mereka tidak boleh mengandalkan orang kafir untuk mengurus kehidupan Dunia mereka. Sejatinya orang kafirlah yang harus mengandalkan mereka dalam kehidupan nyata di Dunia ini baik dari aspek sosial budaya ekonomi politik dan pertahanan.

Tapi semua ini hanya bisa dicapai bila orang beriman memiliki kemampuan mendirikan negara superpower dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis Alquran.  *** Prof Dr Faisar A. Arfa,MA : Guru Besar Pascasarjana UINSU & UMSU ***