Waspada
Waspada » Pinggiran Laut Simeulue Yang Bertambah Pasca Smong, Hilang
Aceh Features Headlines WaspadaTV

Pinggiran Laut Simeulue Yang Bertambah Pasca Smong, Hilang

JUJUR tanpa mengurangi rasa duka mendalam apalagi mencederai perasaan keluarga korban peristiwa Smong (baca-Tsunami) yang melanda Aceh, sekitarnya.

Peristiwa yang membuat dunia menangis itu, merupakan keuntungan besar bagi Simeulue.

Catatan Waspada kala itu yang baru seumur jagung usai pemekaran bersama Kabupaten Bireuen tahun 1999, tertinggal jauh di bidang Infrastruktur dibanding kabupaten lain di Aceh apalagi dengan di tanah Jawa: gedung perkantoran dan fasilitas kesehatan, sekolah juga sarana jalan sangat minim kalau tidak boleh dibilang belum ada.

Alhamdulillah, asbab bencana Smong, “sekedip mata” Pemerintah Kabupaten yang saat itu dinakhodai duet taat agama, visioner dan digelar luas masyarakat di sana, ‘Bapak Pembangunan Simeulue’ Drs Darmili dan Alm Drs Ibnu Abban GT ULMA ditopang kehadiran Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksii (BRR) semua itu menjadi nyata, nyaris tuntas 100 persen, kecuali ruas jalan lingkar.

Bahkan Drs Darmili dan Drs Ibnu Aban masa itu sesuai pula Intruksi Panglima Darurat Militer Daerah (PDMD) Aceh, Mayjen Endang Suwarya dapat membangun sawit PDKS seluas sekitar 5,000 hektar dengan siasat menyisihkan sebagian Anggaran Pembangunan Belanja Kabupaten (APBK) Simeulue.

Sedangkan untuk kebutuhan mempoles infrastruktur pembangunan, bupati dan wakilnya selain menggenjot secara intens dengan menyerap secara maksimal penggunaan APBK hingga defisit, memanfaatkan dana besar yang dikelolah BRR & NGO asing yang hadir membantu memulihkan Simeulue akibat bencana Smong 2004.

Kemudian lagi rekaman Waspada di lapangan masa itu laba lain yang diperoleh Simeulue selain tadi disegi pembangunan infrastruktur yang memang sejatinya tanggung jawab pemerintah, ekonomi masyarakat Simeulue pun tertolong luar biasa.

Sekedar mengenang, tak bisa dilupakan beberapa tahun pra dan pasca Simeulue menjadi Kabupaten definitif kondisi ekonomi mayoritas penduduk Simeulue pun kala itu tergolong berada dibawah garis prasejahtera bahkan banyak yang masih eksodus ke luar Simeulue karena pacekelik.

Maklum kebanyakan penduduk Simeulue berprofesi petani cengkeh, sementara cengkeh yang awalnya menjadi komoditas andalan, disebut juga emas hitam.

Sedang jayanya, dimonopoli Badan Penyanggah & Pemasaran Cengkeh (BPPC) dampaknya ekonomi penduduk pun terjun bebas.

Namun syukur sebab akibat Smong 2004 ekonomi masyarakat menanjak tinggi.

Bahkan amatan langsung di lapangan untuk kebutuhan sandang dan pangan penduduk melimpah luar karena bantuan datang untuk rakyat Simeulue selain dari Pemerintah Indonesia juga mengalir dari lembaga donor dalam dan luar negeri, dunia mensuplai dengan jor-joran bak sederas arus gelombang Smong yang membuat masyarakat dunia sedih waktu itu.

Betapa tidak, Smong yang dipicu oleh Gempa 9,1 SR merenggut ratusan ribu nyawa manusia bahkan khusus untuk kondisi Pulau Simeulue sempat beredar isu sebelum terjangkau media massa, Simeulue tenggelam ke dasar Samudera karena memang sangat dekat dengan episentrum (pusat) gempa penyebab gelombang Smong/tsunami yang tingginya meliputi bangunan satu dua lantai.

Kemudian Simeulue yang di balik awalnya dikabarkan hilang ternyata meskipun rumah penduduk dan harta benda banyak sekali yang terbawa arus Smong, rakyat Simeulue berkat kearifan lokal mempercayai cerita turun temurun soal Smong dari orang tua dan para leluhur.

Semua selamat, korban jiwa tak sampai melebihi hitungan jari sebelah tangan.

Simeulue pun menjadi bagian trending topik masa itu.

Kearifan lokal tadi selain membuat Simeulue mendapatkan penghargaan dari PBB, United Nations Internasional Strategy For Disaster Reduction (UN ISDR) di Bangkok, Thailand tak lama dari peristiwa Smong.

Simeulue kian menjadi terkenal dan viral.

Tragedi alam, Smong selain mendatangkan keuntungan yang terurai di atas rumah penduduk Simeulue yang hilang awalnya kebanyakan terdiri konstruksi kayu beratap rumbia dan berdinding tepas lalu dibangun oleh Pemerintah Indonesia dan NGO luar jadi layak huni bahkan tak sedikit hingga permanen meski ukuran paling besar tipe 46.

Waspada yang merupakan salah satu media paling update memberitakan sisi positif dan negatif soal Simeulue mulai dari beberapa belas jam usai peristiwa Smong hingga berakhir masa rehab dan rekonstruksi memiliki beberapa catatan penting soal kondisi alam Simeulue secara umum.

Selain satu hal kecil pasca Smong, seluruh Batang Rumbiah tak berbuah hingga kemudian sampai baru sekitar 2017.

Hal aneh, pinggir laut Simeulue usai Smong 26 Desember 2004 massa itu bertambah luasnya perkiraan Waspada 10 hingga 100 an meter.

Peristiwa aneh menjadi perhatian salah seorang wartawan senior Harian Waspada Haji Adnan NS yang massa itu duduk sebagai Senator di Senayan, Jakarta.

Komentarnya tentang kondisi pantai Simeulue yang muncul pasca bencana di follow up media tak lama kemudian LIPI turun ke Simeulue melakukan penelitian.

Pernyataan peneliti LIPI yang turun ke Simeulue tak lama kemudian disiarkan, Pulau Simeulue sebelah bagian Utara yang dekat dengan episentrum gempa terangkat hingga 1,3 meter, sedangkan sebelah bagian selatan terbenam hingga 50 centi meter.

Menurut analisa para peneliti LIPI hal itu membuat sebagian daratan Pantai Simeulue bertambah dan munculnya sejumlah pulau karang ke permukaan sekitar garis Pantai Pulau Simeulue.

Nah, hari ini amatan langsung Waspada pada sejumlah daratan pantai Simeulue yang muncul pasca Smong tahun 2004 sudah hilang.

Tanda simplenya, selain rumput yang tumbuh dan juga pohon aru yang tumbuh dan ditanam di pinggiran Pantai Simeulue yang muncul kini sudah meranggas bahkan hilang disapu ombak pasang Purnama.

Diantaranya pantai yang dulunya muncul dan kini mulai hilang yang dekat dengan Kota Sinabang seputaran garis Pantai Ganting hingga Sambai, Kecamatan Teluk Dalam.

Khusus pulau karang yang tumbuh usai Smong tampak saat naik pasang tadi pagi belum ada yang hilang.

“Ini air sudah naik lagi seperti semula. Berarti ini tandahnya tanah pulau kita sudah turun lagi,” ungkap Darul, 60 tahun, warga Dusun Sibao yang sejak kecil tinggal tak pernah jauh dari laut (nelayan), Selasa (7/7) pagi.

Sejumlah sumber lain kepada Waspada tadi pagi saat mengambil foto dan video pantai Simeulue yang muncul pasca Smong dan kini hilang tersapu ombak menganggap apa yang terjadi suatu hal yang biasa ada juga yang menyebut nikmat untuk Simeulue ditarik oleh Allah akibat oknum pemimpin yang zalim dan kurang bersyukur pada Maha Pencipta.

Wallahualam Bissawab. Rahmad

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2