Paus Bungkuk Tanpa Sampah, Tengkorak 400Kg - Waspada

Paus Bungkuk Tanpa Sampah, Tengkorak 400Kg

  • Bagikan
TULANG belulang Paus Bungkuk Megaptera novaliangeae Silo Bari siap dievakuasi ke Rahmadshah Galeri Medan, Senin (20/1). Waspada/Nurkarim Nehe
TULANG belulang Paus Bungkuk Megaptera novaliangeae Silo Bari siap dievakuasi ke Rahmadshah Galeri Medan, Senin (20/1). Waspada/Nurkarim Nehe

SILAULAUT (Waspada): Paus Bungkuk Megaptera novaliangeae, Silo Baru, Silaulaut, Asahan tanpa sampah di perutnya, kini tinggal tulang belulang.

“Tak ada sampah di ususnya. Bersih,”kata pekerja Pilet Paus Bungkuk Silo Baru kepada Waspada Senin (20/1) siang.

Tim Tehnis dari Rahmadshah Galeri Medan dibantu pekerja warga tempatan antara lain Rustam Efendi, Sidik AM, Sumiaji Sampein, Syamsir, Rusli Siagian, Amat Syamsir Marpaung.

Mamalia Paus Raksasa bernama latin Megaptera Novaengliae raksasa, panjang 14 meter, berat diperkirakan 20 ton nyaris terdampar di Janggawari Silo Baru tanggal 8 Januari 2020.

Seperti dilansir Waspada sebelumnya, Kades Silo Baru Ahmad Sofyan melaporkan Rabu (8/1) sore Paus Raksasa nyaris terdampar di pantai Silo Baru.

Nelayan menghelanya ke arah laut lepas. Namun kembali lagi Jumat (10/1) tapi 5 mil ke arah selatan dari Silo Baru. Para nelayan menghelanya ke arah laut dalam lagi namun Sabtu (11/1) Paus Bungkuk ditemukan tewas di Pantai Bakau Gedabo Silaulaut.

Mutilasi

Paus Bungkuk mulai dipisahkan dagingnya dari kerangka atau mutilasi sistem Pilet Rabu (15/1). Daging dan jeroan ditanam di daratan hutan bakau, kerangka badan ke ekor dilepas tiap sendi, kecuali tulang belakang berbentuk segitiga pipih. Pekerja tidak menemukan sampah pada usus Paus.

“Bagian kepala tak boleh dipisah pisah. Berat tengkorak sekira 400Kg. Ini yang menyulitkan dievakuasi ke badan jalan,” ujar pekerja.

Secara terpisah Kades Silo Baru Ahmad Sofyan menjelaskan jadwal keberangkatan ke Medan Senin (20/1) namun ada kendala membawa tengkorak dari bibir pantai ke badan jalan melewati hutan bakau.

“Membawa tengkorak seberat 400kg dengan harus memilih jalur longgar, tentu memakan waktu. Kami tak boleh memotong satu dahanpun pohon bakau apalagi menebangnya,”tutur Ahmad Sofyan. (a10)

  • Bagikan