Turki Tolak Gencatan Senjata

Turki Tolak Gencatan Senjata
Pasukan Turki menembakkan roket dari Kota Ceylanpinar, Provinsi Sanliurfa, ke arah Kota Ras al-Ayn, Suriah, Selasa (15/10). AP

     ANKARA, Turki (Waspada): Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak usulan Amerika Serikat untuk menengahi gencatan senjata di Suriah utara. Erdogan menegaskan bahwa dirinya tidak khawatir akan sanksi-sanksi AS terkait operasi militer Turki di Suriah.

     "Mereka (AS) menyuruh kami untuk mengumumkan gencatan senjata. Kami tak pernah bisa mengumumkan gencatan senjata," kata Erdogan kepada para wartawan seperti dilansir AFP, Rabu (16/10).

     Wakil Presiden AS Mike Pence dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo akan pergi ke Ankara pada Rabu untuk mendesak Turki menghentikan serangan-serangan militernya terhadap pasukan Kurdi di Suriah. Kantor Pence menyatakan bahwa Wapres AS itu akan "menyampaikan komitmen AS untuk mencapai gencatan senjata segera dan kondisi untuk penyelesaian."

     Selain itu, Turki juga mengecam adanya "perjanjian kotor" antara milisi Kurdi dan Suriah, serta menampik tekanan global atas operasi militer mereka. Ankara menggempur Kurdi melalui Operation Peace Spring sejak 9 Oktober lalu, dan menuai kritikan dengan AS mengumumkan adanya sanksi.

     Direktur Komunikasi Turki Fahrettin Altun menekankan, mereka bakal terus menyerang kelompok teroris, termasuk di dalamnya ISIS. "Meski dunia mendukungnya atau tidak," tegas Altun.

     Altun mengklaim, milisi Kurdi sengaja melepaskan tawanan ISIS dari penjara mereka di utara Suriah guna menakuti negara Barat. "Mereka juga menargetkan sekelompok warga sipil, termasuk jurnalis, di perbatasan sebelum menjalin perjanjian kotor dengan rezim Suriah," kecam Altun.

     Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) mengumumkan aliansi dengan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad untuk bertahan dari serangan Turki. Kesepakatan itu membuat Damaskus kembali berada di kawasan utara, termasuk mengambil alih Manbij, penempatan paling signifikan sejak 2012.

     Altun juga menampik pernyataan Menteri Pertahanan AS Mark Esper yang mengatakan agresi Ankara berimbas pada kaburnya tawanan berbahaya ISIS. Dia menyebut tuduhan yang disampaikan Esper adalah ‘berita palsu’. "Tak dipungkiri karir banyak pejabat AS ditentukan pengabaian ancaman ISIS di Suriah," sindirnya.

     Dalam beberapa hari terakhir, Altun menuding ada pejabat Washington yang menggunakan pengaruh mereka untuk menciptakan kabar palsu dan menutupi kejahatan yang dilakukan YPG.

     Turki memandang YPG sebagai "teroris" karena dianggap kepanjangan Partai Rakyat Kurdistan (PKK) selaku dalang pemberontakan 1984. Altun menyatakan banyak publik di Turki kebingungan dengan pendekatan yang dilakukan AS.

     "Mereka mempertanyakan mengapa sekutu NATO kami ini tidak mendukung upaya kontra-teroris kami," keluhnya. Dia menyebut publik Turki penasaran AS tak memberikan solusi atas krisis pengungsi, maupun menentang lokasi aman bagi pengungsi Suriah. (afp/ap/And)