Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines

  • Bagikan
Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines
Iskandar Ismail, Executif Chairman Calypte Holding PTE LTD Singapura. Ist

Tak cuma lihai berdagang tenaga matahari, Iskandar Ismail kini mencoba merentas bisnis aviasi bergaya “sultan”; semua full service!

PERCAKAPAN lewat google meet selama 1 jam 35 menit adalah penunaian janji wawancara yang dimufakati sehari sebelumnya. Jadwal Iskandar Ismail, Executif Chairman Calypte Holding PTE LTD Singapura, pada Jumat 19 Juli 2024, terlalu padat. 

Sore itu ia tengah berada di Jakarta,—homebase Calypte Holding ada di Singapura—rapat dengan pihak Pertamina, membicarakan kelanjutan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bengkalis dan Pulau Sugi di Kepulauan Riau. Nilai investasi proyek ini (Bengkalis) setara Rp19 triliun.

Seorang kolega yang membuka jalur komunikasi terbatas antara KBA.ONE dan Waspada.id dengan putra tulen Bireuen, Aceh, ini memastikan bahwa Iskandar akan meluangkan waktu untuk sesi wawancara. “Jadwalnya tinggal disesuaikan aja, Bang,” kata kolega Iskandar kepada KBA.ONE dan Waspada.id.

Keesokan Sabtu 20 Juli 2024 sekitar pukul 10.10 WIB, wawancara via google meet antara KBA.ONE, Waspada.id dan Iskandar termakbul. Menariknya, di pembuka percakapan, Iskandar langsung mengunggah keprihatinannya menengok kondisi Aceh di masa kini.

Kata Iskandar, ada satu kerinduan mengapa Aceh kini tak seperti dahulu. Jika menilik sejarah masa lampau, Aceh adalah sebuah negeri yang sangat maju, masyarakatnya hidup penuh kesejahteraan.

“Tapi itu tidak terjadi seperti hari ini. Aceh yang daerahnya kaya dan hebat, kok masuk salah satu daerah termiskin. Ini tidak masuk akal. Tidak ada syarat yang menyatakan Aceh itu miskin,” ungkap Iskandar.

Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines
Iskandar (kanan) bersama Ali Mulyagusdin, mantan Dirut PT PEMA, dalam satu pertemuan di Jakarta.Ist

Bekas bankir swasta ini juga mengkritisi gaya kepemimpinan di Aceh yang dianggapnya tidak fleksibel, kurang serius, dan tak berpihak kepada kaum profesional. Situasi itu membuat orang ogah berbisnis dan berinvestasi di Aceh. Ditambah lagi kuatnya campur tangan kaum “partikelir” yang membenalu dan berkelindan dengan petinggi birokrasi. ”Mereka masih main recehan. Makanya yang perlu dibangun di Aceh bukan infrastruktur tapi karakter orangnya,” tegas putra asli Aceh ini. 

Iskandar adalah seorang entrepreneur muda. Ia memiliki ide-ide kreatif dan inovatif dalam membangun serta memperluas jejaring bisnis di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT), pertanian (agro) dan penerbangan (aviasi).

Lelaki kelahiran Bireuen 7 April 1983 ini adalah alumni SMP Negeri 1 Bireuen, SMA Negeri 1 Bireuen dan alumni Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Dari pernikahannya dengan dokter Emily Vilsa, Iskandar dikarunia tiga penerus hidupnya. Mereka adalah Adzka Aviciena Iskandar, Aldevaro Gustino Iskandar dan Xaquille Algio Iskandar.

Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines
Kedekatan Iskandar dengan keluarga.Ist

Ia mulai berkarir profesional tatkala bekerja di PLN Nias, Sumatra Utara, bagian monitoring dan pemantauan proyek tahun 2006 hingga 2009. Lalu, masuk dan bergabung dengan tim mitigasi. Sebelumnya, Iskandar pernah bekerja di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.

Dari Nias, Iskandar hijrah bekerja pada bank swasta CIMB Niaga Banda Aceh, tak lama, sekitar satu tahun. Kariernya terus melompat hingga ia dipercaya menjadi Kepala Bank Danamon Banda Aceh pada akhir 2011 sampai pertengahan 2012. “Kemudian saya mendapat tawaran bekerja di Bank Mega Jakarta hingga pada titik tertentu saya memutuskan pensiun bekerja di bank,” kenang Iskandar. 

Suatu hari tanpa sengaja, ketika baru kembali dari Aceh, Iskandar bertemu seorang nasabahnya yang tengah mengembangkan proyek kelistrikan. Keduanya membahas krisis listrik yang saat itu melanda Aceh. Bahkan, di ujung obrolan, Iskandar ditawarkan untuk bergabung membangun perusahaan kelistrikan di Aceh. 

Nasabahnya itu meminta Iskandar mempelajari dan mengkaji tentang kelistrikan di Aceh, termasuk apa-apa saja yang perlu diinvestasikan di bisnis itu. Setelah pertemuan itu, ia pulang ke Aceh, bertemu dengan pihak PLN Aceh. 

Dari Aceh, Iskandar terbang lagi ke Jakarta, bertemu dengan PLN Jakarta. “Dari hasil pertemuan itulah saya sampaikan ke nasabah saya tentang data kelistrikan di Aceh. Ia tertarik dan akhirnya mengajak saya bergabung di perusahaannya dengan posisi sebagai kepala departemen. Tawaran gajinya lumayan besar,” cerita Iskandar. 

Pertemuan Iskandar dengan nasabahnya adalah jalan pembuka bagi dirinya untuk mengakhiri karier di dunia perbankan pada 2015. Ia dan koleganya itu mulai mengembangkan proyek kelistrikan di Indonesia dan lumayan berhasil. 

Pendek cerita, kata Iskandar, di bisnis kelistrikan ini ia menemukan banyak hal baru, termasuk mitra kerja dari dalam hingga luar negeri. Jejaring itulah yang membuat ia tergoda dan semakin tertantang untuk bermimpi lebih besar lagi. Ia pun pamit dan berpisah jalan dengan mantan nasabahnya itu karena diajak bergabung membangun perusahaan listrik di Indonesia oleh investor dari Jepang.

Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines
Iskandar dan jajaran direksi Calypte Holding bertemu Moeldoko di Kantor Staf Kepresidenan RI di Jakarta.Ist

Setelah dua tahun bergabung dan banyak hal yang dihasilkan, akhirnya Iskandar memutuskan membuat perusahaan kelistrikan sendiri. “Waktu itu saya berpikir, yang menjalankan perusahaan saya, yang membuat program saya, kenapa saya menjadi alat untuk maju dan memperkaya orang lain?” katanya. 

Dari situ, Iskandar nekat mendirikan company sendiri di Indonesia. Tapi, untuk mendanai itu selama sekitar enam bulan lebih, tabungannya di bank tergerus; ludes. “Tujuh bulan merintis perusahaan sendiri dan belum mendapat investor sampai habis uang saya. Bahkan saya sempat berpikir untuk pulang ke Aceh,” ungkap Iskandar. 

Sempat bertungkus lumus di Jakarta membangun perusahaan sendiri, akhirnya Iskandar menemukan jalan penerang menuju tunel bisnis EBT. 

Di awal pandemi Covid-19, Iskandar bertemu temannya seorang Singapura yang pernah menjadi konsultan di perusahaan ketika menjalankan proyek terakhir. “Kita ngobrol dan muncul satu ide untuk membangun perusahaan di Singapura. Kita akan mengembangkan pembangkit listrik besar-besaran di sana,” ujar Iskandar. 

Latar ide itu bermula dari derasnya informasi bahwa Singapura akan mengimpor listrik dari luar (Indonesia) karena mereka defisit. Pembangkit listrik terbesar di Singapura saat ini adalah dari gas. ”Mereka defisit karena pasokan gas dari Pulau Natuna dibatasi. Singapura sangat bergantung dengan Natuna soal itu,” kata Iskandar.  

Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines
Penandatanganan MOU antara Calypte Holding dan Annica Holding, kesepakatan jual beli listrik lintas negara (Indonesia-Singapura).Ist

Membaca kondisi itu, Iskandar terbang ke Singapura melakukan kajian. Di perjalanan, ia bertemu Randy Bimantoro, putra sulung Jenderal Muldoko, Kepala Staf Kepresidenan RI. “Tanpa sengaja saat itu saya pinjam korek, kami sama-sama perokok, dan berlanjut dengan obrolan bisnis. Rupanya, ia tertarik dengan proyek yang akan saya kembangkan hingga akhirnya ikut bergabung,” kenang Iskandar.

Sembari menyesap rokok—ia merokok seperti bernapas—Iskandar mulai mengumpulkan kembali ingatannya tentang permulaan Calypte Holding dirintis dari awal 2020 di tengah pandemi Covid-19. “Kita resmikan legalitas company kami itu di Singapura pada Oktober 2022,” tegas Iskandar. 

Mengapa Singapura? Menurut Iskandar karena Singapura gudangnya investasi dan teknologi. Bahkan, perusahaan Eropa dan Amerika banyak yang legalitasnya juga dibuat di Singapura meski proyeknya dikembangkan di luar Singapura. “Sistem perpajakan di Singapura itu jauh lebih baik dari kita. Di Indonesia, kita bayar pajak tapi kesal dengan pajaknya,” kata Iskandar.

Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines
Penandatanganan MOU antara Calypte Holding dan Powerchina Resource untuk kerjasama proyek Sugi Solar Farm 2500 MW. Ist

Calypte Holding adalah perusahaan yang mengembangkan tiga sayap bisnis utama yaitu bidang energi, pertanian dan aviasi. Bidang energi yang dikembangkan saat ini, jelas Iskandar, adalah EBT yaitu PLTS dengan skala gigawatt. “Kita proyeksikan dalam 10 tahun ini akan membangun di enam lokasi untuk tenaga surya di Indonesia dan kita bangun dua pembangkit panas bumi di Myanmar,” katanya.

Di Indonesia, lanjut Iskandar, untuk tenaga surya yang sedang dijalankan oleh Calypte Holding baru dua yaitu di Bengkalis dan Pulau Sugi Kepulauan Riau. Dari Bengkalis, PLTS berkapasitas 1.500 megawatt ini kelak akan menyuplai ke jaringan PLN di Sumatra dan ke dalam kawasan Pertamina.

Konstruksi PLTS Bengkalis—bekerja sama dengan China General Nuclear—akan dimulai pada 2025 dan diharapkan selesai pada September 2027. Saat ini sedang masuk pada tahapan pembebasan lahan.
Sedangkan di Pulau Sugi, Kabupaten Karimun, Kepri, akan dibangun PLTS bertenaga 2.500 megawatt. “Ini akan menjadi pembangkit tenaga surya terbesar di dunia. Kita akan bekerja sama dengan salah satu BUMN dari China,” kata Iskandar meyakinkan. 

Khusus Pulau Sugi, lanjut Iskandar, proyeksinya ada dua yaitu pertama listrik yang dihasilkan akan diekspor ke Singapura melalui kabel bawah laut dan kedua akan menyuplai untuk plan hydrogen. “Karena di Pulau Sugi kita bekerja sama dengan BUMN dari Prancis yang akan membangun plan hydrogen di sana untuk menghasilkan green amoniak dan green hydrogen”.

Di ruang pikiran Iskandar, bisnis EBT ini cukup menjanjikan. Selain harganya murah, ramah lingkungan, tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK), “Juga tak ada saingan di sini (Indonesia),” ungkap Iskandar sumringah. 

Tapi, kata dia, untuk membangun sebuah pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas gigawatt diperlukan dana jumbo, angkanya mencapai triliunan rupiah. “Yang mahal itu di perangkatnya. Untuk investasi pembangkit tenaga surya diprediksi sekitar 660 ribu sampai 700 ribu US dolar per megawatt-nya,” rinci Iskandar.

Feedback-nya, “Di Bengkalis kita akan menyerap sedikitnya 4.500 orang tenaga teknis dan 2.000 lebih tenaga non teknis. Sedangkan di Pulau Sugi kita membutuhkan 8920 orang tenaga tehnis. Di pulau ini kita sudah masuk pada tahap pembebasan lahan juga, sama seperti Bengkalis,” janji Iskandar.

Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines

Royal Jeumpa Airlines

Cita-cita Iskandar dan para sejawatnya di Calypte Holding Singapura tak hanya terpacak di bisnis energi baru terbarukan. Rupanya, kini mereka tengah “uji nyali” merambah bisnis penerbangan. “Kita akan membangun satu maskapai baru, namanya Royal Jeumpa Airline,” tegas Iskandar mengumbar plan bisnis barunya.

Penyematan diksi “Jeumpa” di merek maskapai itu diambil dari nama kecamatan di Kabupaten Bireuen, Aceh. Ada rentetan sejarah panjang pada kata Jeumpa itu. “Ini bentuk antipatinya kita kepada Garuda Indonesia dan sebagai bentuk kekecewaan rakyat Aceh terhadap Indonesia kala itu,” ujar Iskandar dengan nada tenor. 

Lalu, dia menukil sejarah setelah Indonesia merdeka. Saat itu Jakarta dan Jogja direbut oleh Belanda. Soekarno pindah dan menetap di Bireuen pada 17-18 Juni 1948. Sebelumnya, pada 16 Juni 1948, Soekarno tiba di Kutaradja (kini Banda Aceh).

Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines
sumber Historia

Di depan para tokoh Aceh, di antaranya Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Tengku Muhammad Daud Beureueh, Soekarno “ngambek” tidak mau makan. Ia minta dibelikan pesawat terbang. Saat itu kas negara rentan dan kosong.  

Singkat cerita, kata Iskandar, berkat bantuan dan pengaruh dari Tengku Muhammad Daud Beureueh, dalam waktu tidak begitu lama maka terkumpullah emas puluhan kilogram dari para saudagar dan rakyat Aceh. Kemudian, dibelikanlah pesawat C-47 Dakota dari Singapura.  

Sebagai tanda terima kasih kepada rakyat Aceh, pesawat itu diberi nama Seulawah RI-001. Seulawah adalah nama gunung di Aceh. “Presiden Soekarno banyak berjanji untuk Aceh tapi tak dipenuhi sampai akhirnya pesawat itu diserahkan dan menjadi cikal bakal maskapai Garuda Indonesia. Inilah mengapa kami selipkan kata Jeumpa di bisnis aviasi kami. Ya karena ada sejarahnya di Jeumpa Bireuen,” kenang Iskandar.  

Royal Jeumpa Airlines (RJA) direncanakan akan terbang ke 35 kota dari penerbangan domestik, sisanya ke Australia, Amerika dan Eropa . “Rute terpanjang kita adalah dari Jakarta ke LA,” katanya.

Maskapai penerbangan RJA ini direncanakan terbang perdana pada Februari 2025 dengan rute Jakarta-Seuol Korea Selatan. Pada tahun pertama, kata Iskandar, RJA akan mengoperasikan 5 armada jenis Air Bus. 

Harga tiket RJA di bawah harga Singapura Airline tapi service nya di atas maskapai negara tetangga itu. “Slogan kita di Royal Jeumpa Airline ini adalah terbang layaknya bangsawan. Jadi, mulai dari datang ke bandara sampai saat terbang dan pulang, kita akan dilayani full service,” tutup Iskandar.

Ramadan MS/Rizaldi Anwar


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

Jalan Berliku Bisnis Iskandar; Dari EBT Hingga Royal Jeumpa Airlines

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *