Atasi Krisis Energi Listrik Lewat PLTN - Waspada

Atasi Krisis Energi Listrik Lewat PLTN

  • Bagikan

TANGERANG SELATAN (Waspada): Belum meratanya pemenuhan kebutuhan energi listrik di Indonesia, membuat pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) menjadi sangat penting. Tambahan lagi, kebutuhan energi listrik terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka kebutuhan akan energi listrik juga meningkat,” ujar Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (BATAN), Agus Sumaryanto usai memberi sambutan pada International Conference on Nuclear Energy Technologies and Sciences (ICONETS) di Kawasan Nuklir Serpong, Puspiptek, Tangsel, Rabu (8/9).

Namun perlu disadari bahwa selama ini sumber energi listrik di Indonesia didominasi oleh sumber energi fosil yang dapat meningkatkan emisi karbon. Di sisi lain Indonesia bersama beberapa negara di dunia bertekad untuk mengurangi emisi karbonnya.Pada tahun 2030, Indonesia akan menurunkan emisi karbon sebesar 1,02 miliar ton atau setara dengan 41 persen.

Untuk menjawab kebutuhan EBT yang relatif aman dari emisi karbon, maka pemerintah terus berupaya mewujudkan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Dalam hal ini, nuklir dimasukkan ke dalam kelompok EBT yang nantinya diharapkan dapat berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional.

Agus juga mengingatkan bahwa keberadaan PLTN bukan menjadi pesaing dari sumber energi listrik yang ada saat ini, namun justru menjadi pelengkap dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional.

Pemerintah menargetkan hingga tahun 2025, EBT berkontribusi sebesar 23% yang di dalamnya terdapat PLTN.

“Di sini nuklir menjadi bauran energi dengan yang lainnya, dan jangan salah mengerti bahwa nuklir itu menjadi pesaing, justru namanya baruan energi, satu dengan yang lainnya saling mengisi,” tambahnya.

Agus menegaskan, andaikan PLTN dibangun bukan berarti nuklir menggantikan sumber energi listrik lainnya, justru nuklir akan saling melengkapi dan berkontribusi dalam membantu pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional. Oleh karenanya nuklir harus segera menjadi pertimbangan sebagai sumber energi listrik yang bersinergi dengan sumber energi listrik lainnya untuk memenuhi kebutuhan energi listrik nasional.

Hal senada dikatakan Perekayasa Utama BATAN, Dhandhang Purwadi, PLTN tidak seperti energi bauran lainnya yang bersifat intermittent atau tergantung situasi. Misalnya pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga angin, sangat bergantung pada kondisi sinar matahari dan angin yang berhembus.

“Perlu harmonisasi antara PLTN dengan sumber energi listrik lainnya, artinya bagi daerah-daerah yang menggunakan listrik tenaga surya misalnya dapat dibantu dengan PLTN skala kecil. Jadi apabila listrik tenaga surya kurang optimal karena cuaca maka PLTN menggantikan pasokan listriknya,” kata Dhandhang.

Di sinilah menurut Dhandhang terlihat bahwa keberadaan PLTN bukan menjadi pesaing bagi sumber energi listrik lainnya namun justru menjadi saling sinergi yang harmonis dan saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan energi listrik. Harapannya, bauran energi harus dikembangkan secara bersama dari semua sumber energi yang dapat menghasilkan listrik.

Namun demikian, kekhawatiran masyarakat terhadap kesiapan Indonesia dalam membangun PLTN baik dari sisi sumber daya manusia maupun penguasaan teknologinya menjadi tantangan bagi para pemangku kepentingan. Oleh karena itulah, melalui seminar ICONET, kata ketua panitia seminar, Jupiter Sitorus Pane, menjadi ajang untuk menyosialisasikan perkembangan dan penguasaan teknologi nuklir kepada masyarakat.

“Melalui seminar kerja sama antara BATAN dengan Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) ini kita menyampaikan kepada masyarakat terkait perkembangan teknologi nuklir khususnya yang dikuasai oleh BATAN,” ujar Jupiter.

Dengan diselenggarakannya seminar internasional ini, Jupiter berharap status perkembangan setiap penelitian yang dilakukan khususnya terkait pemanfaatan teknologi nuklir di bidang energi. Data perkembangan penelitian inilah nantinya akan dijadikan sebagai database terkait penguasaan teknologi nuklir di bidang energi.

“Ketika pada saatnya nanti pemerintah menyatakan go-nuclear, kita sudah mempunyai database yang kita kuasai dalam mendukung pembangunan PLTN,” pungkas Jupiter.(J02)

  • Bagikan