YAP Tewas Setelah Dipukul Dengan 'Sakkalan' 

YAP Tewas Setelah Dipukul Dengan ‘Sakkalan’

  • Bagikan
Para tersangka saat memerankan adegan dalam rekonstruksi tewasnya YAP di komplek Perumahan PT Bridgestone Sumatera Rubber Estate (PT BSRE) Dolok Merangir, Kec. Dolok Batunanggar, Kab. Simalungun. YAP Tewas Setelah Dipukul Dengan 'Sakkalan'. Waspada/Ist
Para tersangka saat memerankan adegan dalam rekonstruksi tewasnya YAP di komplek Perumahan PT Bridgestone Sumatera Rubber Estate (PT BSRE) Dolok Merangir, Kec. Dolok Batunanggar, Kab. Simalungun. YAP Tewas Setelah Dipukul Dengan 'Sakkalan'. Waspada/Ist

SIMALUNGUN (Waspada): Satuan Reskrim Polres Simalungun menggelar rekonstruksi terkait tewasnya YAP, 21, warga komplek SD 2 Serbalawan, Kelurahan Serbalawan, Kec. Dolok Batunanggar, Kab. Simalungun, Senin (4/1).

Rekonstruksi digelar di halaman kantor Sat Reskrim Polres Simalungun, Pematangraya, disaksikan Kapolres Simalungun AKBP Agus Waluyo, dengan menghadirkan 6 tersangka, khusus pelaku di bawah umur dengan didampingi Bapas/Litmas Kelas IA Medan, pihak Kejari Simalungun, Kasat Reskrim AKP Rachmat Aribowo, keluarga korban, keluarga tersangka, pengacara tersangka dan mendapat pengawalan ketat dari personel Polres Simalungun.

Rekonstruksi berjalan tertib, aman dan lancar. Setidaknya ada 25 adegan yang diperankan para tersangka terkait peristiwa diduga penganiayaan terhadap korban YAP hingga meninggal dunia di TKP, di komplek Perumahan PT Bridgestone Sumatera Rubber Estate (PT BSRE) Dolok Merangir, Kec. Dolok Batunanggar, Kab. Simalungun.

Kejadian itu terjadi Minggu (27/12/2020) dini hari. Berawal tersangka HN sebagai pemilik rumah bersama dua anaknya masih di bawah umur (keduanya juga ditetapkan sebagai tersangka) yang baru pulang dari Medan memergoki YAP/korban sedang berada di dalam rumah. YAP masuk rumah tanpa izin dan diduga tengah melakukan pencurian.

Dalam rekonstruksi itu peran masing-masing tersangka sebanyak 6 orang dapat diketahui, mulai dari penangkapan korban dan hingga korban tidak berdaya oleh tersangka HN dan 2 anaknya masih di bawah umur serta 3 orang tersangka lainnya, berinisial HSD, HS dan SPL merupakan security PT. BSRE.

Dalam adegan ke-12, korban sempat mengigit paha sebelah kiri tersangka HSD (security), padahal posisi korban telungkup saat itu dan sudah dalam keadaan kakinya terikat.

Sebelumnya, dalam adegan 8-9, korban sempat hendak melarikan diri namun berhasil diamankan tersangka HN dan dua anaknya, sembari berteriak “maling”…”maling” yang mengundang datangnya HSD dan HS serta SPL ikut membantu melumpuhkan korban.

Di adegan ke 21, saat korban coba meronta dan berusaha melepaskan diri, tersangka HN mengambil telenan (sakkalan, Bhs. Batak) terbuat dari kayu keras yang berada dekat dengan kepala korban dan memukulkannya sebanyak satu kali ke bagian kepala korban, hingga akhirnya korban tak berkutik lagi.

Setelahnya, HN memanggil security ZN dan SA untuk memborgol korban (diduga pencuri), pada saat itu korban tak berkutik lagi dan diduga sudah meninggal dunia diperkuat oleh keterangan SA yang mencoba mengecek nadi pada leher korban dan mengetahui bahwa nadi korban tidak berdenyut lagi.

Petugas Polsek Serbelawan setelah mendapat laporan langsung terjun ke TKP mendapati korban sudah tidak bernyawa lagi.

Jadi Pelajaran

Usai menyaksikan gelar rekonstruksi tewasnya YAP,  Kapolres Simalungun AKBP Agus Waluyo, menyampaikan peristiwa tewasnya YAP menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat.

Ketika mendapati seorang melakukan tindak pidana  sebagaimana contoh pelaku pencurian, kita semua tidak berhak untuk mengadili maupun menghakimi pelaku yang diduga melakukan pencurian dengan melakukan penganiayaan hingga meninggal dunia.

“Semua warga negara secara hukum mendapat perlakuan yang sama (pasal 27 UUD 1945) dan semua orang memiliki hak hidup yang dilindungi UU No 39 Tentang Hak Azasi Manusia,” kata Kapolres.

“Jadi saya imbau jika masyarakat mendapati atau menemukan terduga pelaku pencurian maka serahkanlah kepada pihak Kepolisian terdekat,” tandasnya lagi.

Sementara, Kasat Reskrim Polres Simalungun AKP Rachmat Aribowo, menyampaikan bahwa kasus tewasnya YAP banyak mendapat perhatian masyarakat dan warga netizen dan sempat menimbulkan asumsi negatif terhadap pihak kepolisian.

“Polisi hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberi kepastian hukum dan saya berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” ujar Rachmat.(a27)

 

  • Bagikan