Webinar Jurnalistik UNA, Tepat Dahulu, Cepat Kemudian

  • Bagikan

 

KISARAN (Waspada) : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Prodi Bahasa Indonesia Universitas Asahan menggelar Webinar Jurnalistik “Peran Kejurnalistikan dalam Membangun Mahasiswa Penggerak Literasi Digital Sastra dan Budaya di Era New Normal”, Jumat (11/12).

Seminar kali ini menampilkan pembicara dari berbagai kalangan seperti Nurkarim Nehe praktisi jurnalistik (Pengurus Pleno PWI Sumut/Kabiro Waspada wil Astara), Hasan Al Banna, Penulis/Sastrawan Media Nasional, Andi Hutagalung, Film maker/Fotografer Profesional, dan Sarifuddin Lubis MPd, Ketua Asosiasi Guru Bahasa Indonesia (AGBI) Sumut. Seminar diawali dengan sambutan Dekan FKIP, Ely Uzir, M.S yang dibuka secara resmi oleh Pj Rektor UNA, Prof. Dr. Tri Harsono, M.Si.

Tri Harsono dalam sambutannya berharap alumni FKIP UNA dapat menyerap ilmu yang akan disampaikan oleh para pemateri dan dapat mengaplikasikannya sekaligus jika sudah menjadi alumni. Keempat ilmu tersebut, jurnalistik, fotografi, bahasa, sastra, dan budaya.

“Kemerdekaan berbicara menumbuhkan karakter, maka jadilah wartawan yang profesional dan berkarakter,” ujar Prof Tri Harsono.

Nurkarim Nehe sebagai pembicara pembuka menjelaskan pada dasarnya jurnalistik kegiatan berhubungan dengan kewartawanan berupa aktivitas menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa. Jurnalistik terdiri dari dua organ yakni wartawan (jurnalis) dan media (perusahaan publikasi). Keduanya ini saling bergantung karena memiliki peran melengkapi antara satu dengan lainnya. Tanpa wartawan tidak ada barita, dan tanpa media mustahil ada karya jurnalistik.

Dalam hal membangun mahasiswa penggerak literasi digital khususnya bidang sastra dan budaya, jurnalistik secara normatif berperan sebagai media publikasi kegiatan para mahasiswa yang konsen pada sastra dan budaya. Ketersediaan informasi sastra dan budaya yang dimuat di media digital sebagai karya jurnalistik sangat berperan untuk menggugah dan meningkatkan literasi digital para mahasiswa.

Namun kenyataan yang tak bisa dipungkiri, media berbasis digital saat ini kurang tertarik untuk menyediakan rubrik untuk sastra dan budaya. Bahkan media arus utama sekalipun nampaknya enggan melirik halaman digital khusus itu. Padahal peminat sastra dan budaya, cukup banyak di tengah-tengah masyarakat.

Minimnya porsi rubrik di media merupakan salah satu faktor penghambat literasi digital di kampus dengan mahasiswa sebagai penggeraknya. Solusinya, media sebagai penghasil produk jurnalistik seyogyanya memberikan ruang dan waktu bagi mahasiswa untuk mengisi kolom sastra dan budaya sebagai motivasi bagi mereka untuk menggerakkan literasi digital di kampus.

“Di Harian Waspada masih menyediakan rubrik seni, budaya, dan sastra, silakan jika adik-adik mahasiswa ingin mengisinya. Prodi ini juga bisa melakukan MoU dengan Waspada.id sebagai produk digital jurnalistik, wadah bagi UNA adik-adik untuk mengembangkan literasi digital sastra dan budaya,” ungkap Nehe.

Sementara, Andi Hutagalung dalam paparannya menerangkan dalam fotografi penting untuk melatih kemampuan melihat sesuatu dengan rinci, khususnya kejadian yang ingin diliput. Perlu katanya membiasakan melihat peristiwa dalam jangkauan berbeda, luas (long), medium (menengah), dan sempit (close up/extrame).

Teorinya ungkap Andi, ada metode “EDFAT” dalam fotojurnalistik. Entire (keseluruhan) dengan cara mengambil gambar secara keseluruhan kejadian. Dalam foto ini memperkenalkan subjek foto dan lingkungannya kepada khalayak. Jurnalis katanya dapat mengambil foto dengan long eksposure sekitar 4,5 meter dan fokus pada sebagian orang sebagai lingkungan.

“Ambil foto dengan frame horizontal, vertikal, terus bergerak mencoba berbagai macam komposisi, ambil juga medium shoot atau jenis framingnya,” jelas Andi.

Selanjutnya Details (rinci), fotografer dapat bergerak maju mendekati objek detail, berinteraksi, untuk mendapatkan detail mata, rambut, perlengkapan, elemen visual yang dapat memberikan ciri khusus, dan cari poin menariknya. Berikutnya Frame (bingkai), dengan mengatur komposisi dengan elemen di sekeliling subjek baik itu background atau foreground.

Angle (sudut), agar mengatur sudut pengambilan dari berbagai arah, atas, bawah, dekat, jauh, dan ambil mimik subjek sehingga mendapat karakter subjek yang dikenal dengan potret kepribadian. Time (waktu), fotografer hendaknya memakai waktu dan kesempatan yang ada dengan baik, karena mungkin kejadian tidak akan terulang. Selain itu, dapat mengeksplor rincian lengkap kejadian tersebut.

Sementara, Hasan Al Banna memberi judul paparannya “Pergulatan Untuk Tidak Saltik (Typo) sejak Pikiran”. Sastrawan ini mengutip pernyataan Rosihan Anwar, ‘Bahasa jurnalistik sebagai salah satu ragam bahasa yang memiliki sifat khas, singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Lalu timbul pertanyaan kata Banna, mengapa jurnalistik harus berdiri di antara kebakuan (tulisan) dengan kelonggaran (lisan).

“Karena bahasa jurnalistik harus terjangkau seluruh lapisan masyarakat sebab pembaca media tidak seragam,” ungkap Hasan Al Banna.

Memasuki jurnalistik di era digital, semua dihadapkan pada kecepatan yang sering sekali mengabaikan ketepatan. Banyak ketidaktepatan bahasa yang ditampilkan di berita berujung pada kasus hukum.

Semuanya harus dimulai dari hal-hal terkecil seperti peletakan tanda baca, titik, koma, seru, tanya. Bila salah meletakkan tanda baca, maka pengertian kalimat itu bisa berbeda.

Contoh katanya, kalimat ‘Ada kabar burung Pak Amat mati’. Ada kabar burung, Pak Amat mati (berarti Pak Amat mati), Ada kabar, burung Pak Amat mati (berarti burung Pak Amat yang mati). Contoh lain ‘sudah aman kan’. Sudah, amankan (penyelesaian masalah ilegal), sudah aman, kan?(situasi aman).

“Jurnalis hebat berawal dari hal-hal kecil, kecepatan menyebabkan manusia yang tidak ketepatan, ketepatan harus didahulukan dari kecepatan, ‘tepat dahulu, cepat kemudian’,” urai Hasan Al Banna.

Sementara, Sarifuddin Lubis M.Pd mengatakan masyarakat banyak berasumsi, literasi hanya sebatas menulis dan membaca, padahal era new normal ini, literasi juga berarti kecakapan menggunakan, memanfaatkan, mengontrol, dan mengawasi, digital (dalam jaringan). Masyarakat terutama mahasiswa diwajibkan cakap dalam digital untuk mencari peluang dari tantangan zaman yang semakin pesat.

Satu contoh kata Sarifuddin, dirinya pernah naik angkutan online dari Medan ke Binjai dengan pengemudi wanita pada pukul 22.00. Wanita itu memanfaatkan digital untuk melangsungkan kehidupan mencari nafkah, bahkan di masa pendemi, pendapatannya masih cukup untuk keluarga.

“Kalau ada yang mengatakan sulit cari kerja, peluang sedikit, itu karena mereka tidak menguasai digital, kalau kita mau, pasti ada jalan dan rejeki,” ucap Sarifuddin.

Sarifuddin menutup, sudah saatnya Prodi Bahasa Indonesia FKIP UNA memiliki media digital sendiri untuk mempublikasikan hasil karya para mahasiswa. Tidak perlu web atau portal yang rumit, web sederhana dan gratis banyak tersedia.

“Benar kata Pak Nehe, sampai saat ini Harian Waspada konsisten dengan halaman sastra dan budaya, ini bisa dimanfaatkan mahasiswa dan dosen FKIP UNA, apalagi Pak Nehe sudah memberi sinyal Prodi Sastra dan Bahasa Indonesia FKIP UNA bekerjasama dengan Waspada dalam hal literasi di kalangam mahasiswa,”tandas Lubis.

Seminar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan diskusi. Para peserta dari mahasiswa, dosen, dan umum cukup antusias mengajukan pertanyaan yang langsung dijawab secara ringkas dan padat oleh para pemateri.(a21/a02).

Waspada/Rasudin Sihotang
Dosen Prodi Sastra dan Bahasa Indonesia FKIP UNA Kisaran Rina Hayati mencecar semua narasumber dengan pertanyaan strategis terkait rubrik, foto, etika jurnalistik. Kabiro Waspada Nurkarim Nehe yang juga pengurus Pleno PWI Sumut selaku salah satu narasumber menyimak seksama

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.