Waspada
Waspada » Warga Perkirakan Pasang Mulai Mematah
Sumut

Warga Perkirakan Pasang Mulai Mematah

TAMPAK pasang dalam menggenangi lantai tempat usaha pedagang di Labuhan Ruku Kec Talawi, Batubara, Senin pagi (19/10). Warga perkirakan pasang dalam mulai mematah. Waspada/Iwan Has
TAMPAK pasang dalam menggenangi lantai tempat usaha pedagang di Labuhan Ruku Kec Talawi, Batubara, Senin pagi (19/10). Warga perkirakan pasang dalam mulai mematah. Waspada/Iwan Has

LABUHANRUKU (Waspada): Warga perkirakan pasang dalam atau pasang rob melanda wilayah pesisir Kab Batubara terakhir Senin (19/10). Sebab sudah mulai mematah memasuki pasang mati.

“Kita perkirakan pagi tadi terakhir pasang dalam. Sebab kondisi pasang sudah mulai mematah memasuki pasang mati. Kedalamannya juga mulai berkurang jika terjadi pasang,” sebut beberapa warga Labuhan Ruku, Kec Talawi terkait pasang dalam melanda wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Iqbal, pasang dari laut tersebut mulai terjadi Jum’at hingga Senin (16-19/10). Selain menggenangi sebagian kawasan tempat tinggal penduduk juga sarana dan prasarana umum jalan, perkantoran maupun, sekolah, sedangkan kondisi kedalaman pasang paling parah terjadi waktu subuh/pagi bila dibanding waktu sore, bahkan masuk ke dalam rumah dan ruko, membuat warga terpaksa bekerja ekstra menyelamatkan perabotan rumah ke tempat lebih tinggi agar tidak rusak terendam air laut, akibatnya mengganggu aktivitas pedagang.

“Jika pasang sore, tempat jualan/usaha kami tidak sampai terendam. Sebab genangan pasang hanya sebatas jalan. Namun beda pasang di waktu subuh, lantai ruko tempat usaha terendam dengan ketinggian lebih sejengkal sehingga mengganggu aktivitas,” ujarnya.

Pasang dalam melanda kawasan pesisir pantai Batubara kerap terjadi dan sudah biasa dirasakan warga khususnya yang bertempat tinggal berdekatan dengan sungai maupun alur Kuala Batubara.

Namun ketinggian pasang dinilai makin bertambah besar bila dibanding yang terjadi beberapa tahun lalu, genangan pasang tidak sampai ke pinggir Jalinsum.

“Mungkin ini sudah makin punahnya tempat resapan air dan hutan bakau dampak perkembangan pemukiman dan pembangunan,” ujarnya.

Begitu juga areal hutan mangrove dimanfaatkan sebagai perkebunan kelapa sawit menutup anak sungai dan alur parit tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar menjadi sasaran pasang.

Warga berharap adanya upaya membangun sabuk pengaman, apakah membenteng pinggir sungai agar pemukiman penduduk dapat terhindar dari sasaran pasang.(a18)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2