Waspada
Waspada » Warga Keluhkan Beras Sembako Berkutu Dan Berbau
Sumut

Warga Keluhkan Beras Sembako Berkutu Dan Berbau

Foto Kolase, Beras berkutu yang dibagikan Pemkab Toba lewat program sembako dibandingkan dengan beras Bulog kualitas premium yang dibeli dari Bulog. Waspada/Ramsiana Gultom

TOBA (Waspada): Warga keluhkan beras sembako berkutu dan berbau yang dibagikan Pemkab Toba kepada warga yang terdampak COVID-19.

Pembagian beras sembako tahap pertama disoal karena mutunya yang buruk, selain berbau juga berkutu.

Berdasarkan keterangan warga Kelurahan Sangkarnihuta, J Napitupulu, sebagai salah seorang penerima sembako tahap pertama menyesalkan buruknya kualiatas beras kemasan 10 Kg yang dibagikan Pemkab. Adapun beras yang diterima dengan Merk Taruna MO Balige. Di bagian bawah goni didapat terdapat tulisan “Mutu Terjamin”.

“Sebelum menerima sembako sudah sempat saya stok beras di rumah. Begitu habis, barulah beras bantuan Pemkab saya buka. Saya terkejut melihat kualitas beras yang berbau dan berkutu,” tutur Napitupulu ketika dikonfirmasi Waspada, Senin (18/5).

Selain Napitupulu, warga lainnya, E. Sinaga, Warga Kelurahan Pardede Onan juga mengeluhkan hal senada. Sinaga bahkan menduga beras uang diterimanya merupakan beras Catu. Dan warga keluhkan beras sembako berkutu dan berbau itu.

“Saat beras dimasak dan mendidih, aroma beras catunya sangat menyengat. Selain berbau, juga sangat gersang. Sangat tidak enak dimakan. Kita duga beras itu merupakan beras Catu yang dioplos oleh penyedia,” imbuhnya.

Tidak Dikonsumsi

Akibat tak layak konsumsi, Sinaga memilih tak mengkonsumsi beras bantuan tersebut.

“Sampai hari ini beras bantuan itu tidak kami konsumsi. Saya kuatir, saat kita makan, kita bukannya makin sehat, tapi menjadi sakit. Padahal saat pandemi corona melanda, pemerintah menyarankan kita untuk mengkonsumsi makanan bergizi,” aku Sinaga.

Menindak lanjuti keluhan warga, dihari yang sama Waspada melakukan penelusuran ke Gudang Bulog Balige di Desa Tambunan. Kepala Gudang Bulog Balige,  A. Siregar mengakui Pemkab Toba atas nama Dinas Sosial melakukan pembelian beras Bulog kualitas premium sebanyak 665 sak.

“Benar Dinas Sosial membeli 665 sak kemasan 10 Kg, tapi kualitas premium dengan harga Rp10.400 per Kilogramnya. Kita lakukan pengantaran tertanggal 14 April lalu. Saya pastikan, semua beras dari Bulog itu tidak ada yang berbau dan berkutu busuk. Sebab beras itu baru kita beli langsung dari kilang padi di sekitaran Toba ini,” tegas Siregar.

Kadis Sosial, Rajaipan Sinurat ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya terkait beras berbau tersebut mengaku terkejut. Kepada Waspada, Rajipan mengaku membeli 665 karung beras dari Bulog dengan kualitas premium seharga Rp. 10.400/Kg, sementara sisanya, dari rekanan Dinas Sosial CV. Hosing.

“Dari 3.800 paket sembako yang kita bagikan, 665 karung beras itu dari Bulog, sisanya dari CV. Hosing selaku mitra kita. Dari awal kita pesan beras ke CV. Hosing adalah kualitas premium dengan harga Rp. 11.500/Kg nya,” kata Rajaipan.

Rajaipan juga kecewa dengan adanya temuan beras berkualitas buruk yang diterima warga. Selaku Kadis Sosial, Rajaipan mengaku tidak ada terlibat dalam permainan beras bantuan tersebut.

“Saya pastikan kami di Dinas Sosial tidak ada ikut bermain dalam hal penyediaan beras ini. Saya sangat kecewa dengan adanya temuan seperti ini, sebab dari awal kita memesan beras dengan kualitas premium. Pun demikian, jika ada warga yang belum mengkonsumsi beras tersebut, silahkan diantar ke Dinas Sosial, kita akan minta penyedia untuk menggantinya,” paparnya.

Dari informasi yang beredar di Toba, sejumlah wartawan juga mengaku menerima beras dari Kominfo dengan kualitas yang berkutu dan berbau. (a36)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2