TNGL Memanas Walhi Terkepung Di Dalam Kawasan Hutan - Waspada

TNGL Memanas Walhi Terkepung Di Dalam Kawasan Hutan

  • Bagikan
MOBIL dinas Polsek Besitang mengawal proses evakuasi anggota Walhi dari kawasan TNGL. Waspada/Ist

BESITANG (Waspada): Massa Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK) tolak kehadiran rombongan sejumlah orang yang mengaku dari Kedatukan Besitang bersama Walhi Nasional dan Walhi Sumut di kawasan TNGL Resort Sekoci, Kec. Besitang, Sabtu (25/1).

Suasan memanas, sebab massa yang sudah emosi kabarnya sempat membongkar akses jembatan di kawasan Sei. Bamban. Seorang petugas BBTNGL Lembang Hutasoit turun ke lokasi, namun yang bersangkutan tak dapat berbuat banyak untuk menetralisir keadaan.

Menjelang sore, massa dengan membawa berbagai senjata tajam terus berdatangan hingga membuat suasana kian mencekam. Walhi Nasional, Oslan Purba bersama tiga orang Walhi Sumut, yakni Rian Purba, Rulianro, Doni Latuprisa, terkepung selama beberapa jam dan tak mendapat akses jalan keluar.

Sejumlah personil Polsek Besitang yang dipimpin Kapolsek AKP Adi Alfian, SH begitu mendapat laporan tentang peristiwa ini segera meluncur ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan menggunakan satu unit mobil double cabin serta beberapa sepeda motor.

Untuk mengantisipasi tindakan anarkistis, petugas berupaya melakukan pendekatan persuasif guna menenangkan anggota kelompok tani. Menjelang magrib, rombongan Kedatukan bersama anggota Walhi akhirnya berhasil dievakuasi dari kawasan hutan hujan tropis dataran rendah tersebut.

Walhi Nasional, Oslan Purba menyatakan rasa terimakasihnya kepada aparat kepolisian yang telah mengevakuasi mereka dengan selamat ke luar dari kawasan hutan. “Terimakasih kepada polisi yang telah bergerak cepat,” ujar mantan Sekjen Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) itu.

Oslan mengatakan niat mereka datang ke TNGL untuk memenuhi undangan Kedatukan Besitang, tidak ada niatan lain. “Sebenarnya kami ingin menyelesaikan konflik di dalam dengan skema perhutan sosial yang berbasis konservasi. Kami sebenarnya sudah mengantongi kerjasama dengan TNGL terakit konservasi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Kedatukan Besitang, dulu pernah berencana mengajukan kemitraan konservasi, tapi di tengah jalan mereka ini pecah, di mana yang satu menolak kemitraan konservasi setelah klausul kerjasama tak pas, akan tetapi sebagiannya lagi menerima.

“Kita datang ingin diskusi, melihat situasinya seperti apa, apa kemungkinan-kemungkinan untuk melestarikan hutan dan skema-skema yang disediakan negara kan bisa menjadi opsi sebetulnya. Tapi, belum sempat kita diskusi banyak, tiba-tiba datang sekelompok orang mengintimidasi,” ujarnya.

Humas Balai Besar TNGL, Sudiro, menjawab Waspada, Minggu (26/1) menegaskan, tidak ada hubungan kemitraan antara TNGL dengan Kedatukan Besitang. “Selama ini tidak ada kemitraan antara Kedatukan dengan TNGL,” ujarnya singkat.

Menyinggung apakah Walhi yang turut serta mendampingi Kedatukan Besitang sudah mendapat izin resmi dari TNGL memasuki kawasan hutan, ia tampaknya belum bersedia menjelaskan. “Saya masih berada di lapangan dan besok aja datang ke kantor,” sarannya. (a02)

  • Bagikan