Tidak Dilayani Beli BBM Pakai Jerigen, Nelayan Asahan Kibar Bendera Putih

Tidak Dilayani Beli BBM Pakai Jerigen, Nelayan Asahan Kibar Bendera Putih

  • Bagikan
Nelayan tradisional di Desa Silau Baru, Kec Silau Laut, Kab Asahan mengibarkan bendera putih, karena tidak bisa melaut karena kelangkaan BBM tidak bisa membeli menggunakan jerigen, Waspada/Sapriadi
Nelayan tradisional di Desa Silau Baru, Kec Silau Laut, Kab Asahan mengibarkan bendera putih, karena tidak bisa melaut karena kelangkaan BBM tidak bisa membeli menggunakan jerigen, Waspada/Sapriadi

KISARAN (Waspada): Karena tidak dilayani oleh SPBU membeli BBM jenis solar atau bio solar, dikarenakan kelangkaan, akibatnya nelayan di kec Silau Laut Kab Asahan menjerit dengan mengibarkan bendera putih, karena tidak bisa melaut sedangkan kebutuhan ekonomi keluarga harus terpenuhi.

Hal itu diungkapkan salah satu nelayan dan juga Kepala Desa Silo Baru Ahmad Sofyan, saat berbincang dengan Waspada, Jumat (15/10) menurutnya situasi ini sudah berjalan 15 hari, sehingga banyak nelayan menunda pergi melaut, dikarenakan keterbatasan BBM.

“Bila situasi ini terus berjalan bagaimana nasib para nelayan, mau dikasih makan apa keluarganya,” keluh Sofyan.

Menurut Sofyan, biasanya SPBU mau melayani pembelian BBM pakai jerigen bila ada surat keterangan dari Kades setempat dan diperuntukkan bagi nelayan, namun saat ini SPBU menolaknya karena ketersediaan BBM terbatas, namun kebijakan itu tentunya sangat merugikan nelayan yang menyambung hidup di tengah laut.

“Akibatnya perekonomian masyarakat terus terpuruk,” jelas Sofyan.

Sofyan mengatakan bila ada SPBU Nelayan di wilayah, tentunya masalah ini tidak terjadi, padahal wilayah Kec Silau Laut merupakan wilayah pesisir dan semua penduduk sebagai nelayan. Sofyan menerangkan, bahwa ada pembawa solar atau Bio Solar, namun harganya sekitar Rp 8.000-8.500 per liter, dan harga itu naik dari harga sebelumnya Rp 7.000-7.500 per liter. Akibatnya menambah ongkos produksi bagi nelayan, sedangkan untuk saat ini hasil laut menurun.

“Banyak nelayan yang menjerit, kalau dipaksakan melaut, hasil laut tidak sesuai dengan pengeluaran, sehingga banyak nelayan mengeluh,” jelas Sofyan.

Oleh sebab itu, Sofyan mengharapkan ini menjadi perhatian serius untuk menemukan solusinya, sehingga nelayan dan keluarga bisa diselamatkan dari keterpurukan.

“Ini masalah serius, kita membutuhkan solusi secepatnya,” jelas Sofyan. (a02/a19/a20)


  • Bagikan