TBS Tembus Rp2.350, Petani Merdeka Tapi "Terjajah"

TBS Tembus Rp2.350, Petani Merdeka Tapi “Terjajah”

  • Bagikan
Para pekerja sedang menimbang sawit dari petani di Kel Dadimulyo, Kec Kisaran Barat, Kab Asahan. Waspada/Ist
Para pekerja sedang menimbang sawit dari petani di Kel Dadimulyo, Kec Kisaran Barat, Kab Asahan. Waspada/Ist

KISARAN (Waspada): Harga CPO dunia melonjak, sehingga harga Tanda Buah Sawit (TBS) ikut naik dengan angka tertinggi selama dua tahun Rp2.350 per kilogram, sehingga para petani merasa merdeka, namun demikian terasa “terjajah” dikarenakan saat ini musim trek (tidak musim berbuah).

Humas salah satu PKS di Asahan Herman saat dikonfirmasi Waspada.id, menyebutkan untuk saat ini memang permintaan CPO dunia tinggi, dan diperkirakan menyentuh harga tertinggi Rp12.800-Rp12.900 per kilogram. Dengan demikian, sehingga harga TBS merangkak naik. 

                                             

“Ini bukan masalah trek atau bukan, namun saat ini harga permintaan CPO dunia cukup tinggi, sehingga diprediksi harga TBS akan terus naik,” jelas Herman. 

Menurut Herman, harga CPO ini bisa bertahan hingga akhir 2021 ini, untuk selanjutnya belum dipastikan apakah tetap naik atau turun. Karena hukum perdagangan semakin tinggi permintaan maka harga semakin tinggi. 

“Untuk kelanjutan belum bisa diprediksi, namun besar kemungkinan selama 2021 ini harga CPO tetap tinggi,” jelas Herman. 

Sedangkan salah satu agen sawit (Pemegang DO di PKS) A Ong, atau yang akrab disapa Budi, menuturkan harga jual ke PKS mencapai Rp2.350 per kilogram, dan harga ini tertinggi selama 2020-2021. Selain harga tinggi, saat ini juga musim  trek. Padahal berdasarkan data dan geografis ada pergeseran musim, biasanya musim trek itu di awal tahun (Januari-Maret). Selain harga TBS, kata Budi, harga berondolan sawit cukup tinggi Rp3.100 per kilogram. 

“Memang saat ini harga TBS merupakan harga tertinggi, karena biasanya tahun lalu harga tertinggi Rp1.800-Rp2.000 dan kembali turun lagi,” jelas Budi. 

Sedangkan salah satu petani sawit Heru Sihotang, saat ditemui Waspada.id menyebutkan, harga sawit memang tinggi, dan dirinya menjual ke agen Rp2.000 per kilogram, harga ini memang tertinggi ke agen, namun dirinya merasa “terjajah” karena sawitnya tidak mampu berbuat banyak, akibat musim trek. Sehingga para petani tidak bisa sepenuhnya menikmati hasil panen. 

Menurutnya bila musim buah, 1 hektare  lahan sawit bisa menghasilkan 1 ton sawit, namun karena musim trek turun hingga 60 persen, atau sekitar 400 kg setiap hektare, dan bila tidak dirawat (pupuk) makan bisa mencapai 200 kg setiap hektare. 

“Harga sawit tinggi, kami merdeka, tapi rasanya masih dijajah oleh musim trek,” jelas Heru. (a02/a19/a20


  • Bagikan