Si Jum, Nasi Jumat Membawa Berkat Untuk Umat

Si Jum, Nasi Jumat Membawa Berkat Untuk Umat

  • Bagikan
Kaum ibu memberi pelayanan Si Jum. Waspada/Riswan Rika
Kaum ibu memberi pelayanan Si Jum. Waspada/Riswan Rika

Siapa Si Jum, rasa kepingin tahu dan mengenal Si Jum yang selalu ditemui setiap Jumat di Kota Binjai dengan membagi nasi gratis kepada jamaah Jumat. Sudah tiga masjid perjalanan Si Jum, belum juga berhasil ditemui. Ketika pencarian ketiga di Masjid Silaturahim, saat menemui petugas pembagi nasi ditambah minuman, Saya menerima dan sembari bertanya mau ketemu Si Jum.

“Kalau mau kenal Si Jum, silakan ketemu dengan Ustad Saring Pratomo,” ujar seorang ibu sembari menunjukkan kepada orang yang bernama Ustad Saring Pratomo. Kebetulah ustad itu cukup saya kenal dan selalu bersama di organisasi Majelis Ulama Indonesia ( MUI) Kota Binjai.

Ketika saya katakan mau ketemu Si Jum, Ustad Saring hanya senyum, ”Sekarang sudah dipegang, kenapa belum kenal,” ujarnya, sembari menunjuk kepada kotak nasi yang Saya pegang. Di luar dugaan sama sekali bahwa Si Jum bukan nama orang, tetapi singkatan dari Nasi Jumat.

Ustad Saring Pratomo memulai kisah Si Jum di Kota Binjai, ternyata sudah dimulai sejak 2018. Si Jum merupakan Yayasan NNasi Jumat Indonesia yang diprakarsai Andre Raditya dan sekarang sudah punya 402 dapur operasional di Indonesia yang tersebar di 82 kota. Untuk Sumatera Utara Si Jum beroperasi di Kota Binjai, Tebingtinggi dan Rantauprapat.

Bertemu dengan orang tua Si Jum, diketahui mereka membagikan nasi jumat paling sedikit 200 bungkus/kotak. Dananya diperoleh dari donasi umat yang mau bersedekah, berinfaq, setiap bungkus/kotak nilainya Rp10 ribu. “Kalau dana dari donasi masuk ke rekening Si Jum, semuanya kami penuhi dan dapur Si Jum di Kota Binjai berlokasi di Jalan Teluk Betung. Yang bekerja untuk meramu dan memasak dikordinir istri Ustad Saring, dibantu masyarakat yang mau menuai amal.

Pembagian Si Jum di Masjid At Tohirin Binjai. Waspada/Riswan Rika

Di Kota Binjai, Si Jum tidak mutlak sebagai nasi Jumat, jika ada pengajian dan pertemuan umat Islam atau pendidikan, Si Jum siap membantu. ”Kalau di luar Jumat, kami akan buka donasi khusus, jika diperlukan 100 paket, kami umumkan melalui WA kepada donatur, jika sudah cukup dana untuk 100 paket, donasi kami tutup,” ujarnya. Kalau donasi yang masuk kurang, kami penuhi secara pribadi, tambahnya.

Ustad Saring Pratomo menjelaskan, ketika akan membagikan Si Jum di Masjid Attohirin, Jalan T. Amir Hamzah, Jumat (8/10), kami targetkan 500 paket, ternyata yang masuk lebih, sehingga disiapkan nasi 750 paket ditambah bubur dan minuman es timun yang semuanya sudah dikemas.

Ternyata konsep Si Jum yang dipelopori Andre Raditya awalnya hanya sebuah amalan Riyadhoh pribadi. Seperti dijelaskannya, Andre melalui pimpinan Si Jum Binjai Ustad Saring Pratomo, saat itu dia dalam keadaan bangkrut, dalam keadaan susah, hutang banyak, dan dalam keadaan yang tak berdaya. Saat di mana Allah tutup jalan rezeki kami sebab kesalahan dan maksiat kami di masa lalu. Sampai seolah rezeki Allah itu menjauh. Di titik itu, sampai rela meletakkan ego dan jualan keliling, dan pulang dengan untung Rp20 ribu sehari pun dilakukan .

Menurut Andre Raditya, sampai ketika ada di titik batas, dia tak mau lagi pakai cara ala manusia. “Saya mau cara Allah saja, saya mau cara langitan saja. Dulu sewaktu ngaji di pondok, guru saya pernah suatu kali bercerita tentang amalan memberi makan. Nasihat ini yang saya pikirkan. Saya mau sedekah saja. Saya mau dengan sedekah, Allah jadikan kami sekeluarga mudah rezeki. Pokoknya intinya saya lagi mau dagang ke Allah. Udah capek dagang ke manusia yang kadang rugi kadang untung,” ujarnya.

Kemudian Andre bertanya kepada ustad, bolehkah bersedekah nasi untuk makan siang di masjid? Dan begitu Ustad bilang boleh. Alhamdulillah. Dia langsung ambil tabungan yang hanya tinggal Rp280 ribu dan ke pasar, belanja bahan makanan dan dibungkusin menjadi 40 bungkus nasi saat itu.

Menurut pengakuannya, menjelang Dzuhur sudah selesai persiapan, lalu ditaruh di teras masjid dan kasih tulisan, Gratis untuk jama’ah Sholat Jumat. Tak sampai 10 menit habis “Dagangan” kami tadi. Dan saya buru-buru doa. “Ya Allah, semoga amal kami terhitung amal shaleh. Dan jadi sebab kemudahan kami menjemput rezeki Mu ya Allah”. Dan benar, selang 4 jam, ada kabar dari klien lama yang selama ini pembayarannya saya tunggu tak kunjung datang. Hari itu ditransfer. Subhanallah, bersyukur saya.

Jalan beberapa tahun, menurut Andre seperti dituturkan Saring Pratomo, dirasakan dampak sedekah di hari Jumat. Kehidupan membaik, dan rezeki perlahan mulai lancar. Kebiasaan berbagi Nasi Jumat mulai jadi ruh aktivitas. Seolah-olah, tiap waktu ya hanya untuk nungguin hari Jumat datang, melayani jamaah dan masak buat jamaah sholat Jumat. Dan Masjid pun mulai ramai. Orang mulai saling mengabarkan. Dari 40 bungkus jadi ratusan dan selalu habis.

Lantas banyak yang ingin menirunya, dipersilahkan dan serta merta tumbuhlah komunitas Sijum. Yang karena Allah, saat ini telah ada di ratusan kota. Di hampir semua provinsi di tanah air dan Timor Leste. Melayani lebih dari 300 masjid dan pondok yatim dari ratusan dapur operasional di setiap wilayah. Sijum jadi wasilah pertolongan Allah bagi banyak keluarga bermasalah. Dan benar adanya. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak yang bertemu dengan kemudahan dan keajaiban rezeki setelah berkhidmat di Sijum.

Ustad Saring Pratomo mengemukakan, menyelesaikan masalah besar umat manusia adalah memunculkan kepedulian. Siapa yang lapar, maka yang berlebih harus mau mengenyangkan. Dan Si Jum Binjai selain menyiapkan nasi Jumat, juga memprogram nasi gratis di Kota Binjai. ”Program tambahan ini sudah dirancang, hanya menunggu waktu saja memulainya. Rencananya di depan Tugu Merdeka yang dinilai pantas dan strategis, pinggir jalan dan ada ruang tempat duduk ,” ujar Ny. Saring Pratomo

Dengan demikian, mau seperti apapun musibah besar yang dihadapi umat manusia, kita semua bisa melaluinya bersama. Kenyangkan perut saudara kita, maka niat jahat akan diredam, tak ada kriminalitas disebabkan lapar atau perut. Kenyangkan perut rakyat, maka pemimpin bisa bekerja dengan tenang. Sederhana, tapi butuh hati lapang dan kemauan. Kita mulai dari dapur rumah kita. Dari kantong kita sendiri. Sedekah Rp10 ribu untuk satu porsi makanan. Mari bersedeqah melalui Si Jum, moga jadi wasilah kemudahan. Amin ya Rabbal Alamin. (WASPADA/Riswan Rika)

  • Bagikan