Seleksi PPPK Asahan, Dua Orang Reaktif
banner 325x300

Seleksi PPPK Asahan, Dua Orang Reaktif

  • Bagikan
Peserta seleksi PPPK tenaga pengajar sedang mengikuti ujian Kompetensi di SMK Negeri 2 Kisaran. Waspada/Sapriadi
Peserta seleksi PPPK tenaga pengajar sedang mengikuti ujian Kompetensi di SMK Negeri 2 Kisaran. Waspada/Sapriadi

KISARAN (Waspada): Hari kedua seleksi Kompetensi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk tenaga pengajar, ditemukan satu lagi peserta hasil rapid test antigen reaktif sehingga total ada dua orang dinyatakan akan mengikuti ujian susulan.

“Hari pertama kita temukan satu orang dan sekarang satu orang lagi, sehingga ada dua orang hasil rapid test antigen reaktif,” jelas Kadis Pendidikan Kab Asahan Sofian, melalui Kabid Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PTK) Juhari, saat berbincang dengan Waspada, Selasa (14/9).

Menurut Juhari, jumlah itu mungkin bertambah, karena pemeriksaan rapid test antigen dilakukan kepada semua peserta seleksi kompetensi PPPK sebanyak 1.301 orang, berakhir pada Rabu (15/9). Sedangkan ujian dimulai 13-16 September, yang berlokasi di SMA Negeri 2 Kisaran dan SMK Negeri 2 Kisaran.

“Peserta yang reaktif tetap dilakukan pemeriksaan lanjutan, dan bila hasil pemeriksaan medis yang bersangkutan bisa mengikuti ujian, maka akan dilakukan ujian susulan pada Sabtu (18/9),” jelas Juhari.

3 Kesempatan

Juhari juga menjelaskan, bahwa peserta seleksi masuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk tenaga pengajar punya tiga kesempatan untuk lulus, namun persyaratan dan peraturan mengikat sesuai dengan ketentuan.

“Untuk seleksi PPPK dibagi dalam tiga tahapan, sehingga peserta mempunyai tiga kesempatan untuk lulus,” jelas Juhari.

Namun demikian, berdasarkan Juknis dari Kemendikbudristek ada aturan yang mengikat, jelas Juhari, peserta ujian PPPK tahap ini adalah adalah guru sekolah negeri (Honorer K2 atau digaji oleh Pemkab) terdata di Dapodik Desember 2019, berumur 59 tahun kebawah sebanyak 1.301 orang. Kesempatan itu berlaku bila ujian tahap pertama 507 formasi tidak dipenuhi, sehingga dibuka tahap kedua, dan ketiga hingga dengan mekanisme pendaftaran seperti semula.

“Namun bila ujian tahap pertama 507 formasi terpenuhi, maka tahap kedua dan ketiga tidak dilakukan lagi,” jelas Juhari.

Oleh sebab itu, setiap peserta guru honorer semua haknya bisa dipenuhi, tentunya diatur dalam mekanisme dan peraturan yang berlaku.

“Diharapkan para guru honor ini bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, sehingga bisa lulus dalam PPPK tenaga pengajar,” jelas Juhari. (a02/a19/a20)


  • Bagikan