Rio, Mahasiswa Hafiz Quran Berjiwa Mandiri Dari Madina

  • Bagikan
Rio Anggara, mahasiswa FDIK UIN Syahada Padangsidimpuan saat jadi imam di Masjid Tazmilal Azhar, Jalan Tandang Mulia Harahap, Sidimpuan Baru, Kota Padangsidimpuan. Waspada /ist.
Rio Anggara, mahasiswa FDIK UIN Syahada Padangsidimpuan saat jadi imam di Masjid Tazmilal Azhar, Jalan Tandang Mulia Harahap, Sidimpuan Baru, Kota Padangsidimpuan. Waspada /ist.

“Jika tinggal di masjid, tentu lebih hemat, mandiri, ibadah dan terhindar dari hal-hal negatif,”

Tidak ingin jadi beban bagi orang tua, meskipun masih menempuh pendidikan, Rio Anggara, warga Desa Singkuang, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal memilih hidup mandiri menjadi marbot (penjaga masjid) sambil kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (Syahada) Padangsidimpuan.

Rio yang lahir 23 Januari 2003 di Singkuang dan merupakan anak pertama dari 4 bersaudara, Rabu (09/10/2024) mengungkapkan, pada saat ia berusia 12 tahun (kelas V SD), tepatnya pada tahun 2013, ayahnya, Sutino, yang menjadi tulang punggung bagi keluarga mereka, meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya.

Kepergian sang ayah menghadap Illahi Rabbi, yang semasa hidupnya bekerja sebagai karyawan perusahaan perkebunan kelapa sawit, membuat kehidupan keluarga Rio berubah drastis. Ibunya, Jumraini Tanjung, yang sehari-hari hanya penjual es lilin, sangat terpukul dengan kepergian sang suami.

Tiga tahun setelah kepergian sang suami tercinta, tepatnya pada tahun 2016, ibunda Rio menjual sebidang tanah untuk modal usaha membuka warung kebutuhan sehari-hari agar bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Dapat dibayangkan, harga tanah di Singkuang yang merupakan daerah terpencil di wilayah Pantai Barat, Mandailing Natal cukup rendah jika dibandingkan dengan daerah perkotaan.

Rio, Mahasiswa Hafiz Quran Berjiwa Mandiri Dari Madina
Rio Anggara, mahasiswa FDIK UIN Syahada Padangsidimpuan foto di depan Masjid Tazmilal Azhar, Padangsidimpuan. Waspada/ist.

Usaha yang dibuka ibunya secara perlahan mengalami peningkatan sehingga Jumraini Tanjung mampu menyekolahkan keempat orang anaknya. (Rio Anggara, Sri Rahayu, Rino Angriawan dan Syifa Nabila).

Usai dari SMP, Rio Anggara melanjutkan pendidikan ke Pesantren Al-Fatih Singkuang. Di pesantren ini, anak pertama dari pasangan Sutino dan Jumraini Tanjung yang tergolong cerdas, digembleng dengan pendidikan Islam. “Semasa di Pesantren saya sudah hafiz Qur’an 15 Juz dan pernah meraih Juara 2 Tilawah Al-Quran tingkat kecamatan,” ujar Rio.

Usai menyelesaikan pendidikan di Pesantren Al-Fatih, Rio Anggara pada awalnya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Pulau Jawa, namun ibunya tidak merestui karena terlalu jauh. “Nanti kalo kau sakit tidak ada yang mengurusnya dan juga jauh untuk dijenguk,” kata ibunya kepada Rio saat itu.

Setelah berembuk dengan ibunya, Rio yang bertekad harus melanjutkan pendidikan, kemudian memilih kuliah di UIN Syahada Padangsidimpuan. Diketahui, UIN Syahada Padangsidimpuan memiliki program Mahad Al-Jamiyah (pesantren kampus) yang mengharuskan seluruh mahasiswa baru untuk masuk asrama selama satu tahun yakni dari semester 1 sampai semester 2.

Dalam 2 semester itu, mahasiswa digembleng dengan penguatan ajaran agama Islam dan pembentukan karekter. Setiap mahasiswa harus pandai baca Al-Qur’an, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tentu keharusan pandai baca Al-Qur’an dan bahasa Arab tidaklah menjadi kendala bagi Rio, karena dia merupakan alumni pesantren yang sudah Hafiz Qur’an.

Rio yang ingin hidup mandiri dan tidak ingin menjadi beban bagi ibunya, mengingat masih ada 3 adiknya yang masih sekolah, bertekad untuk tinggal di masjid. “Jika tinggal di masjid, tentu lebih hemat, mandiri, ibadah dan terhindar dari hal-hal negatif,” ungkapnya.

Tekad mahasiswa Hafiz Qur’an tersebut untuk menjadi marbot setelah keluar dari asrama Mahad Al-Jamiyah menghadapi benturan karena belum ada masjid yang menerimanya. “Saya sempat kost 5 bulan (Agustus 2022 sampai Januari 2023) di Padangmatinggi,” tuturnya.

Menurutnya, tinggal di masjid ada suka dukanya. Selain dapat membuat rasa aman, nyaman dan damai, juga menjadi tantangan tidur di masjid sendirian. “Ada kalanya saya merasa kesepian seperti di malam hari hidup sendirian, tidak ada kawan yang bisa diajak untuk berbicara,” ucapnya.

Dalam 5 bulan tinggal di kost, Rio mengajar di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Al Hidayah, Padangmatinggi, Padangsidimpuan. “Meskipun honornya kecil, setidaknya dapat tambahan untuk biaya hidup karena belanja yang dikirim ibu hanya Rp500 ribu satu bulan,” ungkapnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Rio mendapat informasi dari salah seorang dosen bahwa Masjid Tazmillal Azhar di lingkungan Komplek Sidimpuan Baru belum ada penjaganya. Tidak berapa lama kemudian, ia mendatangi masjid tersebut dengan harapan dapat diterima sebagai penjaga masjid.

Pada waktu itu, ungkap Rio, petugas masjid mengujinya dengan menjadi Imam Shalat Maghrib. Setelah melihat kemapuan Rio sebagai imam, sang penjaga masjid mengizinkan Rio tinggal di masjid tersebut. “Mereka bilang mantap imam kita ini. Jadi kata Bendahara Masjid, besoknya saya disuruh pindah ke situ,” ungkapnya.

Sejak diterima sebagai marbot, Rio yang merupakan mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK), UIN Syahada Padangsidimpuan, diangkat menjadi Imam Masjid Tazmillah Azhar, terutama untuk Shalat Maghrib dan Isya.

Rio, Mahasiswa Hafiz Quran Berjiwa Mandiri Dari Madina
Rio Anggara saat membaca Kitab Suci Al-Qur’an di dalam Masjid Tazmilal Azhar, Jalan Tandang Mulia Harahap, Sidimpuan Baru, Kota Padangsidimpuan. Waspada /ist.

Sebagai marbot yang bertugas membersihkan masjid pada waktu pagi dan sore, Rio diberi tempat tinggal gratis dan honor Rp500 ribu setiap bulan. Kemudian tidak jarang, Rio juga diberi ruang untuk jadi Khatib Shalat Jumat di masjid itu sehingga ada tambahan uang masuk baginya.

Bahkan Rio juga mengajar mengaji beberapa orang anak di sekitar lokasi Masjid Tazmillal Azhar dengan honor antara Rp50.000 sampai Rp 100.000 per orang. “Sejak tinggal masjid itu, saya tidak lagi dikirimi uang oleh ibu. Honor jaga masjid dan guru ngaji sudah cukup untuk biaya kuliah,” paparnya.

Kemudian, ungkapnya, beberapa bulan setelah menjadi marbot, tepatnya pada semester V, ia mendapatkan bea siswa Tahfiz Qur’an dari UIN Syahada Padangsidimpuan, sehingga Rio sudah bisa menabung untuk persiapan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi usai menyelesaikan pendidikan di UIN Syahada, Padangsidimpuan.

Tekad hidup mandiri yang ditunjukkan Rio, membuat ibu bangga punya anak yang memiliki semangat juang yang tinggi. Saat ini Rio sudah semester VII sedang menjalani Praktik Dakwah Lapangan. “Saya ingin merubah hidup saya menjadi lebih baik dan juga lebih mengabdi kepada Allah Swt dan tentunya juga ingin membantu orang tua saya,” ungkap Rio. WASPADA.id/Mohot Lubis.


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

Rio, Mahasiswa Hafiz Quran Berjiwa Mandiri Dari Madina

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *