Waspada
Waspada » Rindu ‘Terlarang’ Untuk Sekolah Tersayang
Sumut

Rindu ‘Terlarang’ Untuk Sekolah Tersayang

“Kapan Corona pergi ayah, kata kawan abang semalam, anak-anak Corona udah pergi semua, tinggal ayah-ayahnya aja,” tanya anak itu polos menatap wajah sembari menggoyangkan tangan ayahnya.

Fathan, nama panggilannya.

Anak usia delapan tahun itu kini duduk di bangku kelas II setingkat sekolah dasar di Kota Kisaran Kab Asahan Sumatera Utara. Hampir tujuh bulan lamanya, bocah bernama lengkap Fathannajat Qadlanda Sihotang ini harus ‘menggantungkan’ seragam merah putihnya demi menaati kebijakan pemerintah belajar dari rumah (dalam jaringan).

Awalnya sih senang, bisa belajar dari rumah tanpa harus capek-capek ke sekolah, serasa semi liburan gitulah. Namun belakangan, akibat terlalu lama ‘berpisah’ dengan sekolah, guru, dan teman-temannya, Fathan terlihat jenuh, bosan, dan ingin segera kembali mengenakan seragam merah putih kebanggaannya yang baru saja setahun ia pakai.

Fathan pun kerap melontarkan pertanyaan mengapa mereka harus belajar dari rumah, pakai HP lagi, padahal sebelumnya dilarang keras sang ayah.

“Corona itu kek mana bentuknya yah, kenapa kita harus selalu mencuci tangan, mengapa banyak kali orang pakai masker, sepertinya kita tinggal di planet luar ya ayah, orang-orang kok pakai topeng plastic penutup wajah, kayak makhluk luar angkasa kan yah, mengapa begini, kenapa begitu, bla..bla..bla…,” tanya Fathan terus mencecar sang ayah, Rasudin Sihotang.

Ah, bocah ini banyak kali pertanyaannya. Rasa ingin taunya mengusik ketenangan si ayah yang tengah duduk santai membaca koran. Sang ayahpun dengan bahasa ringan menerangkan, Corona adalah benda super kecil yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Corona ini temannya kuman, tapi lebih hebat, bila tidak pakai masker dan penutup wajah, serta enggak mau menjaga kebersihan, maka Corona ini akan datang dan menyerang tubuh manusia. Sehingga bisa menyebabkan jatuh sakit dan paling parah adalah kematian.

Untuk itu, si Ayah meminta kepada sang buah hati supaya selalu menjaga kebersihan dengan sering mencuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, jaga jarak saat bermain, sering minun jus, minum air putih, makan buah-buahan, sayuran, serta bila tidak ingin bermain di luar, sebaiknya berada di rumah.

“Oh gitu ya yah, Fathan udah ngerti sekarang yah, makasih ya yah,” ucapnya sembari menganggukkan kepala.

Fathan kini tau dirinya memang harus tetap di rumah untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini. Namun, sesekali anak ini meminta untuk diantarkan ke sekolah meski hanya beberapa detik untuk sekedar melepas kangen.

Pernah sekali, Fathan mencium baju ‘dinas’ kesayangannya. Entah apa yang ada di benaknya, entah apa yang dirasakannya, dan entah apa yang dibisikkannya, hanya dialah yang tahu. Namun, tersirat kerinduan yang begitu mendalam, hasrat ingin kembali berlari-lari kecil menuju rumah sekolah tercinta. Semoga bencana ini cepat berlalu, demi masa depan yang cerah untuk anak-anak Indonesia.

Rasudin Sihotang
Keterangan foto:
Waspada/Rasudin Sihotang

KANGEN SEKOLAH : Fathannajat Qadlanda Sihotang, siswa Kelas II Sekolah Dasar di Kota Kisaran Kab Asahan mencium hangat seragam merah putih miliknya. Fathan saat ini kangen mengenakan baju kebanggaannya itu ke sekolah, karena hampir tujuh bulan, tidak pernah lagi memakainya disebabkan harus belajar di rumah untuk mencegah penyebaran Pandemi Covid-19. Meski tidak bersekolah, Fathan tetap semangat belajar dari rumah dengan bimbingan kedua orang tuanya. Fathan memiliki keinginan yang kuat untuk tetap menuntut ilmu, sehingga anak polos ini kerap bertanya “Kapan Virus Corona pergi ayah,?”.

Keterangan foto:
Waspada/Rasudin Sihotang

MENGGAPAI MIMPI DI TENGAH PANDEMI: Faiza Qonita boru Sihotang, saat ini duduk di bangku taman kanak-kanak salah satu TK di Kota Kisaran Kab Asahan. Qonita demikian nama panggilannya, tetap semangat belajar menggunting kertas di rumah demi menggapai mimpi menjadi seorang disainer. Qonita senantiasa sadar mengenakan masker guna mencegah penyebaran Covid-19. Qonita berharap pandemi segera berakhir dan bersekolah lagi sebagaimana biasa.

Keterangan foto:
Waspada/Rasudin Sihotang

JENUH : Seorang mahasiswi perguruan tinggi di Kota Kisaran, Dina Aprilia, 19, jenuh dengan tuntutan tugas belajar dalam jaringan (daring). Dina kesulitan belajar dari rumah selama Pandemi Covid-19, karena baginya, tatap muka lebih menarik, mudah dijalankan, fokus, mudah mencerna pelajaran, dan dapat berdiskusi langsung dengan teman. Dina berdoa agar Pandemi Covid-19 dapat segera berakhir.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2