Waspada
Waspada » RHS Diminta Buktikan Dirinya Mampu Atasi Persoalan Banjir Dan Tanah Longsor Parapat
Sumut

RHS Diminta Buktikan Dirinya Mampu Atasi Persoalan Banjir Dan Tanah Longsor Parapat

Kondisi rumah warga setelah diterjang banjir bercampur tanah dan batu di Kelurahan Parapat, Kamis (13/5). Waspada/Ist
Kondisi rumah warga setelah diterjang banjir bercampur tanah dan batu di Kelurahan Parapat, Kamis (13/5). Waspada/Ist

 

PARAPAT (Waspada): Bupati Simalungun, Radiapoh Hasiholan Sinaga (RHS) diminta dapat membuktikan kemampuan dirinya dalam menuntaskan persoalan banjir dan tanah longsor di kawasan kota wisata Parapat Danau Toba, Kabupaten Simalungun.

Peristiwa banjir dan tanah longsor yang terjadi Kamis (13/5) sore itu, dinilai tidak semata-mata hanya disebabkan guyuran hujan deras yang melanda ibukota Kecamatan Girsang Sipanganbolon tersebut, namun pemicu banjir diduga keras akibat adanya aksi perambahan hutan di bagian perbukitan. Oleh karenanya, Bupati RHS yang belum genap 20 hari dilantik itu diharapkan mampu mengatasi atau menuntaskan persoalan banjir di kota wisata Parapat.

“Masyarakat Parapat tidak membutuhkan janji-janji, tetapi menunggu aksi dan kreasi,” ujar Sekretaris PHRI Kabupaten Simalungun, Rahimal K Noor, kepada Waspada.id, Jumat (14/5).

Sebagai warga dan juga sebagai pelaku pariwisata di kota wisata Parapat, Rahimal mengatakan saat ini warga benar-benar sangat membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten untuk menuntaskan permasalahan banjir di Parapat.

Dikatakan lagi, saat sekarang ini pasca peristiwa banjir Parapat banyak orang-orang yang cuma bisa beretorika, namun tidak satupun yang mampu membuat keputusan untuk menyelesaikan masalah sesungguhnya. Semuanya terkesan seperti lips servis, termasuk tentang kasus perambahan hutan yang tidak pernah ada solusi dan jalan keluarnya, tambah Rahimal.

Warga lainnya marga Aritonang senada mengatakan bahwa peristiwa banjir bercampur lumpur dan batu yang terjadi pada satu hari lebaran 1442 H kemarin bukan semata-mata akibat hujan deras, akan tetapi kejadian itu dipicu aksi perambahan hutan di kawasan itu.

Peristiwa banjir datang tiba-tiba, hanya beberapa menit setelah hujan deras turun. Kondisi itu membuat warga di lingkungan jalan SM Raja Parapat panik dan berhamburan keluar rumah.

Di tengah kepanikan itu, warga menyaksikan air yang turun dari bukit Bangun Dolok melalui aliran sungai yang ada di kawasan tersebut. Air bercampu lumpur dan batu meluncur deras memasuki pemukiman dan jalinsum, bahkan air sampai mencemari Danau Toba yang cukup terkenal itu.

“Kami butuh bukti nyata, bukan hanya cakap-cakap atau retorika. Buktikan kalau Bupati RHS mampu menuntaskan banjir di Parapat ini,” ujar Aritonang.

Sementara, Camat Girsang Sipanganbolon, M Yosua Simaibang, yang dihubungi menyebutkan, peristiwa banjir dan tanah longsor pada saat yang sama terjadi di tiga titik, menyusul hujan deras yang mengguyur kawasan Parapat.

Selain di kawasan Jalan SM Raja Kelurahan Parapat, kasus yang sama juga terjadi di kawasan Sualan Nagori Sibaganding dan di jembatan Siduadua (Kembar). Akibat kejadian ini, arus lalu lintas jurusan Pematangsiantar – Parapat dan sebaliknya sempat lumpuh, kemudian dialihkan ke jalur alternatif dari Simp. Sitahoan.

Camat juga mengungkapkan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Hanya ada satu rumah warga yang mengalami rusak parah hingga 70 persen karena diterjang banjir bercampur batu dan kayu berukuran besar. Sedangkan pemilik rumah yang rusak tersebut bernama Dewi Butarbutar dan untuk sementara mengungsi ke rumah keluarga lainnya.

“Hingga saat ini, kondisi di kawasan wisata Parapat sudah kondusif. Sedangkan material tanah dan bebatuan yang menimbun ruas jalan di Sualan dan di jembatan Siduadua sudah dibersihkan. Begitupun material tanah dan batu yang terbawa arus banjir di jalan SM Raja Patapat, semuanya sudah dibersihkan. Kondisi arus lalu lintas sudah berjalan normal,” ujar Yosua saat dihubungi, Jumat (14/5) petang.(a27)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2