Puncak Pasang Rob Rendam Pemukiman Warga Di Teluk Aru

  • Bagikan

BESITANG (Waspada): Puncak pasang rob yang melanda kawasan pesisir pantai di daerah Teluk Aru, Kab. Langkat, Selasa (17/5), membuat pemukiman masyarakat di wilayah pesisir itu terendam air.

Jika biasanya air pasang laut tidak sampai merambat ke pemukiman, tapi pasang rob membuat air naik dan merendam sampai ke pemukiman, bahkan air memasuki rumah warga yang berada di dataran lebih rendah.

Di Lingk IX, Kel. Bukit Kubu, Kec. Besitang, khususnya yang berada di seputar pemukiman nelayan, air pasang menggenangi sampai ke pemukiman warga. Air naik dari pukul 13:00 dan sampai pukuk 15:00 air masih bertahan.

Herlina, salah seorang ibu rumah tangga mengatakan, air pasang menggenangi seluruh ruang rumahnya, dari mulai dapur, hingga sampai ke ruang tengah. Ketinggian air, kata dia, hampir mencapai lutut orang dewasa.

Pasang besar ini sudah berlangsung selama tiga hari. Biasanya air berangsur surut saat menjelang petang. Fenomena pasang rob ini dirasakan oleh seluruh warga pesisir setiap tahun. “Ini sudah menjadi siklus tahunan,” kata warga.

Sejumlah warga merasakan repotnya untuk membereskan rumah dari sisa air kotoran yang terbawa arus masuk ke dalam rumah. Seusai pasang berlalu (surut), warga harus bekerja ekatra mengepel lantai rumah yang kotor.

Jika para ibu rumah tangga merasa pusing menghadapi pasangan rob, sejumlah remaja dan anak-anak di daerah pesisir itu malah bersukacita menghadapi momen ini dengan mandi dan berenang di alur sungai tersebut.

Para remaja, baik laki mau pun perempuan melompat dari atas jembatan eks kereta api, tanpa ada rasa takut terseret arus air yang berarus deras. Para bocah ini terlihat sangat bersahabat dengan alam yang sudah mulai tak ramah ini.

Menurut warga, sekitar sepuluh tahun yang lalu, air pasang rob jarang sampai menerobos ke pemukiman warga. Tapi, sejak anak sungai atau paluh banyak dibendung oleh oknum pengusaha, air pasang meluap sampai ke pemukiman.

Di daerah peaisir sungai Besitang, ratusan hektar areal hutan mangrove telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Kawasan rawa-rawa yang harusnya menjadi daerah serapan air, kini telah dilingkup, bahkan paluh-paluh dibendung.

Kerusakan ekosistem ini berdampak bagi warga pesisir. Selain dampak ekologi, warga pesisisir yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional juga merasakan dampak ekonomi, karena tempat pemijahan biota laut semakin menyusut. (a10)

Teks Foto: DALAM gambar terlihat seorang bocah berjalan di halaman rumah warga yang terendam pasang rob. Waspada/Asrirrais

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.