Waspada
Waspada » Polres Toba Cek Titik Koordinat Tambang Batu Ilegal Siregar Aek Nalas
Headlines Sumut

Polres Toba Cek Titik Koordinat Tambang Batu Ilegal Siregar Aek Nalas

Polisi bersama staf KPH Wilayah IV Balige turun ke Siregar Aek Nalas untuk mengambil titik koordinat lokasi tambang batu ilegal. Waspada/Ramsiana Gultom
Polisi bersama staf KPH Wilayah IV Balige turun ke Siregar Aek Nalas untuk mengambil titik koordinat lokasi tambang batu ilegal. Waspada/Ramsiana Gultom

TOBA (Waspada) : Personel Satuan Reserse (Satres) Polres Toba bersama petugas Dinas Kehutanan melakukan  peninjauan sekaligus pengambilan titik koordinat tambang batu ilegal di Toba Holbung, Desa Siregar Aek Nalas, Kec. Uluan, Kab. Toba, Sabtu (17/4).

Tiga orang pekerja yang sebelumnya ditangkap Satres Polres Toba, Jumat (16/4) turut dibawa untuk menunjukkan lokasi pengambilan batu yang turut dijadikan sebagai barang bukti.

Saat dikonfirmasi Waspada.id di lokasi, Kanit Tipidter Polres Toba, Iwan Sinaga yang memimpin rombongan mengatakan, pengambilan titik koordinat untuk menentukan apakah lokasi tersebut masuk kawasan hutan lindung atau area penggunaan lain (APL).

“Pengambilan titik koordinat ini akan berkaitan dengan penentuan pasal yang akan kita kenakan kepada tersangka, apakah undang-undang kehutanan (Undang-Undang Kehutanan Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Kerusakan Hutan) atau Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan, Mineral dan Batubara,” imbuhnya.

Lokasi tambang batu ilegal di Siregar Aek Nalas, Kec.Uluan, Kab. Toba. Polres Toba Cek Koordinat Tambang Batu Ilegal Siregar Aek Nalas . Waspada/Ramsiana Gultom
Lokasi tambang batu ilegal di Siregar Aek Nalas, Kec.Uluan, Kab. Toba. Polres Toba Cek Koordinat Tambang Batu Ilegal Siregar Aek Nalas . Waspada/Ramsiana Gultom

Ditegaskannya, jika pasal yang dikenakan adalah undang-undang pertambangan, tentu kejahatan ini tidak bisa dilakukan sendiri tapi sifatnya koorporasi. Pihaknyapun masih melakukan pengembangan terhadap keterangan tersangka.

“Makanya kita gandeng pihak kehutanan untuk mengambil titik koordinatnya hari ini,” imbuhnya.

Dari informasi yang mereka terima, biasanya ada sekitar 20 kapal yang beroperasi di lokasi Siregar Aek Nalas.

“Sayangnya saat ini mereka sedang tidak ada di lokasi, mungkin karena penangkapan yang kita lakukan kemaren sudah mereka ketahui,” paparnya.

Terkait upaya penegakan hukum, pihaknya telah melakukan penangkapan sebelumnya dan sudah 4 perkara yang duduk dan  diharapkan akan menjadi efek jera bagi para pelaku. Sayangnya, dari informasi yang mereka terima, setelah keluar dari tahanan masih kembali melakukan kejahatan serupa.

“Untuk saat ini kita masih akan terus melakukan pemantauan untuk mendapatkan pemodal usaha. Kita juga membawa serta tiga orang yang kita amankan kemaren yaitu Donal Butarbutar, Hartono Butarbutar dan Irwan Gultom untuk menunjukkan lokasi pengambilan batu. Dari keterangan mereka, titik lokasi mereka sebut berada di Toba Holbung, Desa Siregar Aek Nalas, Kec. Uluan,” pungkasnya.

Petugas KPH IV Balige, Fadil, mengaku telah selesai mengambil titik koordinat. Dia tinggal memindahkannya ke dalam komputer dan hasilnya akan dilaporkan kepada pimpinannya.

“Titik koordinatnya sudah kita ambil lalu nanti akan kita cek di komputer. Hasilnya akan kita laporkan kepada pimpinan, selanjutnya menjadi kewenang pimpinan,” tegas Fadil.

Menggantungkan Hidup Dari Menambang Batu

Hartono Butarbutar, 27 warga Siregar Aek Nalas yang berprofesi sebagai nakhoda kapal merangkap sebagai tukang bongkar muat yang turut diamankan, Jumat (16/4) menuturkan kisah sedihnya sebagai penambang batu.

Dia bersama rekan-rekannya biasanya hanya bekerja jika ada permintaan dari toke. Upah yang diterima pun terbilang kecil, hanya Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per harinya.

Kepada Waspada.id, Hartono mengaku tidak rutin membawa batu dari lokasi ke tangkahan di Balige. Dalam seminggu, bisa satu hingga tiga kali, sesuai permintaan sang toke.

“Kalau saya bergaji 100 ribu rupiah per hari, tapi anggota saya ada yang hanya mendapat upah 50 ribu dan 70 ribu, tergantung kemahiran kerjanya,” terang Hartono.

Dijelaskannya, selama ini, warga Siregar Aek Nalas menggantungkan hidup sebahagian besar dari hasil menambang batu. Pasalnya kondisi tanah di Siregar Aek Nalas sangat gersang dan tadah hujan. Hanya bisa ditanami saat musim penghujan dan hasilnyapun tidak maksimal.

“Hasil bertani tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, terpaksa kami bekerja mengambil batu demi menyambung hidup,” ujar bapak satu orang anak ini.

Dia dan rekan-rekannya hanya bisa pasrah, sebab sebelumnya sudah mengetahui kalau risiko pekerjaan tersebut, selain bertarung nyawa juga rentan tersandung hukum. (a36)

Berita terkait:

Polres Toba Tangkap 11 Orang dan 3 Kapal Berisi Batu Padas Ilegal

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2