PN Kabanjahe Gelar Sidang Pembunuhan Ketua Permata GBKP Sukanalu

PN Kabanjahe Gelar Sidang Pembunuhan Ketua Permata GBKP Sukanalu
Terdakwa Dijerat Pasal Berlapis

  • Bagikan
TERDAKWA AS saat digiring memasuki ruang sidang PN Kabanjahe. Waspada/Ist
TERDAKWA AS saat digiring memasuki ruang sidang PN Kabanjahe. Waspada/Ist

TANAH KARO (Waspada): Pengadilan Negeri (PN) Kabanjahe menggelar sidang perdana kasus pembunuhan Ketua Permata GBKP Sukanalu Yoga Wijayanta Sembiring Meliala, 23, penduduk Desa. Sukanalu Simbelang Kecamatan Barusjahe, Selasa (14/9) sekira pukul 15:50 WIB dengan menghadirkan terdakwa AS, 46 didampingi penasehat hukumnya Frengky Bukit SH.

Pelaksanaan sidang dengan Nomor :292/Pid B/2021/PN Kbj, dipimpin Ketua Majelis Hakim Sulhanudin SH MH, anggota Sanjaya Sembiring Meliala SH MH dan Adil Matogu Simarmata SH. Sedangkan Panitera Tema Ziduhu Harepa SH dan Jaksa Penuntut Umum Budi SH.

Mengawali sidang itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Budi SH langsung membacakan kronologi atas kejadian yang dialami korban, serta menguraikan fakta kejadian dan membacakan hasil visum at revertum dari Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

Dalam pembacaan dakwaan kasus penikaman Ketua Permata GBKP Sukanalu Kecamatan Barusjahe ,Yoga Wijayanta Sembiring Meliala terungkap bahwa korban mengalami sejumlah luka di bagian kening, kepala, luka pada dada sebelah kanan, luka pada paha sebelah kiri, luka pada betis kiri dan luka pada tumit sebelah kiri. Akibat luka yang dideritanya, korban mengalami lemas karena banyak mengeluarkan darah.

Sebelumnya, korban sempat menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit dan akirnya menghembuskan nafas, Kamis (29/4) lalu di Rumah Sakit Bina Kasih, Jalan TB.Simatupang Medan.

Pada sidang dakwaan, AS selaku terdakwa dijerat dengan pasal berlapis, primair Pasal 338 KUHP Subsider Pasal 355 Ayat 2 lebih Subsider Pasal 354 Subsider Pasal 351 ayat 3 dengan ancaman kurungan penjara selama 15 tahun.

Setelah JPU membacakan dakwaan kasus itu, selanjutnya Majelis Hakim menanyakan kepada terdakwa AS, apakah ada bantahan atas pembacaan dakwaan itu, atas pertanyaan Majelis Hakim yang dipimpin Hakim Ketua Sulhanudin SH MH, terdakwa tidak membantah dan menerima dakwaan. Selanjutnya kepada Penasehat Hukum terdakwa Frengky Bukit SH juga tidak melakukan mengajukan eksepsi.

Setelah mendapat jawaban dari terdakwa AS dan penasehat hukumnya, maka Majelis Hakim mengambil keputusan sidang diundur dan dilanjut satu minggu ke depan, Selasa (21/9) mendatang.

Sekedar mengingatkan, kasus ini terjadi pada Minggu (25/4) sekira jam 21:00 WIB lalu, tepatnya di Kolam Pancing Ikan dan Cafe SRP Desa. Sukanalu Simbelang, Kecamatan Barusjahe.

Peristiwa itu terjadi berawal dari, korban Yoga Wijayanta Sembiring Meliala bersama teman sesama anak Permata GBKP Sukanalu Simbelang, Piter Sitepu, 20, Yogi Ginting, 21, Jeksen Sitepu, 21, Aprendy Perangin-Angin, 20, Krisnanta Ginting, 22, Eprananta Sitepu, 21 dan Marcel Barus, 20 seusai main bola volley berkunjung ke kolam pancing ikan dan Cafe SRP dari Desa Sukajulu untuk menjumpai seseorang atas ajakan Krisnanta Ginting.

Selanjutnya, sesampi di Tempat Kejadian Perkara (TKP) sempat terjadi adu mulut antara Jeje Sitepu yang merupakan anak AS (pemlik cafe dan kolam pancing) dengan Krisnanta Ginting dan berujung perkelahian. Perkelahian itu sempat dilerai teman-teman Yoga Wijayanta Sembiring Meliala.

Namun tak berapa lama kemudian terdakwa AS tiba di TKP dengan mengendarai mobil Kijang. Sesampainya di TKP, AS langsung turun dari mobilnya dan mengeluarkan sebilah pisau dan mencari tahu penyebab keributan. Namun karena dibalut emosi, begitu melihat Eprananta Sitepu, terdakwa langsung menikamnya. Tapi karena pisau masih dibalut sarung, Eprananta Sitepu tidak mengalami luka, hanya mengalami memar.

Penikaman itu tidak sampai di situ saja, tetapi berlanjut kepada penikaman Yoga Wijayannta Sembiring, yang mengalami luka pada paha kiri akibat penikaman itu. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit Efarina Etaham di Kabanjahe dan RS Bina Kasih di Medan

Diketahui, saat sidang dakwaan berlangsung tampak hadir sejumlah anggota Permata GBKP Sukanalu Simbelang yang juga sebagai saksi korban dalam persidangan perdana itu. (c02)

  • Bagikan