Pilkada Asahan, Saksi Paslon No 1 Tolak Hasil Rekapitulasi

Pilkada Asahan, Saksi Paslon No 1 Tolak Hasil Rekapitulasi

  • Bagikan
Suasana Rapat Pleno Rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Asahan 2020. Pilkada Asahan, Saksi Paslon No 1 Tolak Hasil Rekapitulasi. Waspada/Sapriadi
Suasana Rapat Pleno Rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Asahan 2020. Pilkada Asahan, Saksi Paslon No 1 Tolak Hasil Rekapitulasi. Waspada/Sapriadi

KISARAN (Waspada): Saksi Paslon No Urut 1 Nurhajizah Marpaung – Henri Siregar (Nuri) tolak hasil Rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Asahan 2020, dengan tidak menandatangani hasil rekapitulasi, namun demikian penolakan itu tidak mempengaruhi hasil rapat dan putusan KPUD Asahan.

Penolakan itu disampaikan Saksi Paslon No urut 1 Hendi Siagian dengan meninggalkan ruang rapat pleno dan tidak menandatangani berita acara hasil Rapat Pleno yang berakhir pada Kamis (17/12) sore , saat dihubungi Waspada.id, Jumat (18/12) menuturkan, penolakan itu karena Paslon No Urut 2 Surya-Taufik Zainal Abidin (ST20) sebagai suara tertinggi saat Pilkada Asahan dinilai melakukan dugaan pelanggaran.

Pelanggaran itu secara detail dijelaskan Hendi, yaitu ada dugaan politik uang oleh Paslon no urut 2, kemudian penggalangan suara ASN di Pemkab Asahan untuk memilih Paslon No urut 2, kemudian bantuan Bansos Covid-19 dan bantuan lainnya dari dana pemerintah pusat untuk menaikkan popularitas. Kemudian pemilih di Daftar DPT tidak valid, karena ada temuan yang meninggal mendapat undangan untuk memilih.

“Itu keberatan kita, dan sudah kita sampaikan ke KPUD dan Bawaslu,” jelas Hendi.

Ditanya, apakah keberatan dilengkapi bukti, Hendi mengatakan pihaknya mempunyai bukti tersebut, dan kini sedang dipelajari untuk tindakan yang akan diambil.

“Kita tentunya mempunyai bukti-buktinya, dan kini kuasa hukum kami sedang mempelajari hal itu untuk tindakan apa yang akan diambil,” jelas Hendi.

Sedangkan Ketua KPUD Asahan Hidayat menuturkan, penolakan itu boleh dalam rapat pleno, dan itu hak para saksi Paslon peserta rapat. Namun penolakan itu tentunya tidak akan merubah hasil rapat KPUD Asahan.

“Penolakan itu tidak ada pengaruhnya dengan hasil rapat pleno,” jelas Hidayat.

Dinamisasi Politik

Sementara di lain tempat, Sekretaris Tim Pemenangan Paslon No urut 2 Surya-Taufik, Efi Irwansyah Pane, dihubungi Waspada.id, menanggapi dugaan yang disampaikan Saksi paslon No urut 1, merupakan bagian dari dinamisasi politik dalam Pilkada Asahan. Namun dirinya meminta dugaan itu bukan hanya sekedar prasangka, namun harus dilengkapi bukti yang valid.

“Menurut kami, ini bagian dari dinamisasi politik, dan itu boleh saja,” jelas Efi.

Namun demikian, Efi membantah tegas atas dugaan itu, karena pihaknya selama ini tetap berada di jalur dengan mentaati aturan Pilkada yang berlaku, dengan menggerakkan mesin partai dan relawan untuk mencari dukungan.

“Kita tetap mentaati aturan, dan tuduhan itu tidak benar,” jelas Efi.

Sebelumnya, Hasil Rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Asahan 2020 yang berlangsung selama dua hari 16-17 Desember 2020, dari tiga Paslon, Paslon No urut 2 Surya-Taufik Zainal Abidin, berhasil menduduki angka tertinggi dengan perolehan suara 139.005 suara, kemudian disusul No urut 1 Nurhajizah Marpaung – Henri Siregar (Nuri) dengan perolehan 101.124 suara, dan Paslon no urut 3 Rosmansyah – Winda Fitrika (Roswin) memperoleh angka 67.985 suara, sedangkan suara yang tidak sah sebanyak 6.168 suara (a19/a20)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *