Waspada
Waspada » Perkara Penistaan Agama 4 Nakes RSUD dr. Djasamen Saragih Dihentikan Kejari
Headlines Sumut

Perkara Penistaan Agama 4 Nakes RSUD dr. Djasamen Saragih Dihentikan Kejari

Penghentian penuntutan terhadap perkara empat tenaga kesehatan RSUD dr. Djasamen Saragih, yang diduga melakukan penistaan agama dengan cara memandikan jenazah wanita yang bukan muhrim mereka, diungkapkan Kajari Kota Pematangsiantar Agustinus Wijoyo Dososeputro (tengah), didampingi Kasi Intel BAS Faomasi Jaya Laia (kiri) dan Kasi Pidum Muhammad Chadafi Nasution (kanan) di kantor Kejari, Jl. Sutomo, Rabu (24/2). Perkara Penistaan Agama 4 Nakes RSUD dr. Djasamen Saragih Dihentikan Kejari. Waspada/Edoard Sinaga
Penghentian penuntutan terhadap perkara empat tenaga kesehatan RSUD dr. Djasamen Saragih, yang diduga melakukan penistaan agama dengan cara memandikan jenazah wanita yang bukan muhrim mereka, diungkapkan Kajari Kota Pematangsiantar Agustinus Wijoyo Dososeputro (tengah), didampingi Kasi Intel BAS Faomasi Jaya Laia (kiri) dan Kasi Pidum Muhammad Chadafi Nasution (kanan) di kantor Kejari, Jl. Sutomo, Rabu (24/2). Perkara Penistaan Agama 4 Nakes RSUD dr. Djasamen Saragih Dihentikan Kejari. Waspada/Edoard Sinaga

PEMATANGSIANTAR (Waspada): Perkara penistaan agama yang diduga dilakukan empat pria, tenaga kesehatan (Nakes) RSUD dr. Djasamen Saragih dengan cara memandikan jenazah wanita yang bukan muhrim mereka, dihentikan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Pematangsiantar.

“Penghentian perkara sesuai Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) No. B-505/I.2.12/Eku.2/02/2021, karena tidak cukup bukti dalam pasal penistaan agama, dimana para terdakwa tidak bermaksud melakukan penistaan, tapi mereka hanya melaksanakan tugasnya sebagai perawat forensik,” sebut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pematangsiantar Agustinus Wijoyo Dososeputro, didampingi Kasi Intel BAS Faomasi Jaya Laia, Kasi Pidum Muhammad Chadafi Nasution dan lainnya di kantor Kejari, Rabu (24/2).

Menurut Kajari, penghentian kasus itu dilakukan, karena ada kekeliruan Jaksa Peneliti dalam kasus itu. “Sebelum berkas perkara dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN), kami melakukan pemeriksaan ulang.”

“Jaksa Peneliti beranggapan perkara dapat diteruskan, namun kami menyatakan tidak terpenuhi bukti penistaan agama yang didakwakan kepada para tersangka. Para tersangka tidak terbukti dengan sengaja (unsur kesengajaan) untuk menista suatu agama.” ujar Kajari.

Kemudian, lanjut Agustinus, unsur lainnya berupa penghinaan di ruang publik, juga tidak terbukti. “Karena, ruang forensik (instalasi jenazah) RSUD dr. Djasamen Saragih bukan tempat umum, dimana di ruangan itu, tidak semua orang bebas untuk masuk di saat pemulasaran jenazah, sedang unsur lainnya yang dianggap tidak terbukti yakni unsur permusuhannya”

“Hingga disimpulkan, jika penistaan agama, tidak ditemukan salah satu unsur pembuktiannya, perkara dinyatakan ditutup,” sebut Agustinus.

Meski demikian, menurut Agustinus, perkara itu dapat dinaikkan kembali, jika ada bukti baru.

Pada kesempatan itu, Agustinus menyebutkan, pihaknya juga telah melakukan restorative justice pada Selasa (23/2), antara keluarga korban dengan para tersangka, namun tidak menemukan titik terang.

Seperti diberitakan, pihak Kejari Pematangsiantar telah menerima penyerahan berkas perkara empat Nakes RSUD dr. Djasamen Saragih bersama empat tersangka dari penyidik Polres Pematangsiantar pada Kamis (18/2).

Setelah melakukan pemeriksaan berkas dan pemeriksaan terhadap empat tersangka terdiri DAAY, ESPS, RS dan RESP, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menetapkan empat tersangka dalam status tahanan kota. Menurut pihak Kejari, status tahanan kota diberlakukan, agar pelayanan di RSUD dr. Djasamen Saragih tidak terganggu.(a28/C).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2