Penebangan Pohon Pinus, Polres Samosir Akan Tindaklanjuti

Penebangan Pohon Pinus, Polres Samosir Akan Tindaklanjuti
Ober Gultom Minta Dinas Kehutanan Lakukan Audit

  • Bagikan
Alat berat excavator loader menyusun gelondongan kayu Pinus ke atas truk. (Waspada/Tumpal P Sijabat)
Alat berat excavator loader menyusun gelondongan kayu Pinus ke atas truk. (Waspada/Tumpal P Sijabat)

SAMOSIR (Waspada) : Menanggapi pemberitaan dan informasi yang beredar di tengah-tengah masyarakat, terkait maraknya penebangan pohon Pinus di kawasan Danau Toba Kabupaten Samosir, yang dikhawatirkan merusak kelestarian lingkungan, Kepolisian Resor (Polres) Samosir akan menindaklanjutinya dan turun ke lapangan.

Hal ini disampaikan Kapolres Samosir AKBP Josua Tampubolon, kepada Waspada.id, Kamis (14/10) melalui pesan WhatsApp. “Terimakasih informasinya, Kepolisian akan menindaklanjuti dan turin langsung ke lapangan untuk melakukan pengumpulan data dan keterangan,” ujarnya.

                                             

Sementara itu Bupati Samosir Vandiko T Gultom, yang diminta tanggapan terkait maraknya penebangan pohon Pinus, belum memberikan jawaban.

Namun tokoh masyarakat Samosir yang juga ayahanda Bupati Samosir Ober Gultom, menanggapi maraknya penebangan pohon Pinus dan meminta Dinas Kehutanan melakukan audit perizinan dan pemeriksaan langsung. “Selain melakukan kontrol dan audit, diduga kendaraan pengangkut batang pohon Pinus melebihi muatan,” katanya.

Sebelumnya diberitakan penebangan pohon kayu Pinus di Kawasan Perbukitan Kabupaten Samosir, diduga akan mempercepat kerusakan Ekosistem Kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Danau Toba.

Selain itu, maraknya penebangan kayu Pinus akan semakin memperparah kerusakan alam di kawasan DPSP Danau Toba dan dapat mengancam Danau Toba menjadi wisata kelas dunia, tidak terwujud.

Penebangan pohon Pinus di Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, contohnya, ratusan batang pohon pinus dipotong setiap hari dan diangkut ke luar Samosir.

Menanggapi kejadian itu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara, Viktor Silaen (13/10), menyebutkan, Pemerintah Republik Indonesia mencanangkan Kawasan Danau Toba menjadi Destinasi Super Prioritas, akan tetapi keinginan itu akan sulit terwujud, jika penebangan pohon dibiarkan.

Maraknya penebangan pohon Pinus di kawasan Danau Toba karena ada kesan terjadi pembiaran pihak terkait dengan alasan kawasan hutan tersebut bukan masuk register atau hutan lindung, tapi diklaim sebagai hutan rakyat, sehingga oknum-oknum bebas melakukan penebangan.

Padahal penebangan di perbukitan Kawasan Danau Toba jelas merusak ekosistem dan dapat mengakibatkan bencana banjir dan longsor seperti yang terjadi baru-baru ini disinyalir akibat penggundulan perbukitan, selain itu maraknya penebangan kayu juga akan mempengaruhi debit air ke Danau Toba, serta sekitar kawasan Danau Toba akan terlihat gersang dan tidak indah, tapi banyak pihak saling tutup mata, sebut Viktor.

Politisi Partai Golkar itu juga mengatakan, bahwa Presiden Republik Indonesia mencanangkan pembangunan Danau Toba menjadi wisata kelas dunia, dengan mengucurkan dana Rp21 triliun untuk pembangunan infrastruktur di tujuh kabupaten sekitar Danau Toba

“Dengan perhatian Presiden yang cukup besar terhadap Danau Toba, Kepala Kepolisian Daerah Provinsi Sumatera Utara (Kapoldasu) diminta memberikan perhatian yang serius dengan menghentikan seluruh kegiatan penebangan kayu di Kawasan Perbukitan Kawasan Danau Toba dan menangkap pelaku kerusakan alam Danau Toba,” harap Victor

Sementara itu, Donal Sidabutar, salah seorang warga sekitar menuturkan bahwa kayu pinus tersebut berasal dari perbukitan yang berada di atas desa itu, kemudian dilansir ke lokasi penumpukan ini, selanjutnya dimuat ke mobil truk Colt diesel dan dibawa menuju arah Pematangsiantar melalui kapal motor penyeberangan. (cts)

Baca juga:

https://waspada.id/sumut/penebangan-pohon-pinus-marak-di-samosir-picu-kerusakan-lingkungan/

  • Bagikan