Penanganan Covid Di Binjai Diterpa Berita Hoak, Penolakan Warga, Hingga Berhasil Di Level 1 - Waspada

Penanganan Covid Di Binjai Diterpa Berita Hoak, Penolakan Warga, Hingga Berhasil Di Level 1

  • Bagikan

BINJAI (Waspada): Sejak Maret 2020 virus Covid-19 melanda negeri. Satu persatu kabupaten/kota yang tersebar dari Sabang hingga Merauke terdampak dan menimbulkan korban jiwa.

Pemerintah pusat dan daerah langsung mengambil sikap dengan membuat aturan dan kebijakan guna mencegah penyebaran virus yang mematikan tersebut.

Keluarnya berbagai kebijakan yang ditetapkan menjadi peraturan membuat warga menjerit. Sehingga terjadi protes dan kepanikan di tengah-tengah masyarakat.

Tak terkecuali di Kota Binjai. Kota kecil yang memiliki 5 kecamatan dan 37 kelurahan ini sempat mengalami kegaduhan di tengah masyarakat.

Namun, saat ini Kota Rambutan tersebut berhasil berada di level satu. Lantas, bagaimana lika-liku penanggulangan Covid-19 di Kota Binjai hingga seluruh kecamatan ditetapkan dalam zona hijau?

Untuk mengetahui hal tersebut, baru-baru ini Waspada.id menemui Kepala Dinas Kesehatan Binjai dr Sugianto di kantornya, Kecamatan Binjai Timur.

Didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Dr Indra Tarigan, dr Sugianto mengakui, penanggulangan Covid-19 saat pertama kali melanda Kota Binjai sangat menguras tenaga dan pikiran.

Diawali dengan perintah wali kota untuk membuat Posko dan terbentuk pada 20 Maret 2020 di Kantor Dinkes. Kemudian, tim yang tergabung dalam Satgas Covid-19 mulai mencari dan mendata kasus yang terjadi.

Pertama kali, sebut dr Sugianto, ditemui kasus covid di Perumahan Brahrang Indah. Temuan kasus ini membuat heboh, karena banyaknya berita hoak yang beredar pada saat itu.

“Pasien dan keluarganya diusir warga. Karena pada saat itu Covid sangat menghantui. Ketika ada kasus, akhirnya pasien dan keluarganya diusir. Kami harus koordinasi dengan tim, baik TNI/Polri maupun camat setempat untuk menangani konflik ini,” ungkap dr Sugianto.

Melihat kondisi itu, lanjut Sugianto, akhirnya diambil tindakan untuk dilakukan sosialiasi agar masyarakat tidak panik. Satu bulan berselang, didapati seorang warga Binjai Barat yang meninggal dunia positif Covid-19.

“Ini paling ekstrem, waktu pemakaman terjadi pengusiran dari warga, ambulance kami dilempar hingga kacanya pecah. Ketika itu gugus tugas tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi akhirnya ada warga bersedia pemakaman di lahan pemakaman umum mereka,” kenangnya.

Karena jenazah positif Covid mendapat penolakan, akhirnya gugus tugas mencari lahan khusus. Dan didapati di Kelurahan Tunggurono, Kecamatan Binjai Timur, dengan luas 1,5 hektar.

dr Sugianto dan drr Indra melakukan koordinasi dengan tim gugus tugas terkait penolakan jenazah terkonfirmasi covid oleh warga. (Waspada/Ria Hamdani)

Seiring berjalannya waktu, lanjut Dr Sugianto, penanganan Coivd-19 semakin intens dengan menerapkan 3M, mewajibkan seluruh rumah sakit siapkan ruang khusus pasian covid serta gencar melakukan sosialiasi sampai masyarakat memahami.

“Akhirnya masyarakat saat itu mulai paham. Bahkan masyarakat mulai terima jenazah positif covid dimakamkan di pemakaman umum. Karena kami sampaikan ke masyarakat, kalau tidak kita yang perduli siapa lagi,” urainya.

Polemik tak berhenti di situ. Gugus Tugas kembali menghadapi kesulitan ketika vaksinasi pertama kali dilakukan. Tim harus melawan berita hoak yang membuat masyarakat bahkan petugas tenaga kesehatan (Nakes) enggan divaksin.

“Saya sendiri juga dag dig dug ketika mau divaksin. Kan kami dari nakes yang pertama kali divaksin. Tapi karena tugas dan demi meyakinkan masyarakat bahwa vaksin aman, saya pasrahkan dan serahkan hidup dan mati kepada Tuhan. Sekarang kami sudah 3 kali divaksin, nyatanya kami masih hidup,” tuturnya sambil tersenyum lebar.

Selain berita hoak dan penolakan warga, Satgas Covid-19 juga menghadapi persoalan kelangkaan obat, oksigen, sulitnya mendapatkan alat pelindung diri maupun thermogun.

Hingga saat ini, ungkap dr Sugianto, penanganan Covid di Kota Binjai jauh lebih baik. Hal itu berkat dukungan semua pihak, tak terkecuali masyarakat yang sudah perduli untuk melalukan vaksinasi.

Antusias warga dalam mengikuti vaksinasi berbuah hasil. Kota Binjai yang sebelumnya berada di level 3 sekarang menjadi level 1. “Dari target yang kita tetapkan, sudah 65 persen warga mendapat vaksin,” ungkapnya.

“Kasus konfirmasi covid kita sudah nol dalam beberapa hari terakhir. Mudah-mudahan, dengan sama-sama menjaga prokes, kasus covid tidak lagi ditemukan di Kota Binjai,” tambahnya.

Menurut Sugianto, dari target 226.617 jiwa, warga yang sudah mendapatkan vaksin mencapai 65 persen. Sesuai rencana, pada Desember ini ditargetkan meningkat menjadi 70 persen.

“Kita sedikit terkendala vaksinasi lansia, karena mereka tidak mau. Sekarang kita kejar melalui vaksinasi door to door. Perlu kami sampaikan, bahwa tidak ada ditemui orang lumpuh dan meninggal dunia pasca di vaksin. Kalau flu atau demam, itu biasa,” pungkasnya.

Agar vaksinasi mudah didapat, Pemko Binjai sudah menyiapkan vaksinasi di seluruh rumah sakit, Puskesmas dan Pustu serta Mall. “Siapa yang mau vaksin datang saja ke tempat yang sudah ada. Yang pasti, vaksin sangat berdampak signifikan menurunkan penyebaran covid. Saya ingatkan lagi, meski kita di level 1, tetap ikuti prokes 5M,” imbuhnya. (a34)

Teks foto Utama : Kepala Dinas Kesehatan Kota Binjai dr Sugianto (kanan) didampingi Sekretaris Dinkes dr Indra Tarigan menerangkan penanganan Covid yang penuh tantangan. (Waspada/Ria Hamdani)

  • Bagikan