Waspada
Waspada » Pemberdayaan Pedagang Makanan Tentang Bahan Adiktif Berbahaya Untuk Makanan Menuju Produk Makanan Bahan Alami Sehat Di Tanjung Morawa
Sumut

Pemberdayaan Pedagang Makanan Tentang Bahan Adiktif Berbahaya Untuk Makanan Menuju Produk Makanan Bahan Alami Sehat Di Tanjung Morawa

MEDAN (Waspada): Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) USU, yang diketuai Prof Tulus, Vor Dipl Math, MSi, PhD melalui Pengabdian Masyarakat (Pemas) Dosen Wajib Mengabdi melalui dana Non PNBP USU telah mengucurkan dan pengabdian dengan judul: Pemberdayaan Pedagang Makanan Tentang Bahan Aditif Berahaya Untuk Makanan Menuju Produk Makanan Bahan Alami Sehat di Kecamatan Tanjung Morawa.

Pengabdian ini di ketuai oleh Dr Adil Ginting, MSc, dengan anggota Dra Lina Tarigan, Apt MS, Dr Mimpin Ginting, MS, Sabarmi Perangin-angin, SSI, MSi dan Dr Indra Masmur, SSi, MSi.

Pengabdian ini didasari bahwa masalah keamanan pangan telah menjadi keprihatinan dunia karena ratusan juta manusia menderita penyakit karena pangan yang tercemar.

Kasus keracunan makanan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, dari kasus keracunan pangan selain yang disebabkan karena mikroba, keracunan akibat bahan kimia masih sekitar seperempatnya.

Pengawet boleh ditambahkan namun yang diijinkan hanya bahan yang bersifat menghambat, bukan mematikan organisme pencemar.

Oleh karena itu, sangat penting diperhatikan zat makanan tambahan dan pengolahan bahan pangan dilakukan secara higienis.

Pengabdian ini dilakukan di Kecamatan Tanjung Morawa khususnya desa Mardisan yang terkenal sebagai daerah penjual bunga.

Selama masa pandemi Covid-19 ini desa Mardisan semakin ramai dikunjungi para pembeli bunga, selain membeli bunga biasanya mereka juga membeli makanan yang di jual di daerah ini.

Di daerah ini juga banyak aneka penjual makanan mulai dari makanan untuk sarapan pagi seperti lontong, mie balap, pecal, makanan jajanan lainnya seperti bakso, bakso bakar, bakso goreng, menjelang siang sampai malam hari berbagai macam minuman es campur, cendol yang warnanya cukup menggiurkan apalagi ketika dahaga.

Selanjutnya sampai malam hari aneka makanan masih banyak diperdagangkan mulai dari ayam penyek, siomai mie ayam dengan harga yang relatif murah dan terjangkau sehingga menarik pembeli tanpa memperhatikan bahan baku dan zat penambah makanan.

Apabila pemakaian bahan pengawet tidak diatur dan diawasi, kemungkinan besar akan menimbulkan suatu permasalahan terutama bagi konsumen.

Bahan pengawet yang diijinkan hanya bahan yang bersifat menghambat, bukan mematikan organisme pencemar.

Untuk itu dilakukan pengabdian pemberdayaan masayarakat khususnya penjual makanan tentang Tentang Bahan Aditif Berahaya Untuk Makanan Menuju Produk Makanan Bahan Alami Sehat di Kecamatan Tanjung Morawa.

Pengabdian telah dilakukan pada tanggal 25 Oktober 2020, pada salah satu warung penjual makanan yang dihadiri oleh para penjual makanan di daerah ini.

Pengabdian dilakukan dengan metode ceramah dan diskusi dengan memberikan leaflead pada peserta.

Selain itu kepada ketua kelompok pedagang makanan di di daerah ini diberikan Blender sebagai alat yang digunakan untuk mengolah jus dan berbagai jenis bumbu masalakan.

Para peserta sangat antusia dalam penyuluhan ini dengan banyaknya pertanyaan dari peserta.

Selanjutnya ketua kelompok penjual makanan di daerah ini akan memantau temannya agar tetap menjagakualitas makanan tetap sehat tanpa menambah zat adiktif yang berbahaya bagi kesehatan. (m15)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2