Waspada
Waspada » Pembentengan Kebun Di Batubara, Picu Genangan Pasang Tinggi
Headlines Sumut

Pembentengan Kebun Di Batubara, Picu Genangan Pasang Tinggi

SALAH satu titik pinggir sungai di Desa Mesjid Lama, Kec Talawi, Batubara yang telah dibenteng dan ditinggikan sebagai upaya menyelamatkan kebun dari pasang. Pembentengan Kebun, Picu Genangan Pasang Tinggi. Waspada/Iwan Has
SALAH satu titik pinggir sungai di Desa Mesjid Lama, Kec Talawi, Batubara yang telah dibenteng dan ditinggikan sebagai upaya menyelamatkan kebun dari pasang. Pembentengan Kebun, Picu Genangan Pasang Tinggi. Waspada/Iwan Has

BATUBARA (Waspada): Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara diminta meninjau kembali keberadaan perkebunan kelapa sawit yang memanfaatkan pinggir sungai, mulai dari kawasan Desa Mesjid Lama hingga Padang Genting, Kec Talawi, baik yang berada dalam kawasan hutan atau tidak karena dinilai memicu ketinggian pasang yang menghantam permukiman penduduk yang berhadapan dengan kebun.

“Kondisi ini terjadi sejak pinggir sungai ditinggikan atau dibenteng dengan tanah dalam upaya menyelamatkan areal kebun dari sasaran pasang, sehingga imbasnya ke permukiman warga,” sebut sejumlah warga Pasar Lama Labuhan Ruku Kec Talawi, kepada Waspada.id, Kamis (28/1).

Diperkirakan puluhan haktare lahan di pinggir sungai telah dimanfaatkan sebagai perkebunan, baik secara perorangan maupun perusahaan, yang semula hanya ditumbuhi tanaman pelindung sungai dari sasaran pasang, mulai jenis pohon buging, nipah dan jenis mangrove lainnya. Selain itu, kawasan pinggir sungai tersebut sudah menjadi tanah kaplingan perumahan bagi pemodal kuat.

“Pengalihan fungsi lahan di pinggir sungai ini terjadi beberapa tahun lalu sampai sekarang dengan menanam kelapa sawit dan membuka lahan kaplingan. Padahal manfaat pohon pelindung sebelumnya sangat besar menghempang debit pasang dan abrasi,” ujar Abah Adek.

Ia mengaku sedang mengumpulkan tanda tangan warga untuk meninjau keberadaan kebun kelapa sawit dan usaha kaplingan yang berada di seberang sungai uang menyebabkan anak sungai dan kawasan resapan air tertutup sehingga memicu tingginya genangan pasang yang menghantam kawasan permukiman.

Menurutnya, sebelum adanya pembentengan oleh perkebunan sawit, pasang dalam menghantam daratan tidak separah sekarang, hanya sebatas menggenangi dapur rumah warga yang berada di pinggir sungai, namun kini menjangkau jalan pasar lama serta rumah, Ruko dan perkantoran, bahkan nyaris menyentuh Jalinsum.

“Ini kerap kami rasakan jika musim pasang menggenangi permukiman dan masuk ke dalam rumah, terutama pasang di waktu pagi, kedalamannya cukup tinggi bila dibanding sore hari,” ujarnya. Selain itu warga juga terpaksa bekerja ekstra menyelamatkan perabotan rumah tangga dan barang dagangan ketempat lebih tinggi menghindari sasaran pasang.

“Memang genangan pasang tidak lama bertahan dan surut kembali ke laut, namun membuat risih dan kegelisahan bagi warga, terutama yang bermukim di pinggir sungai,” ujarnya didampingi sejumlah warga lainnya dan tokoh pemuda kecamatan.

Ketua LPM Labuhan Ruku Jhon Adek mengatakan, ketinggian genangan pasang menghantam permukiman warga menjadi salah satu faktor akibat dipicu pembentengan sisi sungai oleh pengusaha pemodal kuat dalam upaya menyelamatkan usaha mereka, sehingga pasang yang bersumber dari laut melimpah melalui pinggir sungai yang belum ditinggikan dan berekses ke kawasan permukiman.

“Di sini solusinya tidak ada lain, kecuali sisi sungai ditinggikan. Sebab di seberang sana rata-rata telah ditinggikan,” ujarnya.(a18)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2