Pemakaian Air Rendah, Perumda Tirtauli Kenakan Beban Tetap - Waspada

Pemakaian Air Rendah, Perumda Tirtauli Kenakan Beban Tetap

  • Bagikan
Rapat dengar pendapat Komisi II DPRD Kota Pematangsiantar dengan Direksi dan Dewan Pengawas Perumda Tirtauli di ruang rapat Komisi II, Jl. H. Adam Malik, Senin (1/2).(Waspada-Edoard Sinaga).

 

PEMATANGSIANTAR (Waspada): Akibat rendahnya pemakaian air bersih, Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda) Tirtauli, milik Pemko Pematangsiantar mengenakan biaya beban tetap terhadap pelanggan.

“Pasalnya, Perda mengharuskan Perumda Tirtauli tidak boleh rugi, dengan minimal untung 10 persen. Disisi lain, Perumda Tirtauli tidak memungkinkan menaikkan tarif air minum di situasi pandemi Covid-19 saat ini.”

“Hanya saja, perusahaan membutuhkan pendapatan lebih dari yang ada saat ini, untuk meningkatkan pelayanan dan untuk memenuhi amanah Perda,” jelas Dirut Perumda Tirtauli Zulkifli Lubis saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi II DPRD di ruang rapat Komisi II, Jl. H. Adam Malik, Senin (1/2).

RDP itu sekaligus sebagai sosialisasi tentang rencana pendapatan dari beban tetap tarif air minum, dimana tarif air minum yang dikenakan saat ini telah diberlakukan sejak tahun 2013 lalu.

Menurut Dirut Perumda Tirttauli, pentingnya penarikan anggaran pendapatan dari beban tetap, selain mendorong pelanggan menggunakan air minum dari Perumda Tirtauli, juga untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan.

“Saat ini, banyak pelanggan menggunakan air dari Perumda Tirtauli hanya untuk kebutuhan pokok semata. Hal itu, membuat pemakaian air dari Perumda Turtauli tidak maksimal, yang berdampak terhadap pendapatan, yakni hanya sekira 16 meter kubik per pelanggan,” sebut Dirut Perumda Tirtauli.

Menurut Dirut Perumda Tirtauli, rendahnya pemakaian air itu, banyak terjadi pada pelangga RT3 ke atas, pelanggan niaga, pelanggan unit usaha dan pelanggan industri.

“Hal itu, perlu menjadi perhatian, agar para pelanggan itu tidak mengabaikan keberadaan air minum yang disediakan Perumda Tirtauli.”

“Hingga, untuk mendorong pemakaian air itu, Perumda Tirtauli akan memberlakukan beban tetap dari tarif air minum. Dimana, untuk pelanggan kategori RT3 keatas, niaga, industri dan unit usaha, akan dikenakan beban tetap 10 meter kubik,” sebut Dirut Perumda Tirtauli.

Maksudnya, lanjut Dirut Perumda Tirtauli, meski pemakaian pelanggan kurang dari 10 meter kubik per bulannya, Perumda Tirtauli akan tetap memungut biaya beban tarif air minum sebesar 10 meter kubik.

“Jika lebih dari 10 meter kubik, akan dikenakan tarif sesuai kelebihannya per meter kubik, sesuai tarif yang sudah ditetapkan tahun 2013 lalu.”

Mengenai peningkatan pelayanan yang akan dilakukan Perumda Tirtauli, menurut Dirut Perumda Tirtauli, diantaranya untuk melakukan perbaikan terhadap pipa bocor, rehabilitasi pipa distribusi (perbaikan tekanan air), penurunan non revenue water, pembuatan distrik manajemen area (DMA) pilot project, pergantian alat ukur air (meteran air) pelanggan dan untuk pemerataan tekanan.

Terhadap berbagai penjelasan yang disampaikan Dirut Perumda itu, sejumlah anggota Komisi II menyikapinya dengan mengajukan pendapat dan pertanyaan. Diantaranya, Hendra PH Pardede, Swandi A Sinaga, Ferry SP Sinamo, Suhanto Pakpahan, Netty Sianturi dan Frans Herbert Siahaan.

Suandi A Sinaga berharap, agar Perumda Tirtauli mencari cara, agar masyarakat miskin tidak semakin sulit, seiring dengan pengenaan beban tetap. “Bagaimana caranya agar rakyat miskin tidak menjerit.”

Sementara Hendra PH Pardede mengingatkan, agar pengenaan beban tetap, benar-benar dapat meningkatkan pelayanan.

“Sebab, tahun 2013 lalu, saat tarif dinaikkan, disebut untuk meningkatkan pelayanan dan menyehatkan perusahaan, namun, pelayanan dan kondisi kesehatan Perumda Tirtauli belum maksimal.”

Mengenai berbagai pendapat dan pertanyaan itu, Dirut Perumda Tirtauli menyebutkan masyarakat (pelanggan) berpenghasilan rendah (masyarakat miskin), dalam hal ini dari kategori pelanggan RT1 dan RT2, tidak dikenakan beban tetap.

Sedang bentuk perbaikan pelayanan dan penyehatan perusahaan, menurut Dirut Perumda Tirtauli, bila beban tetap jadi dilakukan, Perumda Tirtauli akan menjalankan manfaat dari penerapan beban tetap.

“Sebab, bila penerapan beban tarif terlaksana, Perumda Tirtauli akan mendapat tambahan pendapatan sekira empatratusan juta per bulan. Dengan catatan, di masa saat ini, rata-rata pendapatan dari air per bulan sekira Rp 4,8 miliar. Dengan berlakunya beban tarif, diestimasikan, pendapatan akan bertambah menjadi Rp 5,2 miliar,” sebut Dirut Perumda Tirtauli.

Ketua Komisi II Hj. Rini Silalahi yang dihubungi usai RDP, tentang rencana Perumda Tirtauli, menyatakan hal itu sangat baik.

“Tadi, setelah diberikan pemaparan dan penjelasan, kita lihat beban tetap itu sangat baik untuk menyehatkan Perumda.”

“Sebenarnya, dari kemarin itu sudah ada, namun belum diterapkan. Kami sampaikan ke Perumda, kalau ini mau dilaksanakan, lakukan dulu sosialisasi. Mereka mengutamakan sosialisasi di DPRD dulu, lalu akan dilakukan sosialisasi di kecamatan-kecamatan,” sebut Ketua Komisi II itu.

Menjawab pertanyaan tentang aliran air minum belum bisa mengalir 24 jam, menurut Ketua Komisi II, keseragaman belum ada dan menuju ke sanalah rencana pengenaan biaya beban tetap itu.

RDP dipimpin Ketua Komisi II Hj. Rini Silalahi dan dihadiri Dirum Perumda Tirtauli Barliana Napitu, Ketua dan anggota Dewan Pengawas Perumda Tirtauli Zainal Siahaan dan Deni NR Damanik serta lainnya.(a28/C).

 

 

  • Bagikan