Waspada
Waspada » Pasca Harimau Memangsa Petani, Kini Orang Utan Memasuki Kebun
Sumut

Pasca Harimau Memangsa Petani, Kini Orang Utan Memasuki Kebun

PETUGAS memasang perangkap harimau yang memangsa petani di kawasan TNGL. Waspada/Ist
PETUGAS memasang perangkap harimau yang memangsa petani di kawasan TNGL. Waspada/Ist

BESITANG (Waspada) : Setelah seorang petani tewas dimangsa harimau di kawasan TNGL Resort Sekoci, Desa. PIR ADB, kini orang utan memasuki areal kebun karet milik warga di Desa Pardomuan Nauli, Desa Bukitmas, Kec. Besitang.

Kehadiran kera bertubuh besar ini membuat petani takut untuk menjalankan aktivitas. Beberapa waktu, seekor induk harimau bersama anaknya terlihat warga masuk ke perkampungan di Dusun Aras Napal, namun harimau ini tak sampai memangsa warga.

Sekdes Bukitmas, Musa Tarigan, dihubungi Waspada, Senin (6/4), menyatakan, terkait masalah kehadiran orang utan di kebun rambung milik warga sudah dilaporkan kepada petugas BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Sumut.

Perisitiwa tragis yang dialami seorang petani yang harus meregang nyawa karena dimangsa seekor harimau beberapa hari lalu di kawasan hutan TNGL mengundang rasa keperihatinan seorang aktivis lingkungan di Langkat, Azhar Kasim.

“Kejadian tragis ini hendaknya dapat menjadi pembelajaran yang berharga,” ujarnya sembari menambahkan, kerusakan ekosistem hutan TNGL di Langkat akibat aksi ilegal membuat kehidupan satwa, seperti harimau, orang utan, gajah, dan satwa lainnya menjadi terganggu sehingga membuat satwa ini ke luar dari zona hutan primer.

“Aksi lllegal logging dan aktivitas perambahan termasuk penyumbang terbesar kerusakan ekosistem hutan. Hal ini tentu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup berbagai jenis satwa di TNGL,” kata aktivis lingkungan di Langkat, Azhari Kasim, kepada Waspada, Selasa (7/4).

Ia mengaku prihatin, program rehabilitasi hutan yang dilakukan selama ini hasilnya masih jauh dari yang diharapkan, padahal anggaran yang dikeluarkan negara untuk memulihkan kerusakan hutan, seperti di Resort Sekoci dan Resort Sei. Lepan nilainya sangat besar.

Ironisnya lagi, kata dia, ribuan hektar pohon kayu yang sudah ditanam selama belasan tahun tidak membuat kawasan hutan yang sudah gundul menjadi hijau kembali. Malah, di kawasan yang pernah direhabisi, kini kembali ditanami warga dengan pohon kelapa sawit, rambung dan tanaman lainnya.

Menurut aktivis lingkungan itu, hal ini terjadi akibat tak adanya pengawasan berkelanjutan dari pihak terkait, serta lemahnya upaya penegakan hukum. “Sayang alokasi dana yang cukup besar, tapi gagal memulihkan kondisi hutan,” kata aktivis itu seraya mendesak agar BBTNGL benar-benar menegak hukum. (a02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2