Waspada
Waspada » Meski Pandemi, Pemasaran Kopi Arabika Sipirok Bisa Dikembangkan
Ekonomi Sumut

Meski Pandemi, Pemasaran Kopi Arabika Sipirok Bisa Dikembangkan

Bupati Tapsel Dolly Pasaribu bersama pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Tapsel menunjukkan sertifikat yang diperoleh Kopi Arabika Sipirok. Meski Pandemi, Pemasaran Kopi Arabika Sipirok Bisa Dikembangkan. Waspada/Ist
Bupati Tapsel Dolly Pasaribu bersama pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Tapsel menunjukkan sertifikat yang diperoleh Kopi Arabika Sipirok. Meski Pandemi, Pemasaran Kopi Arabika Sipirok Bisa Dikembangkan. Waspada/Ist

TAPSEL (Waspada) : Bupati Tapsel H Dolly Pasaribu mengatakan tetap optimis mengembangkan Kopi Arabika Sipirok meskipun di tengah masa Pandemi Covid 19. Menurutnya, kendala pengembangan Kopi yang telah memperoleh sertifikat Geografis tersebut adalah sistem pemasaran.

“Yang menjadi masalah dalam sistem pemasaran adalah permintaan yang belum berkelanjutan sehingga produksi masih belum bisa ditingkatkan,” ujar Dolly saat menerima audiensi pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tapsel, Selasa (15/6).

Katanya, masih ditemukan kendala dalam sistem pemasaran. Kemudian Pandemi Covid 19 juga membuat pergerakan menjadi terbatas dalam pemasaran. Padahal, kopi Arabika Sipirok telah dijadikan ekspos pada kunjungan tim dari Kementerian Perdagangan yang membahas potensi di Tapsel.

Menurut Bupati, kondisi sekarang ini justru menjadi peluang mengingat sertifikasi yang melekat pada Kopi Arabika Sipirok adalah nilai jual khusus bagi penikmat kopi di seluruh dunia, sehingga hal tersebut menjadi pintu masuk memperluas pemasaran dengan memanfaatkan teknologi.

“Kita yakin ke depan dapat mengembangkan Kopi Arabika Sipirok dengan memanfaatkan teknologi berupa media sosial atau lainnya,” ungkap Bupati.

Dalam kesempatan itu Bupati juga mengungkapkan, Pemkab Tapsel juga mengambil peran sendiri untuk memajukan kopi Arabika Sipirok dengan berkontribusi terhadap petani kopi, baik dalam pemberian pupuk, bibit, atau pemasaran produksinya.

“Kita sama-sama berjuang, dan kami meminta para penggiat kopi agar menjamin mutu dari produk itu sendiri. Yang menjadi salah satu kendala, yakni pasar harus sama-sama kita bangun dan peluang perlu kita ciptakan,” tegas Dolly.

Sebelumnya, Ketua MPIG Tapsel Suryadi mengatakan bahwa pengurus MPIG Tapsel di bentuk tahun 2015 atas inisiasi Dinas Perkebunan Sumatera Utara dan Dinas Perkebunan Tapsel. Indikasi geografis ini merupakan turunan dari UU No.20/2016 tentang merek dan indikasi geografis yang bertujuan sama seperti merek. Hanya saja, merek miliki perseorangan, sedang indikasi geografis milik komunal atau masyarakat.

Katanya, 2018 lalu mendapatkan sertifikat geografis dan dengan adanya sertifikat tersebut menunjukkan Kopi Arabika Sipirok secara kualitas sudah sama dengan kopi-kopi terbaik yang ada di Indonesia. Sedangkan daerah penghasil kopi di Tapsel terdiri dari Kecamatan Marancar, Sipirok, Angkola Timur, Arse, SD Hole dan Aek Bilah.

Kadis Pertanian Tapsel Bismar Maratua dalam kesempatan itu mengatakan, pihaknya konsisten mendukung MPIG dan dia berharap agar MPIG benar-benar dapat menjaga kualitas Kopi Arabika Sipirok sehingga ke depan pengembangan pemasaran ke mancanegara tidak terkendala. Hadir dalam audensi itu Kabag Humas dan Protokol Isnut Siregar serta Pengurus MPIG Tapsel. (a31)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2