Waspada
Waspada » Meraut Bambu, Mengejar Rp50.000
Headlines Sumut

Meraut Bambu, Mengejar Rp50.000

Kadis Koperasi dan UMKM Binjai Eka Edi Saputra melihat pekerja perempuan meraut bambu di Kelurahan Mencirim. Meraut Bambu, Mengejar Rp50.000. Waspada/ Riswan Rika
Kadis Koperasi dan UMKM Binjai Eka Edi Saputra melihat pekerja perempuan meraut bambu di Kelurahan Mencirim. Meraut Bambu, Mengejar Rp50.000. Waspada/ Riswan Rika

BINJAI (Waspada) : Meraut bambu hanya mengejar uang Rp50.000. Begitu kondisi kehidupan beberapa kaum perempuan di Lingkungan VI, Kelurahan Mencirim, Kec. Binjai Timur. Kondisi ekonomi sangat menjepit akibat dampak Covid-19.

“Suami sudah tidak kerja akibat dirumahkan,” ujar Tati, Selasa (22/9), sembari tangannya yang dibalut sarung tangan tak henti meraut bambu dengan pisau.

Menurut Tati, pekerjaan meraut bambu yang merupakan bahan kandang ayam. Untuk satu bilah bambu yang sudah ditentukan panjangnya hanya Rp10. Setiap satu kandang siap memerlukan 75 bilah bambu. Kami hanya mengerjakan tiangnya saja, sedangkan untuk bagian pengikat yang lebih besar terbuat dari kulit bambu, dikerjakan orang lain.” jelasnya.

Tati menyebutkan, ia harus bekerja sejak pagi setelah menanak nasi. ”Jika sudah mulai meraut bambu, kami tak mungkin bisa kemana-mana. Jika kami masih mengerjakan yang lain, tidak mungkin kami bisa memperoleh rautan bambu yang banyak, berarti gaji kami berkurang dari Rp50 .000 yang merupakan stok untuk belanja dapur besok harinya,” ujarnya . Begitulah setiap hari, sampai sang suami memperoleh kerja kembali.

Kadis Koperasi dan UMKM Binjai Eka Edi Saputra ketika meninjau pembuatan kandang ayam dari bambu di Kelurahan Mencirim sangat prihatin dengan pekerjaan kaum perempuan meraut bambu hanya demi mendapatkan Rp50.000.

“Kita prihatin, kita tak bisa memberikan patokan,” ujarnya. Sebab satu kandang ayam terbuat dari bambu, alatnya dikerjakan beberapa orang, barulah ada satu orang yang bertugas merangkai hingga jadi.

Sebenarnya, meraut bambu untuk kandang ayam sudah pilihan terakhir dari pada menganggur. Seperti diakui Sri, ia pernah berjualan bakso keliling, sejak pukul 10.00 pagi sampai pukul 21.00 wib, “Lakunya tak seberapa, kadangkala tak balik modal, tambah capek, mengayuh sepeda keliling,” jelasnya.

Mereka sangat berharap ada kerjaan lain yang gajinya lumayan. Tati dan Sri tidak ingin berserah kepada nasib, kerja…kerja.. yang penting dapat makan, dapat jajan untuk anak. ”Hidup ini jika terlalu dipikirkan makin pusing,” ujar Sri. (a.12/C)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2