Manager PT. BSRE Bersama 2 Anaknya Dan 3 Security Tersangka

Manager PT. BSRE Bersama 2 Anaknya Dan 3 Security Jadi Tersangka Kasus Tewasnya YAP

  • Bagikan
Kapolres Simalungun, AKBP Agus Waluyo, membeberkan kasus penganiayaan tewasnya YAP di rumah salah seorang manager PT. BSRE di Aspol Jalan Sangnaualuh P. Siantar, Rabu (30/12). Manager PT. BSRE Bersama 2 Anaknya Dan 3 Security Jadi Tersangka Kasus Tewasnya YAP. Waspada/Ist
Kapolres Simalungun, AKBP Agus Waluyo, membeberkan kasus penganiayaan tewasnya YAP di rumah salah seorang manager PT. BSRE di Aspol Jalan Sangnaualuh P. Siantar, Rabu (30/12). Manager PT. BSRE Bersama 2 Anaknya Dan 3 Security Jadi Tersangka Kasus Tewasnya YAP. Waspada/Ist

SIMALUNGUN (Waspada): Polres Simalungun menetapkan 6 orang tersangka dalam kasus tewasnya YAP, 21, warga komplek SD 2 Serbalawan, Kec. Dolok Batunanggar, Kab. Simalungun, di rumah salah seorang manager PT. BSRE Dolok Merangir, Minggu (27/12) dinihari.

Keenam orang yang ditetapkan sebagai tersangka adalah, pemilik rumah HN, 41, bersama kedua orang anaknya masih di bawah umur berusia 15 dan 16 tahun, serta tiga orang petugas security PT. BSRE berinisial HSD, 37, HS, 36, dan SAP, 21.

Dari keenam yang telah ditetapkan sebagai tersangka, 4 orang diantaranya telah dilakukan penahanan di RTP Mapolres Simalungun, sedangkan 2 orang lainnya tidak dilakukan penahanan karena masih di bawah umur.

YAP ditemukan tewas dalam kondisi wajahnya berlumuran darah dan penuh luka di belakang rumah tersangka HN. YAP diduga tewas dianiaya saat kepergok melakukan pencurian di rumah HN.

“Dalam penanganan kasus ini, kami telah membentuk tim khusus dipimpin Kasat Reskrim, dengan mengumpulkan saksi-saksi, alat bukti yang ada di TKP, kemudian keterangan dari kedokteran, akhirnya penyidik mengambil sikap kepastian hukum dengan 6 orang ditetapkan sebagai tersangka,” beber Kapolres Simalungun, AKBP Agus Waluyo  saat menggelar press release di Aspol Jalan Sangnauwaluh, Pematangsiantar, Rabu (30/12) petang.

“Keenam tersangka adalah, pemilik rumah HN, 41, bersama kedua orang anaknya masih di bawah umur berusia 15 dan 16 tahun, serta tiga orang petugas security PT. BSRE berinisial HSD, 37, HS, 36, dan YAP, 21,” sambungnya lagi.

Kapolres menjelaskan kronologisnya, bahwa sebelum kejadian pemilik rumah tersangka HN bersama keluarganya termasuk dua anaknya yang masih di bawah umur, baru saja pulang dari Medan.

Sesampainya di rumah, Minggu (27/12) sekira pukul 00.35, HN dan anaknya memergoki atau mendapati seseorang laki-laki tidak dikenal (YAP/korban) berada di dalam rumah mereka. Bahkan sewaktu dipergoki, korban sudah memakai pakaian anak pemilik rumah. Bukan hanya itu, korban juga memakai kalung milik istri HN, sehingga HN spontan berteriak “maling- maling”.

Saat diteriaki ‘maling’, YAP berusaha kabur ke belakang rumah, namun HN berhasil menangkap dengan cara merangkul YAP, dan terjadilah pergumulan antara keduanya.

Seketika itu juga dua anak HN ikut membantu menjatuhkan YAP ke lantai sehingga telentang dan dadanya ditekan HN dengan memakai dengkul kaki.

Kedua anak HN berteriak “maling’-maling” dan tak lama kemudian datang 2 orang petugas security HSD dan HS, membantu HN dan berhasil mengamankan dengan cara mengikat kedua kaki YAP dengan tali pinggang.

Saat mengikat kaki korban dengan tali pinggang, datang lagi security bernama SAP ikut membantu. Sementara, HN kembali meminta anaknya untuk mencari tali dan ditemukan tali berwarna biru dan mengikatkannya ke tubuh korban dibantu ketiga security HSD, HS dan SAP.

Meski sudah diikat, saat itu korban masih berusaha meronta berupaya kabur menyelamatkan diri, melihat itu HN memukul kepala YAP dengan telenan sebanyak 1 kali.

Tak lama kemudian datang dua orang lagi security bernama ZN dan Sts. Selanjutnya Sts memborgol korban dalam kondisi sudah tidak berdaya dalam posisi telungkup.

Karena korban sudah tidak bergerak, tersangka SAP mengecek nadi leher korban dengan cara menempelkan jari kanan, namun nadi korban sudah tidak bergerak dan diduga saat itu korban sudah meninggal dunia.

“Korban beberapa saat tidak segera diserahkan ke polisi. Ada alat bukti yang mengakibatkan korban meninggal dunia, mulai dari diikat, diborgol dan dipukul dengan telenan terbuat dari kayu keras, sehingga mengakibatkan korban meninggal di TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Dalam kasus ini, para tersangka akan dijerat dengan Pasal 338 subsider 170 ayat (2) ke-3e  KUHP dengan ancaman pidana 15 tahun penjara, ujar Kapolres.(a27)

 

  • Bagikan