Waspada
Waspada » Mahasiswa Pematangsiantar Unjuk Rasa
Sumut

Mahasiswa Pematangsiantar Unjuk Rasa

PEMATANGSIANTAR (Waspada): Puluhan mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Pematangsiantar-Simalungun mengadakan aksi unjuk rasa, Senin (6/7).

Mereka menilai buruk, kinerja Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), termasuk masalah dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos).

Mahasiswa yang mengadakan aksi unjuk rasa di gedung DPRD, Jl. Haji Adam Malik dan Posko Gugus Tugas, ruang data Setdako, Jl. Merdeka serta dipimpin Ketua GMKI selaku Koordinator Aksi May Luther Sinaga menyatakan untuk persoalan korupsi, DPRD harus segera membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk mengungkap dugaan korupsi yang dilakukan Pemko maupun oknum di Gugus Tugas.

Menurut Mau Luther, penyaluran Bansos tidak transparan dan Bansos diduga dimanfaatkan untuk kepentingan oknum tertentu serta bukan untuk kepentingan warga.

“Persoalan itu, dapat dilihat dari pembagian Bansos yang tidak tepat sasaran. Kami meminta DPRD mendengarkan keluhan warga.”

“DPRD harus membentuk Pansus dugaan korupsi Bansos,” teriak Mau Luther dalam orasinya.

Selain itu, May Luther juga menyebutkan GMKI menuntut DPRD merancang Peraturan Daerah (Perda) mengenai protokol kesehatan sebagai suatu payung hukum bagi petugas dalam menertibkan warga yang tidak patuh.

Para mahasiswa itu juga meminta Gugus Tugas, saat bekerja tidak sebatas seremonial, tapi harus dengan tindakan nyata.

Menurut GMKI, sejauh ini kinerja Gugus Tugas jauh dari harapan dan malah kehabisan ide serta energi dan itu pemicu meningkatnya pasien terpapar Covid-19.

Bukti buruknya kinerja Gugus Tugas di mata GMKI yakni kegiatan warga saat ini yang menimbulkan kerumunan dan tidak mematuhi protokol kesehatan serta jarang ditertibkan.

“Atas permasalahan itu, GMKI meminta Gugus Tugas bekerja maksimal, termasuk menertibkan hiburan malam, wahana, cafe dan rumah ibadah yang belum mendapat rekomendasi dari Gugus Tugas.”

“Penanganan Covid-19 yang dilakukan semua pihak, terutama pemerintah melalui Gugus Tugas, ternyata tidak maksimal, bahkan di luar harapan. Berbagai kebijakan dan upaya Gugus Tugas tidak sesuai ekspektasi.”

Terbukti, angka pasien positif Covid-19 terus meningkat, hingga 50 lebih pasien,” teriak May Luther dalam orasinya yang diamini mahasiswa lainnya.

Sebelum mengakhiri aksi mereka, GMKI meminta Gugus Tugas gencar melakukan sosialisasi untuk menyadarkan warga dan langkah itu bisa melibatkan unsur akademisi, tokoh budaya, tokoh agama dan organisasi masyarakat.

GMKI juga meminta Gugus Tugas memberikan subsidi bagi pelajar asal Pematangsiantar di luar daerah, tenaga medis dan biaya rapid test (uji cepat) untuk syarat perjalanan bagi pelajar asal Pematangsiantar.

Namun, saat unjuk rasa di gedung DPRD dan Posko Gugus Tugas, tidak satu pun anggota DPRD dan pejabat yang menerima GMKI.

Mereka sangat kecewa dan meluapkannya dengan menaburkan bunga di depan pintu masuk gedung DPRD dan Posko Gugus Tugas.

Tabur bunga itu mereka sebut sebagai bentuk matinya semangat DPRD dan Gugus Tugas untuk menangani sebaran Covid-19.

Para mahasiswa saat itu, hanya berhadapan dengan pagar betis Satpol PP dan kepolisian di gedung DPRD dan Posko Gugus Tugas.

“Kami datang kemari untuk berdiskusi dan kami siap membantu Gugus Tugas. Tapi, apa yang kami dapat, tidak ada penghuni Posko Gugus Tugas.”

“Kalau melalui media sosial saja kalian melakukan pencitraan, buat apa. Toh, sampai hari ini, Pematangsiantar masih zona merah dan setiap harinya bertambah yang positif Covid-19.”

“Jangan kalian buat itu permainan untuk mengeluarkan anggaran,” teriak May Luther.

Kepada Wali Kota Hefriansyah, para mahasiswa itu berteriak agar jangan hanya melakukan pencitraan saja dan berharap bisa dipilih warga lagi.

“Dan jangan hanya lewat media sosial saja menyebutkan ada pasien positif Covid-19 yang bertambah.”

Sesudah menyampaikan suara hati mereka, para mahasiswa itu berlalu dari tempat mereka unjuk rasa.(a28/C).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2