Waspada
Waspada » LPA Sidimpuan-Tapsel Dukung Proses Belajar Mengajar Di Sekolah
Sumut

LPA Sidimpuan-Tapsel Dukung Proses Belajar Mengajar Di Sekolah

LPA Sidimpuan-Tapsel
Ketua DPC LPA Padangsidimpuan-Tapanuli Selatan Friska E.K Harahap

P.SIDIMPUAN (Waspada): DPC Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Padangsidimpuan dan Kabupaten Tapanuli Selatan mendukung rencana pemerintah untuk menerapkan proses belajar mengajar di sekolah terhitung mulai Selasa (2/6) mendatang.

“Namun dengan catatan hanya untuk daerah atau wilayah yang non zona merah. Kemudian tetap terapkan protokol pencegahan Covid-19 dan satu meja hanya diisi satu siswa,” kata Ketua DPC LPA Sidimpuan-Tapsel Friska E.K Harahap, Kamis (28/5).

Menurut Friska, belajar di rumah yang diterapkan selama ini tidak sepenuhnya efektif. Siswa mengerjakan tugas yang diberikan sekolah dengan pendampingan orangtua atau wali di rumah, namun efektifitasnya hanya sementara.

Pantauan LPA Sidimpuan-Tapsel, tugas pelajaran Dalam Jaringan (Daring) lebih banyak dikerjakan orangtua, abang, kakak dan walinya. Alhasil,  murid atau siswa yang seharusnya mengerjakan tugas itu justru menjadi manja dan mengalami ketergantungan bantuan kepada orang lain untuk menyelesaikan tugasnya.

Kemudian hasil wawancara dengan beberapa siswa yang menjalani belajar di rumah, secara psikologis mereka merindukan kegiatan-kegiatan di sekolah. Bisa berkumpul dengan temannya dan bertatap wajah serta menerima pelajaran langsung dari para gurunya.

Terkait dukungan terhadap penerapan belajar di sekolah, Friska menegaskan bahwa dukungan itu hanya untuk daerah atau kawasan zona kuning dan hijau seperti Padangsidimpuan dan Tapsel.

Kemudian sistim proses belajar mengajar di sekolah wajib menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Seperti setiap guru dan murid wajib memiliki dua masker untuk dipakai sekali dalam empat jam.

Sekolah menyediakan fasilitas cuci tangan, orangtua wajib membekali makan dan minum bagi anak-anaknya. Kurangi waktu jam pelajaran dari 45 menit menjadi 25 menit,  demikian juga mata pelajaran per hari cukup empat saja.

“Selanjutnya satu meja hanya diisi satu siswa. Agar ruang belajar tercukupi, terapkan sistim masuk pagi dan siang,” jelas Friska.

Kepada pemerintah daerah, dimintanya agar melakukan penyemprotan disinfektan ke seluruh ruangan dan halaman sekolah. Juga terhadap terminal, halte dan angkutan.

Kemudian buat aturan agar setiap angkutan menerapkan psycal distancing atau minimal satu angkutan hanya diisi paling banyak delapan orang penumpang. (a05)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2