Lewat Medsos, Juni Bangkit Kembali Di Tengah Pandemi Covid-19

  • Bagikan
Juni Mustika saat menjahit seprei pesanan online. (Waspada/Edward Limbong)
Juni Mustika saat menjahit seprei pesanan online. (Waspada/Edward Limbong)

PANDEMI COVID-19 masih terus berlangsung sejak awal tahun 2020 hingga saat ini. Orang-orang kini mulai memilih hidup berdampingan dan berdamai dengan virus Corona karena memang tak ada cara lain selain melanjutkan hidup meski dalam kondisi serba keterbatasan.

Salah satunya, Juni Mustika, 41, warga Desa Sekip, Kecamatan Lubukpakam, Kabupaten Deliserdang yang sudah memulai usaha rumahan yakni menjahit seprei sejak 2016 lalu, sempat terdampak saat pandemi Covid-19.

Juni mengaku, usaha pembuatan seprei miliknya ini sempat berdampak sejak bulan maret 2020 saat pendemi Covid-19 masuk ke Indonesia hingga akhir tahun 2020 pesanan seprei sangat sepi sekali, kalaupun ada hanya dari teman-teman terdekat saja. Karena saat itu dia hanya melayani konsumen lewat offline atau tatap muka dengan konsumen langsung datang kerumahnya.

Juni diawal tahun 2021 harus mencari ide agar usaha rumahannya itu tetap berjalan, supaya perekonomian keluarga terbantu. Kemudian pada bulan Maret 2021 Juni pun menemukan titik balik.

Istri dari Surya Dharma, 45, inipun, bangkit kembali di masa pandemi dengan menemukan strategi baru yakni mempromosikan hasil buatan sepreinya lewat online dengan menggunakan media sosial (Medsos) Facebook, Instagram dan WhatsApp. Sehingga secara perlahan pesanan pembuatan seprei mulai ada.

Bahkan pesanan seprei ini tidak saja datang dari wilayah Deliserdang, namun juga dipesan oleh konsumen dari luar kota bahkan luar negeri dari negeri seberang Malaysia.

“Saya bekerja sendiri, mulai dari mengukur, memotong bahan dan menjahitnya menjadi satu paket seprei, sarung bantal dan guling. Pesanan seprei konsumen dari manapun, sesuai pesanan online maupun offline saya siapkan sesuai pesanan model dan bahan yang mereka pesan,” kata Juni kepada Waspada.id, Rabu (15/12) di kediamannya Gang Amanah, Jalan Sedar Timur, Desa Sekip.

Seprei-seprei yang dibuat Juni ini beragam bahan yang dia buat, mulai dari bahan katun jepang, katun lokal, bahan sutera dan lainnya yang disesuaikan selera konsumen dengan model dan corak yang konsumen minati.

Dengan menggeliatnya kembali pemesanan seprei rumahan miliknya, Juni kini lebih semangat lagi dalam memberikan kualitas seprei yang baik.

“Untuk harga seprei yang dijual, ya bisa dikatakan terjangkau mulai dari harga 270 ribu rupiah hingga 1,5 juta tergantung bahan yang dipesan,” sebut ibu dari Nabilah, Usnah dan Fathin ini.

Hasil tak akan mengkhianati usaha dan proses bertumbuh. Itulah yang diyakini Juni. Dia juga menyarankan bagi mereka yang ingin memulai bangkit lewat usaha selama pandemi Covid-19, pilihlah usaha yang menjadi minat supaya bisa menjalankannya dengan konsisten. Di samping itu, Juni berdoa agar Pandemi Covid-19 ini berakhir.

“Semoga pandemi Covid 19 ini secepatnya berakhir. Sehingga masyarakat yang tadinya di PHK (Putus Hubungan Kerja) dapat bekerja kembali. Dan usahan rumahan seperti saya ini dapat lancar kembali pemesanannya dan dapat maju,” tutup Juni. (WASPADA/Edward Limbong).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.