Waspada
Waspada » Legina: ‘Saya Menolak Meneken Surat Pernyataan’
Headlines Sumut

Legina: ‘Saya Menolak Meneken Surat Pernyataan’

LEGINA, 51, tampak menangis saat menceritakan masalah yang dihadapinya. Legina: "Saya menolak meneken surat pernyataan". Waspada/Asrirrais
LEGINA, 51, tampak menangis saat menceritakan masalah yang dihadapinya. Legina: "Saya menolak meneken surat pernyataan". Waspada/Asrirrais

BESITANG (Waspada): Legina, 51, seorang ibu yang puteranya tewas kecelakaan di Jalinsum Medan-Aceh Km 103 sekitar tiga pekan yang lalu, hingga kini belum juga dapat mengurus klaim ansurani ke PT Jasa Raharja (Persero).

Pasalnya, surat keterangan ahli waris, berikut surat keterangan kematian mantan suaminya hingga kini belum juga ditandatangani Kades Bukitselamat, Kec. Besitang, padahal ia sudah mengajukannya.

Malah, masalah yang dihadapi ibu rumah tangga yang tak tamat SD ini berbuntut pada pemanggilannya oleh oknum aparatur desa yang diduga merasa gerah atas komentar Legina lewat pemberitaan Waspada.id.

Menurut informasi, Legina, Jumat (9/10), dipanggil ke kantor Desa Bukitselamat. Dalam pertemuan yang dihadiri Kades, anggota BPD, tokoh masyarakat, termasuk Camat Besitang, Legina diminta untuk menandatangi surat pernyataan yang sudah dipersiapkan.

Karena Legina tidak bisa membaca, maka surat pernyataan termasuk pemberitaan Waspada.id dibacakan di hadapan forum yang hadir. Pada kesempatan itu ia diminta menandatangani pernyataan yang salah satu poinnya menyataan pemberitaan tidak benar.

Saat itu, Legina menolak menandatangani surat pernyataan sepihak yang disiapkan oknum aparat desa, karena menurut ibu dari tiga orang itu pemberitaan tersebut telah sesuai dengan apa yang disampaikannnya.

“Saya tidak mau menandatangani surat tersebut,” kata Legina saat dihubungi Waspada.id, Senin (12/10). Ibu yang masih dalam kondisi berduka atas kematian sang anak mengatakan, ia saat ini dicekam rasa ketakukan.

Sebelumnya, Senin (5/10), Legina datang ke kantor desa didampingi personel Satlantas bermaksud hendak mengurus berkas surat keterangan kematian dan surat keterangan ahli waris puteranya, Dendi Kesuma, 18, yang tewas akibat korban lakalantas.

Namun, harapannya untuk memperlancar pengurusan klaim ansuransi ke PT Jasa Raharja (Persero) sirna karena Kades tidak bersedia menandatangani formulir surat kererangan ahli waris dan surat keterangan kematian almarhum suaminya Abubakar Husen.

Kades hanya menandatangi surat perdamaian secara kekeluargaan antara Legina dengan Murdani Razali, 28, warga Dusun Suka Damai, Desa Bangka Jaya, Kec. Dewantara, Kab. Aceh Utara, selaku pihak yang terkait dalam insiden kecelakaan yang menewaskan puteranya.

Legina mengaku tidak mengerti masalah Kades dengan suami sirinya. “Itu kan masalah pribadi mereka, tidak ada hubungannya sama sekali pada saya sebagai ahli waris yang sah dari alamarhum putra saya,” imbuhnya sambil menangis tersedu-sedu.

Sebagai rakyat jelata yang hidup dalam lingkaran kemiskinan, Legina mengaku sangat kecewa, sebab haknya untuk mendapatkan pelayanan dipersulit, padahal selaku warga ia merasa berhak untuk mendapatkan pelayanan yang baik dan manusiawi.

Mantan anggota DPRD Langkat Kirana Sitepu saat dimintai Waspada komentarnya, Senin (12/18), terkait masalah ini mengaku prihatin. Ia menyampaikan kekesalannya terhadap sikap oknum pelayan yang tidak memberi pelayanan kepada masyarakat.

“Ini sangat tidak beretika, seorang pelayan publik, tapi tidak memberikan pelayanan. Mestinya, kalau pun ada masalah pribadi jangan dikutsertakan dalam urusan pelayanan publik,” katanya seraya menegaskan, masalah ini bisa dilaporkan ke Ombudsman.

Mantan Ketua Fraksi PDI Perjuangan dan Ketua Komisi B DPRD Langkat itu meminta Bupati Langkat Terbit Rencana PA supaya lebih menekankan pada jajarannya untuk mengutamakan pelayanan publik. Jika ada oknum yang mengabikan fungsinya sebagai pelayanan masyarakat, lanjutnya, maka harus diberi sanksi tegas. (a10)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2