Waspada
Waspada » Lapak Pasar Tradisional B.Kuis Banyak Kosong
Sumut

Lapak Pasar Tradisional B.Kuis Banyak Kosong

BATANGKUIS (Waspada) Karena banyaknya pedagang yang berjualan di sepanjang Jl. Utama Batangkuis Pekan hingga ke pinggiran rel kereta api, kini lapak pedagang yang disediakan pengelola pasar banyak kosong.

Hidayat Siregar, selaku karyawan CV Mojopahit yang mengelola pasar tradisional, Selasa (1/9) menjelaskan pasar tradisional ini mulai dibangun CV Mojopahit sejak tahun 1994 dan selesai tahun 1996.

Pasar ini diresmikan oleh Bupati Deliserdang ketika itu dijabat H Maymaran NS ditandai penandatanganan prasasti tepatnya 15 April 1996.

Dalam pasar ada 200 kios dan loods untuk para pedagang terdiri dari pedagang kain, ikan, daging, sayur mayur dan lainnya.

Setiap pedagang yang berjualan di dalam pasar tersebut pihak menetapkan biaya retribusi  Rp.10 ribu/hari, sedangkan pedagang lain dikenakan retribusi Rp. 8 ribu/hari ditambah Rp. 6 ribu untuk setiap lapak dan uang kebersihan.

Siregar juga mengatakan bahwa terkait pembangunan pasar tersebut, pihak CV Mojopahit melakukan MoU dengan Pemkab Deliserdang yang masanya selama 30 tahun.

Namun sejak 4 tahun terakhir, kondisi pasar tradisional kini terlihat sepi khususnya yang berada di dalam.

Pedagang yang selama ini berada di dalam memilih untuk keluar untuk menghindari kerugian karena sepi pembeli.

Masyarakatpun lebih memilih membeli di luar karena mudah mendapatkannya daripada harus masuk ke dalam pasar tersebut.

“Beginilah kondisinya sekarang lapak pedagang banyak yang kosong, begitu juga dengan kios banyak yang tutup”kata Siregar.

Dirinya sudah berulangkali menghimbau pedagang yang berjualan di luar untuk masuk kembali ke dalam pasar ini karena masih banyak tempat, namun mereka tidak mau.

Ia sangat menyayangkan sikap pedagang yang masih berada di luar, walaupun pihak Muspika bersama Satpol PP Deliserdang telah berulangkali melakukan penertiban, namun pedagang itu tetap tidak memiliki rasa takut manakala dilakukan penertiban.

Hal itu dibuktikan masih banyak pedagang yang berjualan diatas parit bahkan sampai badan jalan.

“Kita heran mengapa pedagang yang berada di luar sana sanggup menyewa lahan masyarakat dengan harga yang cukup tinggi hingga puluhan juta rupiah pertahun di bandingkan dengan pasar kita yang cukup lengkap dengan menyediakan kamar mandi”ucap Siregar.

Sementara itu, Mariani, salah seorang pedagang sayur mayur di dapan pasar mengaku kalau dirinya rela berjualan diatas parit sepanjang Jl Utama.

“Walaupun harus mengeluarkan biaya mahal namun pendapatkan kami berjualan diluar sini cukup menjanjikan dibanding bila kami harus berjualan didalam pasar yang sepi pembeli”akunya.

Hal yang sama juga diungkapkan Udin, salah seorang pedagang ikan.” Yaa kami memang lebih memilih menyewa lahan masyarakat ini daripada harus berjualan di dalam pasar karena sepi pembeli. Kalau kami pertahankan tetap jual di dalam lama-lama kami bangkrut”ucap Udin.

Ketika ditanya apakah dirinya tidak takut akan dilakukan penertiban, Udin menjawab “kalau masalah penertiban sudah biasa kami alami tetapi kita harus pandai laa manakala ada Satpol PP turun melakukan penertiban kita selamatkan dulu barang dagangan ini ke dalam rumah masyarakat kalau dah pergi kita keluarkan lagi”ucap Udin lagi.

Udin mengakui bahwa dirinya bersama pedagang lainnya bukan tidak mau masuk ke dalam pasar, tetapi ia bersama pedagang lainnya khawatir jika berdagang di dalam pembeli sepi. Kalau terus dipertahankan berjualan di dalam lama lama mereka bisa bangkrut.

Santika,35alah seorang pembeli mengaku dirinya lebih senang membeli kepada pedagang yang berjualan di sepanjang Jl Utama.

“Simpel dan mudah mendapatkan barang dagangan yang kita inginkan disini dibanding jika kita harus ke dalam pasar dan bisa menghemat waktu lagi” katanya. (a14/B)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2