Konversi Hutan Bakau Masif, Pemukiman Warga Terendam Rob

  • Bagikan
KAWASAN pemukiman di Taman Bunga, Kel. Brandan Barat, terendam banjir rob. Waspada/Ist
KAWASAN pemukiman di Taman Bunga, Kel. Brandan Barat, terendam banjir rob. Waspada/Ist

LANGKAT (Waspada): Banjir rob yang terjadi, Jumat (5/11) dinihari, merendam rumah dan pemukiman warga di daerah pesisir pantai yang ada di Kabupaten Langkat. Warga yang sedang tertidur pulas harus terbangun karena rumah mereka digenangi air.

Di pesisir Kec. Besitang, sejumlah rumah warga terendam banjir rob yang disebabkan air pasang laut dengan volume air yang sangat tinggi. Menurut pengakuan warga, banjir rob kali ini merupakan yang terbesar dibanding dengan rob yang terjadi sebelumnya.

Tidak hanya di Besitang, tapi banjir rob juga dialami masyarakat perkotaan yang tinggal di kawasan Taman Bunga, Kel. Brandan Barat, Kec. Babalan. Tinggi air dari banjir rob yang memasuki ke kawasan pemukiman hampir mencapai sebetis orang dewasa.

“Air banjir (pasang rob) pada tahun ini jauh lebih tinggi dibanding dari tahun-tahun sebelumnya,” kata sejumlah warga yang mengaku merasa khawatir pada dinihari nanti pasang rob kembali datang dengan intensitas lebih besar lagi

Menanggapi fenomena pasang rob ini, salah seorang aktivis lingkungan hidup di Langkat Azhar Kasim mengatakan, air pasang masuk ke kawasan pemukiman yang selama ini jarang terjadi akibat rusaknya kawasan hutan mangrove.

Dia mengatakan, kawasan hutan mangrove di Langkat banyak yang telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. “Alih fungsi hutan di daerah ini berlangsung secara masif,” ujar Azhar.

Tidak hanya meluluhlantakan kawasan hutan mangrove, tapi para pemodal atau pemilik perkebunan kelapa sawit membendung ribuan paluh sehingga secara alamiah menghambat penyebaran sirkulasi air laut pada saat pasang besar. Akibanya, ketika psang, air laut meluap ke pemukiman warga.

Ia menegaskan, sejauh ini aksi konversi hutan mangrove menjadi areal perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh oknum pengusaha tidak ada penindakan dari aparat terkait sehingga aksi yang merusak ekosistem ini kian hari semakin merajalela.

Ia merasa sangat ironis, masalah mangrove sudah menjadi isu global, bahkan baru-baru ini Presiden Jokowi menanam mangrove di Dubai, tapi di Indonesia sendiri, khususnya di Langkat ribuan hektar hutan mangrove telah beralih fungsi.

Untuk memulihkan kerusakan hutan di daerah pesisir, ia mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Polri, dan aparat terkait lainnya untuk konsisten melakukan langkah penegakan hukum. “Political will pemerintah sangat diharapkan untuk menjaga hutan dari kebinasaan,” tandasnya. (a10)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *