“Kamu buka aja usaha jualan bakso pentol mudah-mudahan nanti kebutuhan kamu akan terpenuhi”
Banyak orang yang berhasil bangkit dari keterpurukan ekonomi setelah beralih profesi dengan tekad dan kemauan yang tinggi, seperti yang dilakoni Agus Salim Situmorang bersama istrinya Cut Sauda, warga Kelurahan Pijorkoling, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan.
Tiga tahun setelah menikah, tepatnya pada tahun 2015, pasangan suami istri yang sudah dikarunia dua orang anak tersebut beralih profesi membuka usaha bakso pentol. Dalam kurun waktu sekira 6 tahun jualan bakso pentol, hasilnya bisa beli rumah dan kebun kelapa sawit.
Cut Sauda yang sehari-hari jualan bakso pentol di dekat pintu gerbang Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (UIN Syahada) Padangsidimpuan, Kamis (17/10) mengatakan, sebelum membuka usaha bakso pentol, ia bekerja sebagai tenaga honorer pada salah satu kantor camat di Kota Padangsidimpuan.
Sebagai pegawai honorer atau Tenaga Suka Rela (TKS), Cut Sauda yang sudah bekerja di kantor camat tersebut sejak tahun 2009, hanya diberi honor Rp300 ribu per bulan. Sedangkan suaminya, Agus Salim, pada awalnya bekerja sebagai penderes kebun karet milik orang di daerah Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Setiap pagi, dengan mengendarai sepeda motor, sang suami harus menempuh perjalanan puluhan kilo meter dari Pijorkoling, Kota Padangsidimpuan ke Batangtoru, Tapanuli Selatan untuk menderes. Keadaan itu membuat sang istri terkadang cemas akan keselamatan suaminya di perjalanan.
Cut Sauda mengungkapkan, setahun setelah menikah dengan Agus Salim, tepatnya pada tahun 2013, dikarunia seorang anak laki-laki. Sang suami yang berpenghasilan sekira Rp1 juta per bulan dari hasil menderes karet orang lain berpikir untuk beralih profesi karena kebutuhan keluarga akan meningkat dengan lahirnya si buah hati.
Agus Salim kemudian beralih profesi menjadi pekerja bangunan, sedikit merasa lega karena penghasilan dari kerja bangunan jauh lebih besar dari penghasilan menderas. Jika gaji pekerja bangunan Rp80 ribu per hari saja, tentu gaji dalam satu bulan lebih dari Rp2 juta.
Dua tahun setelah kelahiran anak pertama, tepatnya pada tahun 2015, pasangan suami istri ini dikarunia anak kedua yang diberi nama Lukman. Kehadiran anak kedua itu tentu membuat bahagia hati Agus Salim bersama istrinya. Namun di sisi lain sang suami terbayang akan masa depan anak-anaknya.
Seiring dengan berjalannya waktu, ucap Cut Sauda, suaminya mulai khawatir akan masa depan keluarganya, terutama masa depan kedua anaknya yang selalu ditinggal ketika ia pergi bekerja sebagai kuli bangunan dan Cut Sauda pergi bekerja ke kantor camat.
Sang suami yang bertekad untuk bisa membahagiakan keluarganya, terus berpikir untuk beralih profesi dari kuli bangunan ke pekerjaan lain yang lebih baik. Agus Salim kemudian menemui saudara kandungnya (abangnya) yang tergolong sukses berjualan bakso untuk meminta saran dan pendapat. Abangnya menyarankan agar Agus Salim buka usaha bakso pentol.
“Kamu buka aja usaha jualan bakso pentol mudah-mudahan nanti kebutuhan kamu akan terpenuhi” ujar Cut Sauda menirukan ucapan abang tersebut ketika memberikan saran pada suaminya.
Agus Salim yang optimis dengan usaha bakso pentol, ekonomi keluarganya bisa bangkit, meminta sang istri untuk berhenti bekerja dari kantor camat agar kedua anak mereka lebih terurus sekaligus untuk membantu Agus Salim membuat bakso pentol. “Suami saya mengatakan agar saya berhenti bekerja di kantor camat untuk membantu membuat bakso pentol,” tuturnya.
Usaha bakso pentol yang dirintis Agus Salim bersama istri pada tahun 2015 diberi nama “Bakso Bang Lukman” yang diambil dari nama anak kedua mereka, karena usaha bakso pentol tersebut dirintis hanya beberapa bulan setelah anak kedua mereka lahir yang diberi nama Lukman.
Dalam memulai usahanya, Agus Salim membeli sepeda motor Supra yang dilengkapi dengan gerobak. Suami Cut Sauda itupun berjualan bakso pentol secara keliling, dari satu sekolah ke sekolah lain, seperti di dekat pintu gerbang SD Negeri Pijorkoling, SD Negeri Salambue, SMP Negeri 8 Pijorkoling dan SMA 8 Padangsidimpuan.
Dengan cita rasa hasil racikan Cut Sauda, Bakso Bang Lukman mulai terkenal di kalangan anak sekolah sehingga banyak siswa yang menyisihkan uang jajannya untuk dapat membeli Bakso Bang Lukman saat pulang sekolah.
Melihat suaminya yang selalu berpindah-pindah tempat jualan bakso pentol, Cut Sauda khawatir usaha mereka akan menghadapi kendala sehingga ia menyarankan kepada suaminya untuk berjualan di dekat pintu gerbang UIN Syahada Padangsidimpuan. Cut Sauda yakin penghasilan usaha mereka akan lebih baik.
Saran dari sang istri tersebut, diterima suaminya, sehingga pada tahun 2020, Agus Salim berjualan bakso pentol di pinggir Jalan HT, Rizal Nurdin yang hanya berjarak puluhan meter dari pintu gerbang UIN Syahada Padangsidimpuan.
Sejak saat itu, Agus Salim dan istrinya secara bergantian melayani pembeli. Dari pagi sampai siang, sang suami yang jualan dan dari siang sampai sore, sang istri yang jualan. Kemudian setiap sore Agus Salim datang untuk menjemput istrinya sekaligus membawa gerobak bakso pentol mereka pulang.
Bakso Bang Lukman yang sudah dikenal mahasiswa UIN Syahada Padangsidimpuan dan dibanderol dengan harga Rp5 ribu satu porsi, buka mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB setiap harinya, kecuali pada hari Minggu dan hari libur, mereka tidak jualan.
Dua tahun setelah jualan bakso pentol di dekat pintu gerbang UIN Syahada Padangsidimpuan, yakni pada tahun 2022, Cut Sauda bersama suaminya mengembangkan usahanya dengan menambah dua gerobak. Namun orang dipercaya untuk jualan bakso pentol tidak amanah terutama dalam hasil penjualan sehingga tidak bertahan lama. Akhirnya Agus Salim bersama sang istri memutuskan untuk mengurus satu gerobak saja.
Ditanya tentang hasil dari jualan bakso pentol, Cut Sauda menuturkan untuk membuat sekira 300 porsi bakso pentol, dibutuhkan biaya sekira Rp1 juta. “Saya mengeluarkan modal setiap harinya Rp1 juta. Bakso satu porsi hanya Rp5 ribu. Setiap harinya, penghasilan yang didapatkan Rp500 ribu bersihnya,” ucap Cut Sauda.
Sebagian dari keuntungan jualan bakso pentol tersebut, mereka tabung untuk persiapan masa depan dan pada tahun 2019, mereka membeli kebun kelapa sawit di daerah Batangtoru. Dua tahun kemudian (2019), mereka membeli rumah di Pijorkoling.
Atas kesuksesan yang mereka raih dari usaha bakso pentol, pasangan suami istri tersebut ingin mengembangkan usaha meskipun sempat gagal. “Saya ingin mengembangkan usaha kami ini dan saya ingin membuka usaha warung bakso di sekitar pinggir jalan Sihitang,” kata Cut Sauda. Waspada.id/Mohot Lubis.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.