Waspada
Waspada » Ketua Laskar Merah Putih Bantah Lakukan Pemerasan
Sumut

Ketua Laskar Merah Putih Bantah Lakukan Pemerasan

Ketua Forum Bersama Laskar Merah Putih Bonatualunasi, Harry Jhonson Manurung bantah lakukan pemerasan atas dugaan kasus pelecehan seksual JS alias JMP. Ramsiana Gultom/Waspada.
Ketua Forum Bersama Laskar Merah Putih Bonatualunasi, Harry Jhonson Manurung bantah lakukan pemerasan atas dugaan kasus pelecehan seksual JS alias JMP. Ramsiana Gultom/Waspada.

TOBASA (Waspada) : Ketua Forum Bersama Laskar Merah Putih Bonatualunasi Harry Jhonson Manurung selaku pelapor dugaan asusila yang dilakukan JS alias JMP terhadap DM, 33, membantah tegas melakukan pemerasan terhadap JS.

Sebelumnya, JS alias JMP dilaporkan oleh Laskar Merah Putih setelah seseorang inisial DM warga Dusun Lumban Nabolak, Desa Naga Timbul Induk, Kecamatan Bonatua Lunasi, Kabupaten Tobasa telah mengalami pelecehan seksual dengan modus meminta korban mengusuk pelaku pada 11 Mei 2019 lalu.

Pada pemberitaan Waspada sebelumnya, JS mengaku tidak pernah melakukan perbuatan asusila seperti yang dituduhkan korban DM bersama Laskar Merah Putih selaku pelapor. JS merasa, pelaporan itu bertujuan memfitnah dirinya serta ada upaya pemerasan dari pelapor dan korban.

Ketua Forum Bersama Laskar Merah Putih Bonatualunasi Harry Jhonson Manurung, kepada Waspada, Kamis (6/2) saat berada di Mapolres Tobasa, dengan tegas membantah tuduhan JS tersebut.

“Tuduhan yang disampaikan JS alias JMP dalam berita sebelumnya mengatakan bahwa pelaporan kasus pelecehan ini ada hubungannya dengan pemerasan dan dendam politik sebelumnya, saya selaku pelapor membantah keras tuduhan itu. Dasar satu-satunya kita melaporkan JMP karena kasihan melihat korban yang tidak mendapatkan keadilan,” paparnya.

Rembuk Tetua Desa

Lebih lanjut, sebelum dilakukan pelaporan ke polisi, setelah kasus asusila ini disampaikan korban kepada penetua gereja dan penetua adat, JMP menjanjikan akan memberikan sejumlah uang dengan tujuan agar kasus ini tidak muncul kepermukaan.

“JMP sendiri yang menjanjikan akan memberikan uang, kalau ngak salah antara 10 juta hingga 15 juta, tapi tidak direalisasikan. Uang tersebut dijanjikan JMP setelah diadakannya Palolo Raja (hasil rembuk tetua desa) antara dua kampung yakni Lumban Sitorus dan Lumban Nabolak, disitulah JMP berjanji akan memberikan uang dimaksud,” terangnya.

Awalnya korban sendiri yang melaporkan kasus asusila ini, tapi tidak diterima dengan alasan agar pengaduannya dibuat dalam bentuk pengaduan masyarakat. Korban pulang dan kecewa, sampai akhirnya dia datang kepada Laskar Merah Putih untuk mengadukan kekecewaannya, sehingga pelaporannya kita yang buat.

Lambatnya penanganan kasus sejak dilaporkan per 09 Juli 2019 membuat pihaknya sebagai pelapor merasa kecewa. Harry meminta agar polisi serius dalam menangani kasus pelecehan ini.

“Sebagai pelapor tentu kita kecewa, dengan ini kami meminta agar pihak kepolisian serius menangani dan menuntaskan kasus ini secepatnya. Bagaimana caranya? Tentu kepolisian yang faham teknisnya,” pinta Harry.

Sebelumnya, pihaknya sudah 4 kali mempertanyakan penanganan kasus ini. Namun belum mendapatkan jawaban memuaskan dari kepolisian.

“Bersama korban kita sudah dua kali mempertanyakan penanganan kasus ini, sedangkan korban sendiri sudah dua kali, total empat kali. Jawabannya, hanya telah memanggil JS sekali untuk dimintai keterangan. Sampai sejauh ini kita tidak pernah menerima surat atau pemberitahuan terkait perkembangan pengaduan kita,” ujar Harry dengan nada kecewa.

Penelusuran Waspada, JMP merupakan salah satu tokoh adat di Tobasa yang namanya sangat dikenal masyarakat. Selain menjabat sebagai Humas BPODT saat ini, JMP juga menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Adat Dalihan Natolu (LADN) Kabupaten Tobasa, dan sebelumnya pernah menjabat sebagai anggota DPRD Tobasa Masa Bakti 2004-2009. (crg)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2