Waspada
Waspada » Ketua DPRD Taput Hama Monyet Serang Tanaman Pertanian
Sumut

Ketua DPRD Taput Hama Monyet Serang Tanaman Pertanian

Areal pertanian tanaman jeruk di Kecamatan Parmonangan – Taput habis dirusak hama monyet. (Waspada/Parlin Hutasoit)

Tarutung (Waspada): Ketua DPRD Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) Ir Poltak Pakpahan menyebutkan, ratusan hama monyet sudah sangat mencemaskan para petani karena sudah merusak tanaman pertanian di berbagai Kecamatan di daerah Taput, diduga keras akibat penebangan hutan pinus yang masih tetap berlangsung hingga saat ini.

“Dalam dua bulan terakhir ini, ratusan monyet bermunculan ke areal pertanian rakyat dan merusak tanaman jeruk, jagung, ubi milik masyarakat di Kecamatan garoga, Kecamatan pangaribuan, Kecamatan Parmonangan dan Adiankoting – Taput.”

“Sudah sangat merugikan petani. Serangan monyet ke lokasi pertanian masyarakat, sudah mendekati wilayah pedesaan dengan merusak tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, akibat binatang tersebut semakin terdesak dengan terjadinya gangguan ekosistem di hutan. Apalagi di Kecamatan garoga, saat ini masih terus terjadi penebangan hutan kayu pinus.”

Dengan begitu, ratusan monyet bahkan ribuan monyet tidak ada lagi tempatnya karena kayu pinus dibabat habis. Untuk itu, kami minta agar penebangan hutan pinus di Taput dihentikan kendatipun sang toke kayu itu memiliki surat sakti berupa ijin. Yang rugi kami masyarakat Taput.

Dalam waktu dekat DPRD Taput berkoordinasi dengan Bupati Taput serta akan menyurati pihak Kehutanan agar dihentikan dulu penebangan kayu pinus tersebut”Ujar Ketua DPRD Taput Ir Poltak Pakpahan kepada “Waspada”, Jumat (24/7 ) di Tarutung.

Poltak Pakpahan yang juga Sekretaris DPC PDI-P Taput mengatakan, gangguan ekosistem di hutan Taput sudah jelas berdampak buruk kepada masyarakat.

Sedangkan di perusak ataupun sang toke kayu hanya memikirkan untung saja. Benar mereka itu memiliki ijin, tetapi jika sudah merugikan petani maka sebaiknya dihentikan.

“Saya juga pernah ikut bersama masyarakat turun ke ladang mereka. Kita saja heran, belakangan ini kawanan monyet itu semakin bertambah banyak. Operandi monyet inipun sangat rapi, menyerupai gerak manusia. Pertama-tama hanya dua ekor yang muncul, seperti hendak mengintai situasi kebun.”

Tiba – tiba ratusan monyet liar itu menyusul dan secara membabibuta merusak dan memakan tanaman jagung, jeruk dan memakan bunting padi yang akan berbulir. Begitu juga tanaman jeruk di Kecamatan Parmonangan juga habis dirusak hama monyet Masyarakat pun sudah menjaga kebun dan sawah mereka, untuk meminimalkan serangan.

Masih dengan cara tradisionil dengan memasang jaring (perangkap), petasan, ronda malam dan membuat api unggun. Tetapi tidak dapat mengatasinya karena semakin banyak monyet tersebut bermunculan. Laporan dari masyarakat terus kita terima menyangkut serangan hama monyet ini ”ujar Poltak Pakpahan.

Untuk itu, tegas Ketua DPRD, agar penebangan hutan pinus di Taput dihentikan dulu, karena hama monyet semakin mengganas menyerang areal pertanian masyarakat dan merusak tanaman petani.

Kami minta supaya pihak Kehutanan meninjau ijin para toke kayu tersebut. Mereka sudah merusak ekosistem hutan Taput. Merugikan petani. Jangan ciptakan malapetaka di Taput, apalagi dalam situasi saat ini pandemi covid 19 yang masih menimbulkan dampak perekonomian masyarakat. Hasil pertanian rakyat anjlok”ujar Poltak Pakpahan mengakhiri.

Sementara itu, petani jeruk di wilayah Kecamatan Parmonangan – Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) juga mengeluhkan hama monyet, pemakan buah jeruk.

“Sudah tiga hari terakhir, ada mahluk memakan buah jeruk, kita perkirakan puluhan kilo sudah dimakan,”ujar Saiful dan Andrey Hutasoit kepada “Waspada” Jumat (24/7).

Tanaman jeruk berbuah itu kata Saiful usianya 3,5 tahun dan tingggal menunggu panen. Sayangnya, harapan panen perdana yang di impikannya pupus akibat ulah mahluk misterius yang memakan buah dan meninggalkan kulitnya di sekitar pohon jeruk tersebut.
“Tetangga bilang ada ratusan monyet yang sedang berkeliaran di daerah ini. Tanaman jeruk habis dibabat. Kawanan monyet itu, sangat pintar dan selalu memilih buah jeruk yang manis. Sedangkan buah jeruk yang belum matang hanya dipetik saja dan dibuang.”

“Pokoknya dirusak jika tidak bisa dimakan.Ini menjadi bukti rusaknya lingkungan sekitar. Sehingga tidak ada lagi habitat monyet di alam bebas. Semua sudah berubah menjadi hutan taman industri, ekualiptus yang membuat habitat hutan rusak,” imbuhnya.

Hal serupa juga dialami petani jeruk lainnya bermarga Simamora di desa Hutatinggi. Ia mengaku heran, akhir-akhir ini sering melihat binatang sejenis monyet masuk ke ladang miliknya.

Simamora mengungkapkan tanaman jeruknya tak jarang didatangi monyet dan memakan buah jeruknya. “Mungkin ini terjadi akibat hutan sekitar perkampungan yang sudah di tanami kayu ekualiptus milik PT. TPL (Toba Pulp Lestari). Lantas kemana hewan-hewan itu harus mencari makan,” pungkasnya.(a09)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2