Waspada
Waspada » Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Di Simalungun Masih Terus Berlangsung
Ekonomi Sumut

Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Di Simalungun Masih Terus Berlangsung

Tanaman padi di hamparan sawah milik petani di Nagori Pardomuan Nauli, Kecamatan Pemagangbandar, saat ini sedang membutuhkan pupuk untuk pertumbuhan, jelang tanaman padi mulai bunting. Foto direkam, Senin (22/2). Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Di Simalungun Masih Terus Berlangsung. Waspada/Hasuna Damanik.
Tanaman padi di hamparan sawah milik petani di Nagori Pardomuan Nauli, Kecamatan Pemagangbandar, saat ini sedang membutuhkan pupuk untuk pertumbuhan, jelang tanaman padi mulai bunting. Foto direkam, Senin (22/2). Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Di Simalungun Masih Terus Berlangsung. Waspada/Hasuna Damanik.

SIMALUNGUN (Waspada): Kelangkaan berbagai jenis pupuk di sejumlah kecamatan di Simalungun masih terus berlangsung. Sudah lebih sebulan lamanya, petani sawah sulit mendapatkan pupuk dimaksud.

Anehnya, kelangkaan tidak saja terjadi pada pupuk bersubsidi saja, pupuk non subsidi pun saat ini sudah mulai ikut-ikutan menghilang dari pasaran. Kondisi ini membuat para petani mulai resah berkepanjangan.

Sementara, pemerintah daerah dan instansi berwenang seperti tidak mau tau akan keluhan petani. Padahal saat ini petani, disejumlah kecamatan seperti Kecamatan Pematangbandar, Bandar dan Bandar Huluan, sangat membutuhkan pupuk untuk merawat tanaman padi yang berusia sekitar satu bulan.

Beberapa petani yang dijumpai di lapangan, Senin (22/2), mengeluhkan kelangkaan pupuk terutama jenis pupuk bersubsidi, Urea, SP 36, ZA dan Ponska. “Kalau kita cari di kios pengecer, yang namanya pupuk bersubsidi sudah tidak ada lagi. Kalau pun ada, harganya sudah jauh di atas harga pemerintah,” ujar Saragih, salah seorang petani di Bandar Huluan.

Akibat kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut, petani terpaksa beralih ke pupuk non subsidi, yang harganya ‘mencekik leher’. Misalnya, pupuk jenis urea, harga bersubsidi Rp95 ribu sampai Rp105 ribu per zak. Sedangkan pupuk non subsidi menjadi Rp250 ribu hingga Rp275 ribu per zak. “Inikan mencekik leher namanya,” ujar boru Sinaga, petani warga Pematangbandar.

Dikatakan, akibat kelangkaan pupuk bersubsidi, pupuk non subsidi jadi ikut-ikutan menghilang, sehingga keadaan ini menimbulkan spekulasi harga semakin tidak menentu.

Sementara, pengamatan di beberapa nagori (desa) di kawasan Kecamatan Pematangbandar, seperti Nagori Purwosari, Purwodadi, Wonorejo, Kandangan dan Pardomuan Nauli, saat ini tanaman padi petani di hamparan sawah sangat membutuhkan pupuk. Usia tanaman padi di kawasan itu bervariasi, rata-rata berumur antara dua minggu hingga satu bulan lebih.

Biasanya, dalam umur tanaman padi seperti ini sangat membutuhkan pupuk jenis Urea. Tetapi karena pupuk Urea bersubsidi langka, petani terpaksa beralih ke pupuk Urea non subsidi, meskipun harganya tiga kali lipat dari harga bersubsidi. “Walau harganya mahal, namun terpaksa dibeli demi memperjuangkan tanaman padi agar tumbuh sesuai diharapkan,” ujar Anto, petani lainnya di Nagori Purwodadi.

Bahkan Anto mengungkapkan, dia sudah capek mencari pupuk bersubsidi di kios-kios pengecer, namun tidak bisa mendapatkan pupuk dimaksud. Alasannya bukan anggota kelompok tani. Akhirnya dia membeli pupuk NPK/Mutiara yang harganya mencapai Rp600 ribu per zak.

“Kami tidak peduli, meski jarus meminjam uang dari toke untuk beli pupuk. Yang penting tanaman padi harus dipupuk biar nanti hasilnya lumayan,” ujar Anto.

Untuk mengatasi masalah kelangkaan dan tingginya harga bahan kebutuhan pertanian itu, petani mengharapkan perhatian serius dari pemerintah daerah melakukan evaluasi sistim pendistribusian pupuk dimaksud karena hilangnya pupuk dari pasaran diduga akibat ulah spekulan yang sengaja mencari keuntungan dari kesulitan yang dialami petani.

Sementara, Kadis Pertanian Simalungun Ruslan Sitepu, ketika dikonfirmasi tidak berada di kantornya. Menurut stafnya, Kadis sedang melaksanakan tugas ke lapangan.(a27)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2