Kabid KSDA P.Sidimpuan Bantah Harimau Yang Terkam Korban Tidak Mempan Dibius

  • Bagikan
Kabid KSDA Wilayah 3 Padangsidimpuan Gunawan Alja saat memberikan keterangan kepada wartawan.(Waspada/Syarif Ali Usman)
Kabid KSDA Wilayah 3 Padangsidimpuan Gunawan Alja saat memberikan keterangan kepada wartawan.(Waspada/Syarif Ali Usman)

P.SIDIMPUAN (Waspada): Kabid Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wil. 3 Padangsidimpuan Gunawan Alza membantah kabar yang beredar menyebutkan harimau yang menerkam drh Anhar tidak mempan terhadap bius yang ditembakkan saat evakuasi sehingga kejadian itu menimbulkan korban.

“Bius yang ditembakkan itu bukan seperti peluru senjata api yang langsung bereaksi, namun bius butuh 5 hingga 10 menit agar bereaksi,” ujar Gunawan Alza saat di jumpai di Kantor BKSDA Wilayah 3 di P.Sidimpuan, di Kelurahan Tobat, Kecamatan P.Sidimpuan Utara, Senin (25/4)

Katanya, ada kemungkinan harimau yang menerkam Drh Anhar Pingsan di lokasi lain usai evakuasi hewan langka yang terperangkap oleh jerat babi di Dusun Aek Pardomuan, Desa Batu Godang , Kec. Angkola Sangkunur, Tapanuli Selatan, Minggu (24/3) pagi, yang menyebabkan drh Anhar menderita luka gigitan dan cakaran di bagian lengan dan kaki,

Katanya dosis bius yang ditembakkan ke harimau tersebut adalah dosis yang akan bereaksi selama satu jam dan akan menyebabkan harimau itu tidak akan sadarkan diri selama sejam setelah bius yang ditembakkan bereaksi. Sedangkan kejadian itu merupakan gerak reflek harimau saat kena tembakan sementara bius yang ditembakkan belum sempat bereaksi.

Usai kejadian itu, ujar Gunawan, dia bersama Kapolsek dan Koramil setempat menyampaikan ke warga utamanya warga yang berada di sekitar lokasi kejadian agar selama tiga hari ke depan tidak melakukan aktivitas di kebun dan bila terpaksa berangkatlah di atas jam 08:00 dan pulang sebelum pukul 17.00.

Katanya pihak BKSDA hingga kini masih melakukan penelusuran terhadap keberadaan harimau sekali gus juga memasang perangkap, namun perangkap yang dipasang adalah perangkap milik BKSDA dan bukan perangkap seperti perangkap babi yang dipasang warga.

Sedangkan jumlah harimau di hutan Batang Toru maupun Tapsel, ujar Gunawan, hingga kini belum diketahui. Katanya saat masih melakukan pengumpulan data dan survei tentang jumlah populasi harimau di Sumatera Utara.

Secara terpisah, Bupati Tapsel H Dolly Pasaribu yang menerima informasi tentang kejadian harimau terkam Dokter Hewan saat evakuasi langsung mengunjungi RS. Metta Medika untuk memastikan penanganan terhadap drh. Anhar Lubis yang menjadi mengalami luka luka akibat terkaman harimau saat evakuasi.

Bupati datang Bersama Camat Angkola Sangkunur, Kadis Lingkungan Hidup dan Staf. Kata bupati Informasi yang dia peroleh, drh Anhar tidak perlu dirujuk ke Medan, cukup ditangani di Padang Sidempuan. Katanya saat ini yang bisa dilakukan adalah pembersihan luka sambil menunggu persiapan tiga hari ke depan untuk operasi penjahitan luka yang diperlukan.

Kepada warga Tapsel utamanya di wilayah Angkola Sangkunur dan Batang Toru, dia berpesan agar warga agar mengikuti arahan Tim BKSDA yang saat ini berada di lapangan dan sementara untuk tidak melakukan aktivitas di kebun dan jika memang harus dilakukan agar berkelompok dan membawa senjata tajam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.(a31)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.