Jalan Di Kampung Halaman Pejuang Kemerdekaan Mamang Sahala, Bertahun-tahun Tidak Diperbaiki - Waspada

Jalan Di Kampung Halaman Pejuang Kemerdekaan Mamang Sahala, Bertahun-tahun Tidak Diperbaiki

  • Bagikan
Kondisi kerusakan jalan kabupaten yang berada di depan kediaman Pahlawan Pejuang Kemerdekaan RI Sahala Muda Pakpahan di Desa Gulangan, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.Waspada/Syarif Ali Usman
Kondisi kerusakan jalan kabupaten yang berada di depan kediaman Pahlawan Pejuang Kemerdekaan RI Sahala Muda Pakpahan di Desa Gulangan, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.Waspada/Syarif Ali Usman

 

TAPSEL (Waspada): Kondisi jalan di kampung halaman Pejuang Kemerdekaan RI Letnan Satu Sahala Muda Pakpahan yang lebih dikenal Mamang Sahala, Panggulangan, Kecamatan Sipirok , Kabupaten Tapanuli Selatan sudah bertahun-tahun rusak dan tidak diperbaiki.

Kondisi jalan di kampung yang didiami pahlawan yang bergelar “Harimau Dari Tanah Sipirok” ini terlihat hanya lapisan batu pecah dan sisa Aspal Lapen (lapisan penetrasi) dan tanah yang berdebu sehingga menyusahkan pengendara.

Panjang jalan yang sangat membutuhkan perbaikan tersebut hanya sekira 4000 meter, mulai dari batas Panggulangan hingga ke Desa Saba Tolang. Namun karena letak jalan tersebut berada di tengah kedua desa yang sangat erat kaitannya dengan Mamang Sahala, sehingga menimbulkan kesan adanya pembiaran

Selain itu rumah peninggalan Letnan Sahala Muda Pakpahan yang kini didiami turunan saudara pejuang kemerdekaan tersebut terlihat tidak terawat, atap dan dinding rumah yang masih dari bahan kayu sudah mulai terlihat keropos, namun masih tetap asri dengan suasana khas pedesaannya.

Menuju desa tersebut dari Simpang Poken Salasa di Kelurahan Baringin, Kecamatan Sipirok. Kemudian sekitar 2 KM melewati jalan mulus lapisan hotmik dari Kelurahan Baringin hingga ke Kelurahan Parau Sorat yang menjadi induk dari Lingkungan Panggulangan. Namun di pertengahan Kelurahan Parau Sorat hingga Batas Panggulangan, jalan sudah mulai rusak. Selanjutnya, dari batas tersebut jalan yang akan dilalui adalah jalan rusak.

Salah seorang pelaku sejarah dan merupakan anggota Mamang Sahala dalam dalam Laskar Pejuang Sipirok atau disebut juga Angkatan Gerilya Sipirok (AGS), Imbalo Pohan, 90, waga Panggulangan yang dijumpai, Kamis (1/7) mengaku sedih melihat kondisi jalan di desanya yang hannya berjarak 4 KM dari Jalan Lintas Sumatra dan sekira 10 KM dari Pusat Kota Sipirok itu.

Namun, meskipun begitu dia tetap bangga dengan kampung halamannya yang pernah memiliki warga sehebat dan sebesar Sahala Muda Pakpahan yang akrab meraka panggil dengan sebutan Mamang Sahala dan telah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tor Simago-mago Sipirok.

Sekilas dia mengenang kehebatan pasukan yang dibentuk Mamang Sahala saat menghadang Pasukan Belanda di jembatan yang berada di Lembah Tor (gunung) Simago-mago. Katanya, pasukan sukarela tersebut mempu membunuh seluruh tentara Belanda yang diangkut lima unit truk saat menuju Sipirok dari Padangsidimpuan, padahal salah satu di antara tentara Belanda yang tewas tersebut adalah Jenderal Belanda yang bernama Spoort.

Hebatnya lagi, ujar Imbalo Pohan, Pasukan Mamang Sahala hanya berjumlah 30 orang dan hanya 5 orang yang tewas. Kabar ini sangat menggembirakan seluruh rakyat dan pejuang kemerdekaan, sehingga Mamang Sahala sangat dibanggakan warga Sipirok saat itu.

Sayangnya, ujar Imbalo, meskipun dirinya ikut dan tergabung dalam laskar, saat itu dia masih remaja belasan tahun dan belum diikutkan dalam pertempuran. Dia ditugaskan untuk menjaga logistik di markas, sehingga tidak turut dalam pertempuran penghadangan tentara Belanda yang terjadi sekira pukul 7 atau 8 pagi itu.

Menurut Imbalo, Desa Panggulangan Dan Desa Saba Tolang sangat erat kaitannya dengan Mamang Sahala, karena Desa Panggulangan adalah kampung halamannya dan Desa Saba Tolang merupakan tempat persembunyiannya.

Katanya, karena Mamang Sahala selalu diintai di rumahnya, kemudian dia bersembunyi di rumah saudara perempuannya di Desa Saba Tolang. Mereka dan warga lainnya tidak mengetahui siapa yang memberikan informasi ke pihak Belanda, sehingga keberadaan pemimpin Laskar Sipirok itu diketahui pihak lawan.

“Tiba-tiba saja rumah persembunyian itu dikepung Pasukan Belanda dan menangkap Mamang Sahala dengan ancaman senjata laras panjang. Kemudian kedua tangannya diikat dengan tali jemuran dan selanjutnya dia dibawa ke Sipirok,” ungkap Imbalo.

Setelah warga mengetahui penangkapan itu, ujar Imbalo, ratusan kaum ibu dan anak gadis dari seluruh penjuru Sipirok mendatangi kantor penahanan Mamang Sahala yang berada di pusat Kota. Mereka menuntut agar pemimpin laskar tersebut dibebaskan. Namun hal itu tidak diindahkan pasukan Belanda dan malah membawanya ke Padangsidimpuan dengan pasukan pengawalan lengkap.

Katanya, empat hari setelah penangkapan itu mereka mendapatkan kabar Mamang Sahala sudah tewas dibunuh dan dibuang Pasukan Belanda. Kabar itu secepatnya tersiar, namun mayatnya belum diketemukan .

Empat hari kemudian setelah kabar itu beredar, jasad Mamang Sahala ditemukan sekitar 30 meter dari pinggir Jalinsum Sipirok sekitar Desa Mara Gordong, kini nama desa tersebut menjadi Desa Marisi, Kecamatan Angkola Timur. Kondisi mayat sudah mulai membusuk dengan penuh luka tembakan di bagian wajah dan dada.

Pasca kematian Mamang Sahala, pasukan Laskar Sipirok bagaikan kehilangan arah karena tidak satupun anggotanya yang bisa menyamai kemampuan dan kecakapan Mamang Sahala, adapun Wakil atau tangan kanannya, Maskud Siregar dinilai kurang mampu, utamanya dalam hal membaca surat ataupun kabar dan pada akhirnya dia bersama sejumlah anggota laskar lainnya membubarkan diri.

Imbalo Pohan berharap agar para generasi mengetahui dan menghargai jasa Sahala Muda Pakpahan yang telah mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta. Selain itu dia juga berharap agar pemerintah segera memperbaiki infrastruktur umum di desa tersebut.

“Dia berjuang hingga titik darah penghabisan dan meninggal di usia muda untuk membela negara,” ujar Imbalo.

Kepala Lingkungan Panggulangan, Kelurahan Parau Sorat, Amri Harahap mengatakan dalam administrasi pemerintahan, Desa Panggulangan merupakan lingkungan atau masih bagian dari Kelurahan Parau Sorat. Status Panggulangan adalah lingkungan meskipun secara umum disebut desa.

Kata Amri, jalan kabupaten yang berada di tengah desa tersebut terakhir diperbaiki pemerintah sekitar tahun 2012 melalui program pemerintah pusat dan semenjak itu hingga kini belum pernah ada perbaikan.

Panggulangan didiami 382 jiwa yang terdiri dari 86 KK. Umumnya warga di lingkungan itu bekerja sebagai petani. Menurut Amri, Panggulangan menghasilkan padi sebanyak 150 ton dalam dua kali panen pertahun, karet sedikitnya 60 ton dan kopi 15 ton. Hasil lainnya yakni, cabe, tomat dan kacang tanah .

Katanya, setiap tahun sejak 2010, dia selalu membuat usulan perbaikan jalan itu dan juga menyampaikan pada musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan setiap tahunnya, namun hingga kini usulan tersebut belum terealisasi.(a31)

 

  • Bagikan