Waspada
Waspada » Jahe Sumut Kembali Hangatkan Pasar Ekspor Awal 2021
Sumut

Jahe Sumut Kembali Hangatkan Pasar Ekspor Awal 2021

 

TANJUNGBALAI (Waspada) : Jahe asal Sumatera Utara kembali menghangatkan pasar ekspor setelah waktu cukup lama tidak bisa masuk ke Malaysia akibat Covid-19.

Ekspor jahe milik petani di Kotamadya Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan yang diberangkatkan melalui Pelabuhan Teluknibung ini difasilitasi Kementerian Pertanian Karantina Tanjungbalai Asahan. Jahe yang dikirim ke ke negara serumpun, Malaysia ini banyaknya dua ton dengan nilai ekspor sebesar sepuluh juta rupiah.

“Dua ton jahe ini menjadi pembuka kembali eksportasi komoditas asal
sub sektor hortikultura ke negeri jiran, setelah Malaysia menutup pelabuhan lautnya sejak Maret 2020 akibat pandemi Covid-19,” kata Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Tanjungbalai Asahan, Edwar Syam, SP, MM kepada Waspada, Sabtu (23/1).

Edwar menjelaskan, berdasarkan data pada sistem perkarantinaan, IQFAST di wilayah kerjanya tahun 2019 tercatat sebanyak 62 kali kegiatan ekspor jahe total 330,2 ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp2,1 miliar tujuan Malaysia. Sementara di tahun 2020 hanya 1 kali eksportasi jahe total 3 ton dengan nilai ekonomi Rp10 juta saja.

Pemilik barang, Adianto, selaku pimpinan PT Berkat Lautan Berjaya mengakui di tahun 2020 pihaknya kesulitan mengekspor hasil pertaniannya. Selain karena kebijakan karantina wilayah atau lock down di Malaysia, jahe Sumut juga harus memenuhi kebutuhan pasokan pasar dalam negeri yang ikut melonjak di masa pandemi.

“Kebutuhan pasar domestik tahun lalu sangat tinggi, ini juga sangat membantu menyerap hasil panen jahe kami, walaupun harga sedikit di bawah harga ekspor, tapi kami cukup bersyukur,” tutur Adianto.

Nani, penanggung jawab wilayah kerja TB Asahan juga turut menambahkan bahwa seluruh komoditas jahe yang diekspor perdana di awal tahun 2021 telah melalui serangkaian tindakan karantina berupa bebas hama penyakit tumbuhan berbahaya juga bebas dari tanah.

“Sesuai aturan internasional, tanah dari negara asal tidak dapat masuk ke negara tujuan ekspor, karena tanah memiliki potensi membawa mikronorganisme berbahaya,” terang Nani.

*Pendampingan Pelaku Usaha*

Terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengapresiasi dibukanya kembali pintu ekspor komoditas jahe di negara Malaysia. Menurut Jamil, dalam menyiasati kondisi pandemi yang masih belum berakhir, Kementerian Pertanian terus melalukan perbaikan ekosistem usaha di bidang agribisnis, salah satunya dengan fasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian yang dapat dimanfaatkan baik oleh petani maupun pelaku usaha.

“Selain untuk budidaya, dapat juga untuk proses hilirisasi sehingga harga jual bisa semakin tinggi,” kata Jamil.

Selaku otoritas karantina dan sekaligus berperan sebagai fasilitator pertanian di perdagangan Internasional, pihaknya menyiapkan layanan klinik agro ekspor disetiap kantor layanan karantina. Untuk ekspor pertanian tegasnya, Karantina Pertanian telah menyiapkan ‘karpet merah’. (A22/A21)

Keterangan foto:
Waspada/Rasudin Sihotang

Petugas stasiun Karantina Pertanian Kelas 1 Tanjungbalai Asahan memeriksa jahe yang akan diekspor ke Malaysia melalui Pelabuhan Teluknibung.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2