Waspada
Waspada » Ir Metehsa Karo-Karo Bereksperimen Tanam Kentang Pakai Mulsa
Sumut Teknologi

Ir Metehsa Karo-Karo Bereksperimen Tanam Kentang Pakai Mulsa

Ir. Metehsa Karo-karo saat berada di lahan pertanian kentang yang menggunakan mulsa. Ir Metehsa Karo-Karo bereksperimen tanam kentang pakai mulsa. Waspada/Panitra Nedy
Ir. Metehsa Karo-karo saat berada di lahan pertanian kentang yang menggunakan mulsa. Ir Metehsa Karo-Karo bereksperimen tanam kentang pakai mulsa. Waspada/Panitra Nedy

TANAH KARO (Waspada): Mengefisiensi lahan dan menangkal serangan cendawan Phytophthora pada tanaman kentang di musim penghujan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Ir Metehsa Karo-Karo mencoba bereksperimen tanam kentang menggunakan mulsa.

Bila eksperimen ini berhasil, akan dirujuk menjadi bahan pertimbangan teknologi tanaman kentang yang akan ditrasformasikan kepada petani kentang di Karo saat musim Pandemi Covid-19.

Pasalnya, bercocok tanam kentang saat cuaca ekstrem, biasanya dihindari petani dengan cara menahan bibit kentang untuk diaplikasikan pada pertanaman.

Lahan tanaman kentang yang berumur hampir satu bulan menggunakan mulsa. Ir Metehsa Karo-Karo bereksperimen tanam kentang pakai mulsa. Waspada/Panitra Nedy
Lahan tanaman kentang yang berumur hampir satu bulan menggunakan mulsa. Ir Metehsa Karo-Karo bereksperimen tanam kentang pakai mulsa. Waspada/Panitra Nedy

Tentunya perlakukan seperti ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Namun melalui teknologi ini, bibit kentang yang sudah siap tanam, dapat langsung ditanam tanpa menunda waktu di musim hujan.

Hal ini disebutkannya kepada Waspada.id, Kamis (26/11) sore sepulang dinas di lokasi tanaman kentang Jln. UKA Kabanjahe.

Bercocok tanam kentang di musim penghujan, biasanya bakal mendapat tantangan besar dari serangan pengganggu tanaman, tetapi petugas teknis lapangan harus mampu mengubah tantangan itu menjadi sebagai peluang, tambahnya.

Secara teknis, pertanaman kentang di musim penghujan yang dilakukan petani konvensional, bakal menuai serangan cendawan maupun jamur pada tanaman kentang, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman terganggu dan tentunya produksi rendah.

Melalui eksperimen ini nantinya diharapkan dapat berhasil, baik hasil produksi, jumlah mata tanam maupun pengendalian serangan cendawan ataupun jamur phytophthora.

Eksperimen ini murni dari modal sendiri, namun hasilnya nanti bisa dijadikan rujukan untuk disosialisasikan bagi petani kentang di Kabupaten Karo, jelasnya.

Ir Metehsa Karo-Karo berkeyakinan, tanaman kentang itu akan berhasil dipanen dengan hasil produksi satu kilogram per batang.

Aplikasi pertanaman kentang dengan media mulsa, sangat berbeda dengan pertanian konvensional yang digeluti petani kentang pada umumnya.

Memakai mulsa, jumlah mata tanam dalam luasan satu hektar lebih banyak dibanding pertanaman kentang konvensional.

Dinas Pertanian Kabupaten Karo merekomendasikan jumlah mata tanam konvensional 20 ribu-23 ribu mata tanam per hektar. Namun pertanaman kentang menggunakan mulsa, mata tanam mencapai 28 ribu-30 ribu per hektarnya.

Dalam bercocok tanam kentang memakai mulsa, modal awal cukup besar. Termasuk tenaga kerja, penggunaan pupuk kompos dan pupuk kimia yang diaplikasikan sekaligus.

Ketika tanaman kentang sudah mulai tumbuh dan berkembang, biasanya serangan jamur phytopthora cukup gesit. Tetapi menggunakan mulsa, serangan itu dapat diminimalisir, karena spora phytopthora berasal dari tanah.

Ketika terjadi hujan, pantulan hujan ke tanah akan mengenai daun kentang bagian bawah, tetapi ketika telah menggunakan mulsa, maka media pembawa phytophthora ke daun kentang terhalang mulsa, sehingga penyakit yang ada pada tanah ini tidak naik ke daun.

Bagi tanaman kentang kelembaban harus dijaga agar tetap stabil, jika menggunakan mulsa kelembaban normal.

“Satu lagi, tanaman kentang membutuhkan air dari umur 0-45 hari. Artinya di saat pertumbuhan vegetatif kentang membutuhkan hujan, tetapi setelah pertumbuhan generatifnya, tidak perlu hujan agar pembesaran stolon tidak terganggu,” katanya

Salah satu tantangan bagi petani kentang adalah serangan phytophtora, namun jika hal ini dapat terkendali, maka petani akan merasa nyaman merawat tanaman kentang sebutnya.

Saat ini, Ir. Metehsa Karo-karo menanam kentang seluas empat hektar dan diharapkan masa panen tiba nanti pertengahan bulan Februari 2021 dan varietas kentang adalah granola kembang.

Bagi petani kentang yang mau belajar, mari kita bersama-sama belajar, bila nantinya berhasil akan diterapkan di masing-masing lahan pertanian, undangnya. (a06)

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2