Ikan Mati Akibat Air Sungai Seusirah Tercemar

Ikan Mati Akibat Air Sungai Seusirah Tercemar
Hasil Uji Organoleptik DKP

  • Bagikan
DLH dan DKP Langkat adakan pertemuan dengan nelayan pasca tercemarnya sungai yang menyebabkan ribuan biota laut mati. Waspada/Asrirrais
DLH dan DKP Langkat adakan pertemuan dengan nelayan pasca tercemarnya sungai yang menyebabkan ribuan biota laut mati. Waspada/Asrirrais

BESITANG (Waspada): Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Langkat, Rabu (13/10), mengadakan pertemuan dengan nelayan setelah sebulan lebih pasca kematian ribuan biota laut di Sungai Seusirah di Kec. Besitang.

Pertemuan yang berlangsung di aula kantor camat Besitang dihadiri antaralain, Kanit Tipidter Polres Langkat Iptu Master Purba, Wakapolsek Besitang Iptu TLP Marbun, perwakilan dari manajemen Pabrik Kelapa Sawit, (PKS) dan Ketua DPC HNSI Langkat.

                                             

Tim Teknis dari DKP Langkat, Agung dalam pertemuan itu mengungkapkan, berdasarkan hasil uji organoleptik atau pengujian ikan diambil dalam bentuk fisik, ada tiga jenis ikan yang dibedah, yakni ikan kakap, ikan alualu, dan ikan ketang surat.

Hasil organoleptik, lanjutnya, bola mata ikan cekung di mana kornea mata berwarna keabu-abuan, insang merah keputihan agak pucat, sisik tidak berkilat dan tidak berlendir, serta bagian hati setelah dibedah tampak berwarna merah kehitaman.

Hasil disimpulkan, kematian ikan diakibatkan adanya penurunan kualitas air. Menurut hasil analisa dari DKP, penurunan kualitas air diduga karena perairan telah tercemar bahan beracun. Sungai yang tercemar diperkirakan baru akan pulih minimal empat bulan.

Ketua Kelompok Nelayan Mina Berkah Rusli Daud meminta pertanggungjawabkan pihak perusahaan karena pencemaran ini sangat merugikan nelayan. Ia menyatakan rasa penyesalkannya karena dinas terkait tidak bisa mengidentifikasi sumber dari pencemaran.

“Kami tidak peduli mau berapa banyak industri atau perusahaan beroperasi di daerah ini. Tapi yang kami mau, limbah industri yang dibuang ke sungai harus bernar-benar sudah steril atau tidak berdampak pada kehidupan biota laut,” tegasnya.

Ketua DPC HNSI yang juga Ketua DPD LKLH (Lembaga Konservasi Lingkungan Hidup) Langkat Zulham Efendi mengaku sangat miris dengan kejadian ini. “Silahkan perusahaan membuat usaha, tapi ada aturan mainnya,” ujarnya seraya memohon kepada perusahaan untuk mendengarkan jeritan nelayan.

Kanit Tipiter Polres Lantkat Iptu Master Purba dalam pertamuan itu mengingatkan rekan-rekan dari PKS bagaimana mencari solusi. Ia mengaku miris setelah mendengar hasil tantkap nelayan turun setelah kejadian ini.

Iptu Master Purba mengingatkan kepada pihak PKS agar dalam melaksanakan pekerjaaan sesuai dengan SOP (standart operation prosedure) yang berlaku, termasuk dalam penanganan masalah limbah.

“Kita jangan main kucing-kucingan atau intip-intipan. Oh, ini hari Sabtu, tidak ada petugas di situlah limbah dibuang. Gak perlulah seperti itu, dosa. Bayangkan kita berbuat seperti itu pencarian orang di seputar usaha kita hancur. Ingatlah Tuhan,” ujarnya seraya meminta kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

Kabid Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Langkat, Hemat Simbolon ditemui Waspada.id seusai pertemuan untuk dimintai konfirmasinya terkait hasil uji lab mengatakan, rata-rata sample yang diambil normal semua.

“Pastinya, di situ (lokasi kejadian tercemarnya sungai-red) tidak terlalu melebihi, adapun yang melebihi baku mutu, tidak mempengaruhi matinya ikan,” ujar Hemat Simbolon.

Ketika disinggung berapa lama jarak sample air sungai yang diambil setelah kejadian, dia menjelaskan, sudah tiga hari setelah kejadian. Kemudian Simbolon mengatakan, sample baru diperiksa pada hari keempat.

Ditanya kenapa pengambilan sample ketika itu tidak segera dilakukan sehingga hasilnya bisa diharapkan lebih akurat, ia beralasan karena pada saat kejadian hari, Sabtu (11/9), yakni hari libur alias tidak bekerja. Pihaknya baru turun ke lokasi kejadian, Senin (13/9). (a10)

Baca juga:

  • Bagikan