Guru Besar USU Dan KPKK Deliserdang Lakukan Pelatihan Penyidikan Kesuburan Tanah

  • Bagikan
GURU Besar Konservasi Tanah dan Pengelolaan DAS USU, Prof Dr Ir Abdul Rauf MP bersama KPKK-Deliserdang saat melakukan pelatihan penyidikan kesuburan tanah di lapangan kepada petani pelaku utama di Kawasan Pertanian Terpadu Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deliserdang.
GURU Besar Konservasi Tanah dan Pengelolaan DAS USU, Prof Dr Ir Abdul Rauf MP bersama KPKK-Deliserdang saat melakukan pelatihan penyidikan kesuburan tanah di lapangan kepada petani pelaku utama di Kawasan Pertanian Terpadu Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deliserdang.

DELISERDANG (Waspada): Guru Besar Konservasi Tanah dan Pengelolaan DAS USU, Prof Dr Ir Abdul Rauf MP bersama Komisi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (KPKK) Deliserdang melakukan pelatihan penyidikan kesuburan tanah di lapangan kepada petani pelaku utama di Kawasan Pertanian Terpadu Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu Kabupaten Deliserdang pada Sabtu (27/11).

Pelatihan dimulai dari cara pengambilan sampel tanah di lapang, mempersiapkan sampel tanah, melakukan pengukuran kadar bahan organik dan pH tanah, menghitung kebutuhan (dosis) pupuk organik (pupuk kompos dan atau pupuk kadang) serta kapur atau dolomit yang tepat dan optimal, pembuatan bahan pengurai bahan organik alami dalam bentuk mikro organisme lokal (MOL), pembuatan pestisida organik/nabati, serta pembuatan kompos.

Pelatihan dipusatkan di Mes Desa Liang Pematang Kecamatan STM Hulu diikuti oleh kelompok tani dari Desa Liang Pematang, Liang Muda dan Desa Rumah Rih. Hadir juga Kepala Desa dari ketiga desa tersebut dan Founder of Lapakbuah.com, Ir Zein Ginting. Dari KPKK-Deliserdang hadir juga Drs M Isa Bangun.

Mengawali pelatihannya, Prof Abdul Rauf yang juga sebagai Ketua KPKK-Deliserdang menjelaskan, faktor penentu utama kesuburan tanah ada kandungan Bahan Organik Tanah (BOT) selain pH dan kandungan unsur hara. Penentu mutlaknya adalah BOT. Unsur hara yang banyak dan pH yang sesuai (5,5-6,5) pun tidak akan memberikan pengaruh baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, jika kadar BOTnya rendah (kurang dari 2,5%) apalagi sangat rendah (kurang dari 1,5%). Kadar BOT pertanian yang telah digunakan cukup lama umumnya kurang dari 2% dan untuk menentukan kadar BOT pertanian yang tepat, selain melalui analisis laboratorium, juga dapat dilakukan dengan metode pengabuan/pembakaran seperti yang dilatihkan saat ini.

“Prinsipnya contoh tanah kering udara yang telah diketahui beratnya dibakar menggunakan bahan bakar spiritus hingga diperkirakan seluruh BOTnya habis terbakar, kemudian ditimbang lagi. Selisih berat awal (sebelum pembakaran) dengan berat setelah pembakaran inilah kadar BOTnya. Dengan begitu jumlah kompos dan atau pupuk kandang yang diperlukan untuk meningkatkan kesuburan tananya dapat dihitung dengan tepat. Tanah dikatakan subur bila mengandung BOT dengan kadar 2,5%-5,0%,” lanjut Prof. Rauf.

“Pupuk organik dalam bentuk kompos dan atau pupuk kandang dapat dipenuhi melalui pembangunan unit pengolahan pupuk organik (UPPO) atau Rumah Kompos dengan menghadirkan ternak sapi, kerbau atau kambing/domba sebagai sumber pupuk kandangnya. Dilengkapi dengan mesin pencincang sampah/serasah organik dapat dengan mudah dibuat pupuk “kandang/kompos plus” (campuran pupuk kandang, kompos, urine sapi/kerbau/kambing/domba dan MOL). MOL dan pestisida organik dengan mudah dapat dibuat dengan memanfaatkan air seni kambing/domba, blenderan buah matang/busuk, induk bakteri dari isi usus ayam, ragi dan lainnya,” kata Prof Abdul Rauf yang juga sebagai Staf Ahli Rektor USU Bidang Pengabdian dan Inovasi.

Pelatihan dilanjutkan dengan pengukuran langsung BOT menggunakan metode pengabuan/pembakaran dan pengukuran pH tanah yang dipandu oleh Drs M Isa Bangun dan Sabaruddin.

Founder of Lapakbuah.com, Ir Zein Ginting dalam sambutannya menyatakan, sekitar 1000 hektar lahan di Kecamatan STM Hulu ini akan dijadikan sebagai Kawasan Pertanian Terpadu (KPT) dengan komoditi unggulan berupa tanaman hortikultura. Setiap Desa akan mengembangkan jenis tanaman yang lebih sesuai dengan potensi desanya, seperti Desa Liang Pematang ini dengan komoditi utama bawang merah, Desa Liang Muda dengan komoditi utama jahe dan cabai merah, Desa Tanjung Raja dengan Pisang Barangan, Desa Rumah Rih dengan Kelengkeng. Untuk lahan bergelombang hingga agak curam yang rawan erosi dan longsor di semua desa di Kecamatan STM Hulu ini dikembangkan pohon Salak Ponti (Salak Pondoh Tigajuhar) sehingga dapat membantu memitigasi kerusakan tanah.

Produksi salak ponti ini bahkan sudah menembus pasar eksport ke beberapa negara tetangga selain masuk ke pasar modern (super market) di Medan dan kota besar lainnya di Sumatera. Selanjutnya Zein sangat mengharapkan kehadiran USU, terutama Prof Rauf dan kawan sebagai pendamping teknis dalam pengembangan KPT ini, terutama dalam kaitan dengan optimalisasi pengelolaan dan produksi komoditi yang diusahakan. “Tim pendamping USU ini sangat penting guna mengantisipasi kegagalan, karena petani yang ikut dalam program KPT ini akan dibantu pendanaan usaha-taninya melalui KUR Pertanian dari bank Pemerintah, terutama BNI,” ujar Zein.

Kepala Desa Liang Pematang selaku tuan rumah dalam sambutannya mengharapkan, pendampingan teknis yang terus menerus dari para pakar USU dan KPKK-Deliserdang. Apresiasi yang tinggi disampaikannya kepada lapakbuah.com yang telah menginisiasi dan merealisasikan wilayah Desa Liang Pematang dan desa lainnya di STM Hulu ini sebagai KPT yang ke depannya juga akan dilengkapi dengan Rumah Kompos (UPPO), minimal 1 unit untuk setiap Desa. (cdk)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *