Waspada
Waspada » Gerilyawan Lempari Polisi Di Pematangsiantar
Headlines Sumut

Gerilyawan Lempari Polisi Di Pematangsiantar

Ratusan mahasiswa aksi demo menuntut pembatalan Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan gedung DPRD, Jl. H. Adam Malik, Kamis (8/10), d imana sempat terjadi dorong-dorongan dan lemparan batu, botol air mineral dan benda lainnya ke pihak kepolisian serta mengakibatkan personel kepolisian mengalami luka akibat lemparan batu. Gerilyawan lempari Polisi di Pematangsiantar. Waspada-Edoard Sinaga
Ratusan mahasiswa aksi demo menuntut pembatalan Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan gedung DPRD, Jl. H. Adam Malik, Kamis (8/10), d imana sempat terjadi dorong-dorongan dan lemparan batu, botol air mineral dan benda lainnya ke pihak kepolisian serta mengakibatkan personel kepolisian mengalami luka akibat lemparan batu. Gerilyawan lempari Polisi di Pematangsiantar. Waspada-Edoard Sinaga

PEMATANGSIANTAR (Waspada): Ratusan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Melawan (Gerilyawan) melempari dan dorong-dorongan dengan pihak kepolisian ketika aksi demo menolak Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) di depan gedung DPRD Kota Pematangsiantar, Jl. H. Adam Malik, Kamis (8/10) mulai siang sampai sore.

Akibat lemparan batu, botol air mineral dan benda lainnya serta dorong-dorongan itu, tiga personel kepolisian dan satu mahasiswa mengalami luka dan cedera serta satu mahasiswa diamankan.

Ratusan mahasiswa aksi demo menuntut pembatalan Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan gedung DPRD, Jl. H. Adam Malik, Kamis (8/10), d imana sempat terjadi dorong-dorongan dan lemparan batu, botol air mineral dan benda lainnya ke pihak kepolisian serta mengakibatkan personel kepolisian mengalami luka akibat lemparan batu. Gerilyawan lempari Polisi di Pematangsiantar. Waspada-Edoard Sinaga
Ratusan mahasiswa aksi demo menuntut pembatalan Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan gedung DPRD, Jl. H. Adam Malik, Kamis (8/10), d imana sempat terjadi dorong-dorongan dan lemparan batu, botol air mineral dan benda lainnya ke pihak kepolisian serta mengakibatkan personel kepolisian mengalami luka akibat lemparan batu. Gerilyawan lempari Polisi di Pematangsiantar. Waspada-Edoard Sinaga

Tiga personel kepolisian dari Polres Pematangsiantar mengalami luka dan cedera terdiri Bripka Junias Benget Simbolon yang bertugas di Subbag Humas, mengalami luka di kepala, Aiptu Jimi Siman mengalami luka di jari jempol sebelah kiri dan Aiptu Joni Purba mengalami bengkak di pundak sebelah kiri.

Sementara, mahasiswa yang mengalami luka yakni Rocky yang mengalami luka di mata, sedang mahasiswa yang sempat diamankan dan akhirnya dilepas pihak kepolisian yakni Rangga.

Lemparan dan dorong-dorongan dengan pihak kepolisian terjadi ketika mahasiswa bergerak dengan berjalan kaki dari kampus masing-masing menjelang siang dan berkumpul di depan gedung DPRD.

Namun, ketika para mahasiswa yang dikordinir Dopasef, Sandi Yuliandika dan lainnya tidak bisa masuk ke halaman gedung DPRD, karena pintu gerbang masuk dan keluar ditutup serta personel kepolisian dari Polres sudah menghadang di depan pintu gerbang.

Ratusan mahasiswa aksi demo menuntut pembatalan Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan gedung DPRD, Jl. H. Adam Malik, Kamis (8/10), d imana sempat terjadi dorong-dorongan dan lemparan batu, botol air mineral dan benda lainnya ke pihak kepolisian serta mengakibatkan personel kepolisian mengalami luka akibat lemparan batu. Gerilyawan lempari Polisi di Pematangsiantar. Waspada-Edoard Sinaga
Ratusan mahasiswa aksi demo menuntut pembatalan Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan gedung DPRD, Jl. H. Adam Malik, Kamis (8/10), d imana sempat terjadi dorong-dorongan dan lemparan batu, botol air mineral dan benda lainnya ke pihak kepolisian serta mengakibatkan personel kepolisian mengalami luka akibat lemparan batu. Gerilyawan lempari Polisi di Pematangsiantar. Waspada-Edoard Sinaga

Awalnya, para mahasiswa itu masih meminta dengan baik agar mereka diperbolehkan masuk ke halaman gedung DPRD, seraya berorasi menyampaikan aspirasi dan tuntutan mereka dan dibarengi dengan teriakan ‘DPR goblok, DPR goblok, DPR goblok.’

Namun, pihak kepolisian tetap bertahan di depan pintu gerbang dan pintu gerbang tidak dibuka. Akhirnya, para mahasiswa itu mulai beraksi dan berusaha masuk melalui pintu gerbang. Namun, pihak kepolisian menghadang mereka, hingga dorong-dorongan terjadi. Kerena, pihak kepolisian tetap bertahan, para mahasiswa itu akhirnya mundur dan kembali berorasi dan meneriakkan berbagai kekesalan mereka.

Mahasiswa yang melakukan aksi semakin bertambah, hingga pihak kepolisian menambah kekuatan dengan mendatangkan pasukan Brimob Subden 2B Pematangsiantar. Namun, para mahasiswa itu terlihat tidak gentar dan meminta agar diperbolehkan masuk ke halaman gedung DPRD. Pihak kepolisian tetap bertahan di depan pintu gerbang, hingga para mahasiswa itu kembali berusaha masuk dengan mendorong barisan polisi.

Dorong-dorongan itu hampir menumbangkan pintu gerbang DPRD, namun dorongan para mahasiswa itu akhirnya dapat diatasi dan aksi dorong-dorongan berhenti.

Ketiga kalinya, para mahasiswa itu kembali berupaya masuk ke dalam gedung DPRD dan terjadi lagi dorong-dorongan. Saat itulah lemparan batu, air mineral dan benda lainnya dari arah para mahasiswa itu melayang ke arah pihak kepolisian. Bripka Junias Benget Simbolon yang sedang mengabadikan aksi mahasiswa itu dengan naik ke atas tiang pintu gerbang, terkena lemparan batu di kepalanya dan mengeluarkan banyak darah.

Kapolres Pematangsiantar AKBP Boy Sutan Binanga Siregar yang memimpin pengamanan aksi mahasiswa itu membenarkan ada tiga personel kepolisian yang mengalami luka dan cedera dan terpaksa mendapat perawatan di klinik Mapolres. Sementara, mahasiswa yang sempat diamankan, menurut Kapolres sudah dilepas.

Menurut Kapolres, ada 300 personel dari Polres dan Brimob yang dikerahkan untuk mengamankan aksi mahasiswa itu. Meski jumlah personel pengamanan cukup besar, Kapolres tetap mengingatkan agar jajarannya tidak terpancing. “Mereka semua adik-adik kita, saudara-saudara kita. Jadi, jangan terpancing.”

Mengenai lemparan ke pihak kepolisian, Dopasef menegaskan aksi lempar-lemparan bukan berasal dari kawan-kawan mereka yang tergabung dalam Gerilyawan. “Tapi, itu tadi, massa aksi terlalu euphoria, kawan-kawan dorong mendorong, ada yang masuk dari barisan belakang itu, kita gak tahu siapa, belum teridentifikasi, main lempar-lempar, hingga kerusuhan mulai terjadi.”

Berdasarkan pantauan, guna menghindari hal-hal lainnya yang tak diinginkan terjadi, para mahasiswa itu berangsur membubarkan diri dari lokasi aksi. Sebelum massa bubar, tampak di lokasi aksi, Ketua DPRD Pematangsiantar Timbul M Lingga ikut diguyur hujan, yang turun setelah sore, namun para mahasiswa itu tidak mau mendengar Ketua DPRD itu berbicara.

Mengenai aspirasi dan tuntutan para mahasiswa itu yang disampaikan melalui orasi dan selebaran yakni menolak Omnibus Law yang mereka sebut UU Cilaka (Cipta Lapangan Kerja), karena sangat jauh berbeda dibandingkan sebelum diterbitkannya RUU Cipta Kerja, antara lain berkurangnya waktu istirahat dan cuti.

Kemudian, bentuk pengupahan berdasarkan satuan hasil dan waktu, berkurangnya uang penggantian hak, dihapusnya ketentuan pidana bagi perusahaan, semakin besarnya peluang perusahaan untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan outsourcing.

Selain itu, status kerja Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dihapus, waktu kerja lembur diperpanjang, memperbesar kemungkinan perusahaan mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (TKA), semakin mudahnya pengurusan Amdal, hingga berpotensi memperbesar kerusakan lingkungan hidup.

Karena itu, para mahasiswa yang tergabung dalam Gerilyawan menuntut empat poin yakni membatalkan Omnibus Law, mosi tidak percaya, mensahkan RUU PKS dan menghentikan represifitas aparat terhadap demonstran. Gerilyawan juga mengundang seluruh elemen masyarakat untuk turut serta dalam mengawal pembatalan Omnibus Law.(a28/C).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2