Gerak NNB Tapanuli Selatan Lestarikan Lingkungan

  • Bagikan

AIR sungai meluap menerjang pemukiman dan menyisakan genangan berhari-hari. Anak-anak tak bisa bersekolah dan orangtua mereka sibuk mengumpul sisa harta benda yang tersisa. Makan minum hanya berharap bantuan pemerintah dan dermawan.

Areal pertanian tak luput dari amukan banjir. Sawah dan kebun yang menjadi harapan penopang kebutuhan hidup sehari-hari untuk beberapa bulan ke depan, sudah rusak dan gagal panen.

Saat banjir menerjang, para muda mudi tampil terdepan memberi pertolongan. Bantuan tenaga dari pemerintah belum terharapkan saat itu, karena masih ada proses pelaporan dan tindaklanjutnya.

Ini gambaran di Kabupaten Tapanuli Selatan pada saat pemukiman sekitar sungai diterjang banjir. Seperti di Kelurahan Rianiate dan Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, pada saat Sungai Batangtoru meluap.

Juga di Kecamatan Batangtoru dan Muara Batangtoru saat Sungai Aek Garoga meluap. Demikian juga warga Kecamatan Angkola Selatan pada saat Sungai Batang Salai meluap. Tak terkecuali warga Kecamatan Angkola Barat yang bermukim di pinggir sungai.

Kondisi ini menjadi perhatian serius Naposo Nauli Bulung (NNB) Tapanuli Selatan yang kepengurusannya terbentuk dan dilantik tahun 2019. Diketuai Riski Abadi Rambe dengan Sekretaris Andri Febriansyah dan Bendahara Zufri Helmi Harahap.

“Sedih melihat warga yang setiap tahun menghadapi bencana banjir luapan sungai. Ada apa dengan sungai kita ? Apa langkah mencegah ini?” kata Riski mengawali perbincangan dengan waspada.id, Jumat (7/12/2022).

Pengurus NNB Tapsel berembuk mencari solusi. Bagaimana agar seluruh anggota yang jumlahnya mencapai 50 ribuan orang itu bisa berperan meminimalisir kejadian bencana banjir dan tanah longsor di Tapsel.

Riski menjelaskan, NNB adalah wadah berkumpul pemuda dan pemudi di setiap kelurahan dan desa. Naposo (laki-laki) dan Nauli (perempuan) yang berusia 19 tahun ke atas, secara otomatis sudah termasuk bagian dari NNB.

NNB ini bagian dari perangkat adat secara turun temurun. Dalam istilah lokal, NNB merupakan jagar-jagar atau pagar ni huta (pagar bagi kampung tempat tinggalnya). Kearaifan lokal inilah yang selanjutnya diberdayakan dalam mitigasi dan penanganan bencana.

“Kita telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapsel. Hasilnya, saat ini kita sedang menjalankan program sosialisasi serta edukasi kebencanaan bagi masyarakat. Beberapa Desa Tangguh Bencana terbentuk berkat kerjasama ini,” jelas Riski.

BAMBU
Dalam rangka pelestarian lingkungan dan pencegahan bencana, NNB Tapsel menjalankan program budidaya dan penanaman tiga jenis tumbuhan; bambu, vertiver dan pohon waru. Di samping itu telah ada program lubuk larangan dan penanaman pohon nangka.

Selain vetiver, NNB Tapsel juga membudidayakan bambu untuk pencegahan bencana dan waru untuk penghijauan. (waspada.id/Sukri Falah Harahap)

Bambu, sebut Riski, memiliki akar serabut yang kokoh menggenggam tanah. Ditanam di pinggiran sungai sebagai upaya menghentikan abrasi dan sekaligus membentengi luapan air sungai. Selain itu tanaman ini juga memiliki nilai ekonomis.

“Kita budidayakan bambu rebung dan bambu kuning. Nantinya akan ditanami di titik-titik rawan abrasi dan yang menjadi sumber aliran luapan sungai menuju pemukiman dan lahan pertanian,” katanya.

Saat ini telah dibudidayakan 500 bibit dan sudah siap tanam. Yakni 150 bambu rebung di Desa Sisundung Kecamatan Angkola Barat dan 100 di Kelurahan Bintuju Kecamatan Angkola Muaratais.

Kemudian 250 bibit bambu kuning siap tanam di Kelurahan Sayurmatinggi Kecamatan Sayurmatinggi. Diperkirakan 500 bibit ini akan mampu menutupi 1.750 meter kawasan pinggir sungai yang rawan abrasi dan menjadi sumber banjir.

“Bambu, pada saat kecil, rebungnya dapat diambil dan diolah menjadi makanan. Setelah bambu besar, bisa dijadikan kerajinan tangan. Artinya, selain sebagai pelindung juga punya nilai ekonomis,” jelasnya.

VETIVER
Tumbuhan jenis rumput ini bukanlah tanaman khas Tapsel, tetapi sengaja didatangkan dari Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Batangnya tumbuh maksimal sampai 1,5 meter, tetapi akar serabutnya sangat lebat dan mampu tumbuh sampai 2 meter ke dalam tanah.

Selain mampu mencegah kejadian longsor, akar vetiver memiliki manfaat lain seperti obat, penjernih air dan pupuk bagi tanah. Proses pembibitan sampai dengan siap tanam butuh waktu sekitar tiga pekan.

“Untuk meminimalisir bencana longsor dan banjir, BPBD Tapsel merekomendasikan penanaman vetiver di zonasi-zonasi rawan longsor seperti di lereng bukit dan pinggiran sungai,” kata Riski.

Karena itu, dalam dua pekan terakhir ini NNB sedang membudidayakan vetiver di Kilometer 7 Desa Parsalakan, Kecamatan Angkola Barat atau seratusan meter dari gapura batas Tapsel-Padangsidimpuan.

Bibitnya dibeli dari Bogor dengan jumlah 500 batang. Namun karena faktor tak terduga, selama proses pengiriman dan penyesuaian suhu, jumlah yang terselamatkan dan dibibitkan tinggal sekitar 300.

WARU
Tanaman jenis pohon ini berfungsi sebagai tumbuhan pelindung. Cocok ditanam di pinggir jalan. Memiliki karakter tumbuh cepat, efektif dan lebih mudah ditanam. Pemeliharaan juga tidak sulit.

“Bibitnya kita budidayakan di Kecamatan Muara Batangtoru. Kita rencanakan tanam di pinggir jalan mulai dari Kecamatan Sipirok sampai ke Arse, Saipar Dolok Hole dan Aek Bilah,” ujarnya.

Kenapa ditanam di sana ? Karena ruas jalannya cukup panjang dan pohon pelindung di pinggir jalan sangat kurang. NNB menanam pohon waru bertujuan untuk penghijauan dan penganekaragaman jenis tanaman baru di kawasan itu.

“Memperindah kiri kanan jalan, sebagi tempat berlindung pada saat terik matahari, juga sekaligus penghijauan dan penganekaragaman jenis tanaman baru di wilayah Sipirok Narobi,” kata Riski.

Selain bambu, vetiver dan waru, NNB Tapsel juga sebelum ini telah melaksanakan program penanaman pohon nangka di 15 kecamatan se Kabupaten Tapanuli Selatan. Di daerah ini, nangka tergolong dalam kategori tumbuhan raja.

‘Sejak tahun 2018, kita telah tanam 800 bibit nangka dan akan terus dilanjutkan. Kenapa nangka ini sangat penting ? Karena dalam setiap acara, baik itu pesta maupun kemalangan, nangka selalu menjadi masakan khas masyarakat kita,” jelasnya.

Dalam rangka menjaga biota air sungai, NNB Tapsel menerapkan program lubuk larangan di aliran sungai. Telah dibentuk kelompok-kelompok masyarakat yang bertugas menjaga dan memelihara ikan sekaligus tumbuhan yang ada di pinggir sungai.

PENDANAAN
Menjalankan seluruh programnya, NNB Tapsel menggunakan biaya yang bersumber dari partisipasi sejumlah pihak. Artinya, tidak ada bantuan hibah pemerintah, hanya andalkan kepedulian berbagai pihak.

Dalam rangka pelestarian lingkungan, NNB sampai saat ini baru bekerjasama dengan satu perusahaan saja yaitu PT. Agincourt Resources (AR) selaku pengelola Tambang Emas Martabe di Batangtoru.

“Sistem kerjasamanya berbentuk sinergitas. NNB Tapsel dan Agincourt Reosurces memiliki visi yang sama dalam pelestarian lingkungan,” tutup Riski Abadi Rambe. (a05)

Keterangan Gambar Utama : KETUA NNB Tapsel Riski Abadi Rambe dan ahli pelihara tanaman Armansyah Nasution, tunjukkan bibit vetiver berusia 10 hari yang sedang dalam proses budidaya. (waspada.id/Sukri Falah Harahap).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.